Cinderella Gila

Cinderella Gila
Keterlaluan. Don't you think?


__ADS_3

Seluruh anak buah Ashley, beserta dirinya, langsung menundukkan kepalanya begitu sosok Anthony terlihat dari balik lift.


Melihat papanya kini muncul di hadapannya, Ashley teringat dengan Vincent.


Ia berpikir, mungkin karena ia telah kembali, maka papanya juga kembali? Kalau begitu, apa alasan papanya terpanggil ke sana?


"Lagi ada perayaan?" Tanya Anthony memotong lamunan Ashley saat melihat seseorang dengan wajah babak belur namun banyak orang berkumpul di sana.


"Hanya masalah kecil, Pak. Anda tidak perlu khawatir." Jawab Ashley mengetahui maksud papanya.


"Silahkan."


Anthony hanya mengangkat tangannya saat Ashley berniat mengantarnya ke ruangan wanita itu.


"Gua cuma mampir buat mastiin sesuatu."


Perubahan Ashley.


Wanita itu sadar jika papanya pasti sudah mengetahui kabar tersebut. Setelah itu, tiba-tiba Ashley tidak melakukan kegiatan apa pun di luar markasnya selama seminggu dan membuat papanya tidak dapat mempelajari pergerakan wanita itu. Tentu saja itu karena Ashley sibuk mengurus kekacauan yang disebabkan Ashelia.


Karena sudah tidak dapat melakukan observasi itulah, ia baru datang hari ini.


Namun tentunya, itu bukan satu-satunya alasan Anthony datang menemui putrinya.


Hanya dengan satu tengokan, seseorang yang berada di sisi kiri Anthony langsung membuka kotak yang ia bawa. Diambilnya sebuah cerutu dan pemotongnya dari sana.


"Ash." Panggilnya sambil memotong ujung cerutu di tangannya.


Ashley sedikit tersentak dan langsung menatap papanya, melihat pria itu meletakan kembali pemotong cerutu tersebut.


"Gua denger lo gagal."


Semua orang yang berada di sana merinding mendengar suara bos besar mereka yang begitu berat dan menekan.


"Bukan cuma sekali, tapi tiga kali." Lanjutnya sambil menghisap cerutu yang baru saja dinyalakan oleh salah satu bawahannya.


Inilah alasan sebenarnya, mengapa Ashley tidak menyukai saat seseorang memanggil namanya.


Di dalam memorinya, papanya selalu memanggil namanya hanya saat ia melakukan kesalahan. Hal itu yang kemudian mempengaruhi pola pikir dan kesan yang ia dapat ketika seseorang memanggil namanya.


"Sekali, itu kesalahan. Dua kali, itu kebodohan. Tiga kali, itu-"

__ADS_1


"Keterlaluan. Don't you think?" Lanjut Anthony dengan nada mengancam.


Layaknya predator yang sudah berada di depan mangsanya. Tidak ada keraguan ataupun belas kasih di mata pria itu. Tidak peduli darah atau air, penilaiannya merata bagi siapa pun itu.


"Ya, Pak." Jawab Ashley dengan wajah serius.


Itulah sosok ayah yang selama ini Ashley kenal. Bukan pria ramah yang menepuk kepalanya, yang menjaga kehormatannya, dan yang menyuruhnya agar lebih sering keluar untuk bersenang-senang.


Kesalahan seorang atasan adalah kesalahannya sendiri, tapi kesalahan seorang bawahan juga merupakan kesalahan atasan. Pangkat tinggi datang bersamaan dengan resiko dan konsekuensi yang tinggi. Hal itu yang selalu ayahnya tanamkan kepada Ashley.


Ashley langsung berdiri tegap di hadapan Anthony, memasang sikap siap karena mengerti apa yang harus ia terima.


"Berapa?" Tanya Anthony kemudian.


"16, Pak." Jawab Ashley mengacu pada jumlah keseluruhan anggota dari 3 regu yang gagal menjalankan misi mereka.


Kepalan tangan pria itu dengan cepat menghantam perut Ashley yang jelas membuat anak buah wanita itu tersentak. Bukan karena tidak mengerti dengan tradisi tersebut, namun karena menyaksikannya secara langsung.


Berbeda dengan Vincent, tubuh Anthony di dunianya jauh lebih berotot. Hampir dua kali ukuran tubuh Vincent.


