
Meski kakak Kalia terus menekan kuat lengan Ashley, wanita itu tetap tidak melepaskan adiknya dan justru semakin menyakitinya. Bukannya tidak merasa sakit, Ashley hanya sedang beradu mental dengan pria itu. Ia bahkan yakin jika tulang lengannya bisa saja patah.
Seakan pasrah jika lengannya harus remuk, Ashley terus mengeratkan genggamannya. Orang yang tidak bisa menahan rasa sakitnya, dialah yang akan kalah duluan. Tentu saja, bukan pertandingan antara Ashley dan laki-laki itu, melainkan antara Ashley dan Kalia.
"Lepas." Perintah Ashley tanpa menunjukan sedikit pun rasa sakit di wajahnya.
Tidak ingin adiknya tersakiti lebih dari itu, ia pun melepaskan tangan Ashley yang juga diikuti oleh wanita itu kemudian.
Kalia langsung menjauhi Ashley sambil memegangi pergelangan tangannya yang terasa sangat sakit. Laki-laki yang mengaku sebagai kakaknya itu pun berdiri di depan Kalia, mengantisipasi jika Ashley melakukan penyerangan lagi.
Tanpa mempedulikan kedua orang itu, Ashley menoleh ke arah kursi rodanya yang terguling tidak jauh dari kerumunan tersebut.
"Lo, bawa itu ke sini." Perintahnya menyuruh salah seorang di sana untuk mengantarkan kursi rodanya.
Tanpa mengetahui siapa orang yang Ashley suruh, mereka saling menoleh hingga berhenti pada seorang gadis bergaun kuning yang berada tepat di depan kursi roda tersebut.
Ia yang juga awalnya ikut merundung Ashelia, merasa harga dirinya tersakiti jika harus menurutinya. Namun melihat Ashelia yang saat ini, ia lebih tidak mau mengambil resiko untuk melawan.
Sambil mengantarkan kursi itu, ia mengalihkan pandangannya, tidak ingin melihat Ashley. Ia hanya perlu mengantar kursi tersebut dan kemudian pergi.
"Kau sebaiknya pergi dan jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi." Ucap kakak Kalia kepada Ashley saat gadis bergaun kuning itu tengah berjalan mengantarkan kursi roda Ashley.
Mendengar hal itu, gadis tersebut merasa sedikit lega karena akhirnya rasa canggung para perundung itu akan segera berakhir. Dengan senyum tipis menghiasi wajahnya, si gadis langsung pergi setelah mengantarkan kursi roda tak bertuan itu sampai di depan Ashley.
"Mau kemana, lo?"
Langkahnya terhenti saat Ashley memanggilnya kembali. Ia yang masih berusaha mempertahankan harga dirinya, tidak lagi mampu melakukan itu saat bertatapan langsung dengan mata Ashley. Mata yang tajam seperti predator itu seolah sedang memaksanya untuk tunduk. Ia merasa seperti akan dimangsa jika melakukan satu kesalahan yang tidak berkenan di hati wanita itu.
Dengan terbata-bata ia mencoba menjawab, namun tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Sambil membalikan badan dan duduk di kursi rodanya, Ashley menyela usaha gadis itu menemukan kata yang tepat untuk menjawab.
"Pelayan gua sibuk, jadi lo yang gantiin dia."
__ADS_1
"Ambilin gua minum."
Terkejut dengan ucapan Ashley yang berkata seolah menjadikannya seorang pelayan, gadis itu hendak menentangnya. Namun lagi-lagi, ia tidak berani melakukannya.
Ashley yang bahkan tidak pikir panjang untuk membalas putri seorang Duke, apa yang akan dilakukannya kepada putri Viscount yang tingkatannya berada di bawahnya?
Berangkatlah ia, mengambil minuman untuk majikan dadakannya. Sambil menahan rasa malu ia berjalan menerobos keluar kerumunan yang tidak berhenti menatapnya.
"Kau tidak dengar apa yang kukatakan barusan?" Sela kakak Kalia yang merasa diabaikan oleh Ashley.
"Oh, sorry. What is it?" Tanya wanita itu dengan raut wajah meledek.
Menahan rasa kesalnya, laki-laki tersebut terdiam sesaat sebelum mengangkat dagunya dengan angkuh untuk menunjukan ialah tuan rumah di sana.
