
3 orang laki-laki dan 2 orang wanita tengah berkumpul di suatu ruangan. 4 di antaranya berdiri, saat 1 orang lainnya duduk di balik mejanya.
Sebuah ponsel dengan pengeras suara aktif, tergeletak di atas meja tersebut, membiarkan semua orang yang ada di sana mendengar pembicaraan mereka berdua.
Setelah beberapa kali ditolak, akhirnya panggilan itu pun diterima. Dengan tidak senang hati, tentunya.
Tanpa memberi kesempatan bagi Anthony untuk memulai, suara umpatan tanpa basa basi Ashley langsung memenuhi ruangan tersebut, membuat keadaan tegang di sana menjadi sedikit canggung.
"...is that so?" Jawab Anthony kemudian.
Disusul oleh suara gemuruh dari dalam telepon tersebut, siapa pun yang mendengarnya pasti tahu kepanikan yang sedang dirasakan Ashley. Akan tetapi, sebelum sempat mendengarkan respon yang diberikan wanita itu, panggilan tersebut tiba-tiba terputus.
Dua orang pria di sana, yang juga merupakan bawahan Anthony hanya saling melirik. Sedangkan Aram, dengan wajah cerianya, tanpa ragu berkata,
"Mungkin karna kaget, HP-nya dilempar."
Melihat mata bos besar itu kemudian melirik ke arahnya, Aram pun seketika menutup mulutnya dan menunduk melihat ke lantai.
Berinisiatif sebelum Anthony memberinya perintah, Sasha kembali melakukan panggilan ke nomor Ashley. Namun beda dari sebelumnya, kali ini nomer tersebut tidak bisa dihubungi.
Mengangkat satu tangannya mengisyaratkan kepada Sasha untuk tidak perlu melanjutkan, Anthony kemudian berkata,
"Mungkin emang di lempar."
"Dan gua rasa ini cukup." Lanjutnya menambahkan.
Berita mengenai tertangkapnya Ashley telah sampai ke telinga Anthony. Ditambah dengan fakta bahwa Ashley tidak melakukan serangan balasan terhadap kelompok yang menyerangnya bulan lalu, orang-orang mulai meragukan wanita tersebut.
Anthony yang juga cukup dikejutkan dengan fakta bahwa putrinya bertukar nomor dengan orang yang tidak wanita itu sukai, akhirnya harus ikut mengetes keanehan tersebut.
Karenanya, ketimbang jawaban ramah, jawaban menggelegar seperti barusan adalah hal yang ingin didengar oleh Anthony.
__ADS_1
"Kalo ada yang masih ga puas,"
"Seret Ashley ke depan gua pake tangan lo sendiri." Lanjut pria itu dengan tatapan yang begitu mengintimidasi.
Siapa pun yang berada di bawah pria itu tahu, anak buah Ashley jauh lebih loyal kepada wanita itu ketimbang Anthony. Artinya, bukan hanya melawan si gila tapi mereka juga harus melawan para bawahan Ashley yang terkenal sama brutalnya, jika tidak puas dengan bukti 'keramahan' yang mereka dengar.
Sedangkan di belahan galaksi yang entah ada di mana, seorang wanita yang baru saja tidur tiba-tiba terbangun dengan amarah yang meluap-luap.
Berteriak dengan sangat keras, suaranya bahkan terdengar hingga bangunan lain yang berada di sekitaran kediaman megah tersebut.
Para pekerja yang semula sudah tertidur pun terbangun setelah mendengar raungan wanita itu. Sempat berpikir mereka hanya berhalusinasi, umpatan Ashley yang masih berlanjut pun membuat mereka yakin dan langsung bergegas keluar.
Berkumpullah mereka setelah itu di depan kamar nona garang tersebut.
Umpatan demi umpatan terus Ashley teriakan sambil melempar dan merusak benda-benda di sekitarnya. Mendengar suara bantingan dan pecahan dari dalam kamar Ashelia memberikan rasa horor yang mendalam bagi para pekerjanya.
Marion, yang tentu saja berada di kediaman yang sama dengan Ashley, jelas lebih merasakan kegaduhan tersebut. Keluar untuk melihat apa yang putri tirinya lakukan, ia justru dikejutkan dengan sederet pelayan pria dan wanita beserta para penjaga yang berjajar di depan pintu kamar Ashley.