Seperti palu godam.


Satu pukulan saja sudah terasa begitu menyakitkan seperti dipukul menggunakan palu godam. Orang yang pernah terkena pukulan Anthony akan bisa ikut merasakan rasa sakitnya hanya dari melihat kejadian tersebut.


1, 2, 3...


Total 13 pukulan lagi masih menunggu giliran untuk dilancarkan.


Berbeda dengan wanita itu, Anthony hanya memukul bagian perut Ashley. Bukan ulu hati namun sisi kirinya.


Entah bagaimana jadinya jika Ashley belum kembali dan Ashelia yang harus menerima semua itu. Namun mungkin, Ashley akan merasa lebih puas jika itu benar terjadi.


Menerima pukulan ke-4, Ashley hampir tumbang. Kakinya gemetar menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Rasa nyeri yang menjalar di tubuhnya kini berubah menjadi rasa kebas.


"Kalo lo ga kuat, masih ada banyak orang yang sanggup gantiin." Ucap Anthony memandang putrinya sinis.


"I'm- better than them, sir." Jawab Ashley sambil berusaha berdiri tegap.


Sesaat setelah ia berdiri, pukulan lain langsung menyambutnya lagi. Ia terdorong ke belakang dan langsung mengerem menggunakan kaki kanannya. Sekali lagi, ia kembali berdiri.


Rasa kebas pada perutnya membuatnya lebih sulit bergerak. Ia bahkan tidak dapat menguatkan otot perutnya untuk mengurangi rasa sakit saat terpukul.

__ADS_1


Sama seperti penghukuman yang menimpa Carlos, kini Ashley juga harus menerimanya dalam tingkatan level yang berbeda.


Karma?


Bukan. Itu adalah tradisi yang dapat membuat seorang pemimpin menjadi jauh lebih dihormati. Karena telah menanggung hukuman untuk anak buahnya, karena dapat melewati hukuman tersebut dengan gagah berani, anak buahnya akan lebih percaya kepada pemimpin tersebut.


Namun 16 pukulan pada luka seseorang memanglah berlebihan. Terlebih itu bukan pukulan pada umumnya.


Seluruh anak buah Ashley mengetahui keadaan wanita itu. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani menghalangi Anthony, orang yang jauh lebih menakutkan dari Ashley, orang yang bahkan mampu membuat wanita itu begitu tunduk.


Atau mungkin ada satu.


"Tolong beri keringanan, Ketua." Sela Kenny tiba-tiba sambil membungkukkan badannya saat Ashley mencoba berdiri.


Anthony melirik ke arahnya, melihat laki-laki yang sama seperti dalam foto yang ditunjukan kepadanya minggu lalu. Orang yang tertangkap kamera sedang berkencan dengan putrinya.


Kurang dari 3 detik, perut laki-laki yang tengah membungkuk itu terkena pukulan dari bosnya.


Bukan Anthony, melainkan Ashley, orang ia coba bela.


Wanita itu kemudian menegakkan pundak Kenny dan melanjutkan serangan ke-duanya di wajah.


Bukan rasa terharu atau terimakasih yang laki-laki itu dapat, namun justru beberapa pukulan dari wanita yang sudah kesulitan bergerak.


"Lo pikir lo siapa berani nyela!?"


Ashley terus memukulnya dengan sekuat tenaga, meyakinkan laki-laki itu untuk tidak ikut campur lagi. Tanpa perlawanan, Kenny hanya menerima semua pukulan tersebut.


Setelah beberapa saat, wanita itu berhenti. Mengetahui apa yang harus ia lakukan selanjutnya, Kenny berlutut dan meminta maaf kepada Anthony.


"Maafkan kebodohan saya, Pak."


Mengikuti Kenny, Ashley pun berbalik dan membungkukkan badannya menahan semua rasa sakit sambil berusaha menguatkan tubuhnya yang sudah mulai melemas.


"Salah saya karna lalai mendidiknya."


Masih sambil menghisap cerutunya, layaknya baru saja melihat sebuah pertunjukan, Anthony menjawab,


"It's okay, I understand him."


"Now, masih ada 9 lagi." Lanjut Anthony tanpa belas kasihan sedikit pun di raut wajahnya.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2