"Keluar. Kehadiranmu tidak diterima disini."
"Why? Did I do something wrong?" Jawab Ashley masih dengan wajah mempermainkan mereka berdua.
"Dengan syarat jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi." Lanjut kakak Kalia.
Ashley tersenyum berbikir bahwa ia memang tidak akan menginjakan kakinya jika menaiki kursi roda. Namun bukan itu yang perlu ia bahas sekarang.
"Bentar, kayanya emang ada salah paham. Kapan gua nyerang adek lo?"
Melihat wajah Ashley yang bertanya dengan ekspresi polosnya seakan ia memang tidak mengerti apa-apa, membuat Kalia tidak tahan. Saat orang lain hanya tertegun tidak menyangka nona Midgraff itu bisa begitu tebal muka, Kalia berusaha menekankan point yang selalu ditepis Ashley.
"Kau menampar dan berusaha menghancurkan tanganku! Semua orang di sini melihatnya! Kaupikir itu bukan serangan!?"
Namun bukannya membuat Ashley tidak bisa mengelak lagi, Kalia justru membantu wanita culas itu memperkuat alibinya. Sambil melihat orang-orang di sekelilingnya, Ashley bertanya,
"Nampar? Ada yang liat gua nampar dia?"
__ADS_1
"Atau dia yang nampar diri sendiri?" Lanjut Ashley.
Pertanyaan yang terlontar dari mulut wanita itu membuat mereka bergidik. Memang tangan yang menampar pipi Kalia adalah tangannya sendiri, namun mereka pun tahu orang yang mengendalikan tangan tersebut adalah Ashley.
Daryl yang hampir maju ke depan kembali mengurungkan niatnya. Ia sempat ragu apakah kali ini ia harus ikut campur atau tidak. Namun melihat Ashley masih bisa mengatasi hal ini juga, pria itu menyilangkan kedua tangannya dan kembali menjadi penonton.
Orang-orang yang melihat kejadian Ashley menampar Kalia, tidak berani mengatakan apa pun karena tidak yakin apakah hal itu tetap bisa disebut menampar. Sedangkan wanita itu kemudian memberi alasan jika ia tengah berusaha menghentikan tindakan Kalia menyakiti dirinya sendiri dan bukan mengatakan yang sebenarnya.
Tentu mereka tahu niat Ashley yang sebenarnya, dan hal itu membuat mereka semakin berpikir jika Ashley adalah wanita yang penuh tipu daya. Tidak ada yang ingin mengambil resiko untuk ikut terjebak dalam permainan Ashley, karena mereka tidak tahu sejauh apa wanita itu akan membawanya.
Kakak Kalia yang tidak melihat kejadian itu secara langsung juga tidak bisa menyanggahnya. Terlebih lagi saat ia menghentikan Ashley, wanita itu memang tidak terlihat menampar Kalia, melainkan sedang memegang lengan bawah adiknya.
Ashley kemudian menambahkan jika tindakannya setelah itu adalah perilaku defensif yang ia lakukan karena kakak Kalia menyerangnya terlebih dahulu.
"Padahal tangan gua kurus, kecil, lemah." Ucap Ashley sambil memasang wajah sedih membuat Daryl tertawa kecil saat yang lain semakin tidak habis pikir.
Diam, tidak selalu membantu, kadang itu justru memperburuk keadaan.
Seperti mereka yang berpihak pada Kalia saat merundung Ashelia, namun hanya diam saat ia meminta kesaksian. Bungkamnya mereka, justru membuat Kalia semakin tidak bisa membela diri. Meski sebenarnya sangat jelas, mana mungkin ada orang yang menampari dirinya sendiri.
Datanglah si gadis bergaun kuning dengan segelas minuman ditangannya. Dengan sedikit senyuman, Ashley pun mengulurkan tangannya menerima gelas yang diberikan kepadanya.
Namun tiba-tiba gelas itu terjatuh dan pecah, menyebarkan serpihan kaca dan air di lantai.
Ashley hanya terdiam menatap pecahan gelas tersebut. Tangannya masih membeku seperti sedang memegang sesuatu. Senyumnya juga masih terukir di sana. Namun sesuatu di dalam matanya berubah.
Seseorang yang baru saja datang, langsung bergegas menghampirinya karena merasakan sesuatu.
"Anda baik-baik saja?"
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1