Membanting pintu meninggalkan kamarnya dengan gaun tidur, Ashley berjalan melewati para bawahannya yang telah membungkukkan badan sedari awal kedatangan mereka.
Keringat dingin menghiasi wajah mereka. Meski sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa pun, namun kecemasan mereka saat itu setara dengan orang yang telah berbuat dosa besar. Tidak pernah Ashley terlihat semarah ini sebelumnya.
Melihat sosok putri tirinya yang berjalan ke arahnya dengan aura mencekam layaknya Dewa Kematian, Marion pun dibuat kesulitan untuk bicara.
"K-kau, kenapa ribut malam-malam?" Tanya Marion masih mencoba mempertahankan kesan tegas dalam dirinya.
Melirik ke arah Marion, sorot mata Ashley menunjukan kebencian disertai amarah yang begitu mendalam hingga mampu membuat ibu tirinya bergidik. Tanpa peringatan, dipukulkannya dengan kuat kepalan tangan Ashley tepat di sisi kiri wajah Marion, yang kemudian mendarat dengan keras pada sebuah cermin yang berada di belakang wanita itu.
Suara pecahan kaca menggema ke seluruh lorong, semakin membungkam mulut seluruh orang di sana yang sejak awal sudah tidak bersuara. Tindakan spontan Ashley berhasil memperdalam teror yang dirasakan oleh mereka yang hadir di sana.
Bukan Marion, sejatinya sasaran Ashley memang adalah bayangan Ashelia yang terpantul di cermin tersebut . Namun tentu saja tidak ada yang berpikir demikian. Mereka pikir saat itu Ashley yang sangat marah, sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
__ADS_1
Sambil menurunkan kembali tangannya, Ashley kemudian menatap Marion dengan wajah yang lebih tenang namun masih tetap menakutkan.
"Lo bilang apa?"
Suaranya begitu berat, terasa sangat mengintimidasi hingga menggetarkan jiwa.
Kesulitan mengeluarkan suara, Marion yang gemetar ketakutan hanya mengatakan sepenggal demi sepenggal kata yang sulit dimengerti. Namun melihat Ashley yang mulai tampak tidak sabar, ia berusaha lebih keras memaksa suaranya untuk keluar.
"K-kau mengganggu ti-tidur papamu."
Melunak setelah mendengar pernyataan tersebut, amarah Ashley tidak lagi terasa sekuat tadi.
"Oh. Sampein maaf gua."
"Gua minta maaf langsung besok." Tambahnya menunjukan kesungguhan hatinya.
Berlalu meninggalkan Marion yang langsung diabaikannya begitu saja, Ashley kembali melanjutkan langkahnya. Melihat Alais yang berada di ujung deretan manusia tersebut, wanita itu tidak berhenti dan hanya berkata ia hendak keluar.
Tidak berani menentang atau pun mengiyakan, mengetahui Ashley yang hanya mengenakan gaun tidurnya membuat pria itu ragu. Ia yakin memberi Ashley saran untuk berganti pakaian saat ini hanya akan berakhir buruk.
Lalu di saat-saat seperti inilah Bellena selalu datang menyelamatkan.
Dengan membawa mantel panjang yang baru saja diambilnya karena sadar Ashley hendak pergi ke suatu tempat, gadis itu menyusul di belakang nonanya.
"Di luar dingin, Nona." Ucapnya sembari menyibak mantel tersebut, berniat membantu memakainya.
Tidak menunjukkan pertentangan, Ashley pun langsung mengenakannya. Ikutlah kedua bawahan setianya itu kemudian, menuruni tangga menuju ke pintu depan.
Meninggalkan kediaman Midgraff, Ashley beserta Alais dan Bellena pun pergi menuju 'distrik lampu merah'. Tempat itu bukan hal baru bagi Bellena, namun tidak begitu dengan Alais. Tidak berani bertanya, pria itu hanya diam mengikuti Ashley dan mencoba percaya dengan wanita tersebut sebagaimana Bellena yang terlihat tenang.
Tidak ingin berlama-lama di dunia Ashelia, Ashley berniat menyelidikj tentang Far saat itu juga. Orang yang mungkin adalah target eliminasinya.
__ADS_1
..................... Bersambung .....................