
"Bellena?"
"Dia cari kau, Harun."
Bellena yang masih tidak menyangka jika Miller yang ia cari adalah orang yang ia kenal, tidak langsung mengatakan inti dari kedatangannya. Namun Harun yang mengenal gadis itu tentu tahu dari mana datangnya kejadian tidak terduga tersebut. Jika bukan karena perintah nonanya, tidak mungkin gadis biasa seperti Bellena datang ke sana.
"El mengatakan sesuatu?" Tanyanya mengawali.
Mendengar hal yang diucapkan pria itu, Bellena pun teringat dengan alasannya diutus mencari Miller.
Disampaikanlah pesan yang diberikan nonanya. Sebuah pesan yang lebih tepat disebut sebagai tugas. Namun, tugas pertama yang pria itu dapat, membuatnya sedikit ragu.
Rencananya cukup sederhana. Ia hanya perlu mencarikan Ashley 3 orang untuk pura-pura menyerang Kalia. Ashley tidak peduli mereka ingin benar-benar menyakiti Kalia atau hanya menakut-nakuti. Selama Kalia tidak mati Ashley sudah cukup puas.
Pada saat kejadian itu berlangsung, datanglah pahlawan yang akan menyelamatkan gadis itu. Sebenci apa pun Kalia kepada Ashelia dan sebatu apa pun sikap yang ditunjukan gadis itu, ia tetap akan mengingat Ashley sebagai penyelamatnya.
Ashley sempat menghindari rencana ini, namun melihat respon Kalia tadi membuatnya berubah pikiran. Ia hanya bisa berharap Harun tidak akan pernah berkhianat dangan menjual namanya saat tindakan mereka terlacak.
Recana tersebut dijalankan besok. Meski tidak tahu pastinya, namun Ashley menduga larangan Kalia hanya berlangsung 3 hari, mengingat kakak ke-2nya pasti sedang berusaha membujuk Asteron.
Sedangkan untuk tepatnya pukul berapa, Ashley hanya berkata 'malam'. Karena Kalia terbunuh di malam hari tanpa pengawalan dan tanpa disadari siapa pun, sudah jelas gadis itu pasti terbiasa menyelinap keluar di malam hari.
Kemudian mempertimbangkan rute-rute rawan penjahat yang mungkin dilewati gadis itu, Ashley mengutus anak buah dadakannya di titik yang paling berpotensi. Tempat-tempat dan informasi mengenai pemegang setiap wilayah ia dapatkan dari anak yang ia temui kemarin. Sangat kebetulan sekali, rute yang paling memungkinkan tersebut adalah wilayah Harun.
Akan tetapi, bukan rencananya yang membuat Harun ragu, melainkan target mereka.
Ia tidak masalah dengan orang asing, atau pejabat lain, bahkan seorang Duke sekali pun. Namun keluarga Derius berbeda. Meski adalah keluarga yang sangat baru dan baru berlangsung hampir 3 generasi, Asteron tetaplah pangeran ke-2 kerajaan Durman.
Sebisa mungkin ia tidak ingin berurusan dengan keluarga kerajaan. Dan lagi, 3 nyawa anak buahnya dipertaruhkan disini. Ia khawatir menjual nama Ashelia saja tidak akan cukup untuk menyelamatkan mereka.
Bagi orang yang jelas-jelas dirugikan seperti Harun tentu akan memikirkannya berulang kali. Tanpa mengetahui keadaan yang mendesak Ashley, ia pastinya berpikir jika wanita tak berperasaan itu hanya suka bermain-main dengan nyawa seseorang.
__ADS_1
"Nonamu benar-benar hobi menyulitkan orang lain." Ucap Harun sambil memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil.
Mendengar ucapan yang sangat relevan dengan apa yang ia rasakan, Bellena membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu.
Ia adalah orang pertama yang menjadi korban Ashley. Ia juga orang yang paling sering dipersulit oleh wanita itu. Jika ada ajang penghargaan untuk para korban tindakan Ashley, maka Bellena pasti memenangkan semua kategori.
"Nona juga sedang kesulitan."
Namun hal yang keluar dari mulutnya justru sebaliknya.
Pembelaan tulus dari satu-satunya orang yang mengetahui keadaan Ashley.
"Diseret ke tempat asing dan dipaksa menyelesaikan masalah orang lain tanpa tahu apa-apa, aku paham jika beliau tidak menyukaiku dan sering mempersulitku."
"Beliau sangat menakutkan, dan setelah tahu bagaimana kehidupannya sebelumnya, beliau terlihat lebih menakutkan."
Ashelia yang kembali dari dunia Ashley telah menceritakan semuanya kepada Bellena. Mendengar peradaban yang tidak pernah terbayang olehnya tentu ia sangat takjub, dan di atas semua itu Ashley adalah orang yang memegang kuasa di sana, bersama ratusan anak buah yang dibayangkannya bak gerombolan iblis.
"Namun orang yang menakutkan itu sangat membuatku kagum." Lanjutnya sambil menampakkan sedikit senyuman lembut.
Dibandingkan dulu, keadaan kediaman keluarga Midgraff jauh lebih tertata. Para pekerja di sana kini benar-benar bekerja layaknya profesional karena pengaruh Ashley. Marion pun juga dibuatnya takut.
Saat di bar, di kasino, di mana pun, jika Ashley berada di posisi yang tidak menguntungkan, ia tetap terlihat tenang sembari mencari momen yang tepat untuk membalik keadaan. Hal yang sangat meninggalkan rasa takjub di dalam diri gadis itu.
"Kadang beliau terlihat bijak, kadang juga terlihat baik hati, meski 99% tetap terkesan menakutkan."
Bellena teringat dengan kata-kata Ashley di dalam kereta saat pertama kali datang ke dunia itu. Ia juga teringat saat di mana Ashley membelanya ketika Harun membuat Bellena ketakutan. Sejak saat hari itu, Ashley selalu pergi sendirian jika malam hari.
Namun tidak seperti biasanya, kali ini sikap Ashley berbeda. Hal yang seharusnya membuat kekhawatiran Bellena berkurang itu justru meninggalkan kesan yang aneh.
"Aku merasa asing saat melihat beliau tidak terlihat jahat seperti biasanya."
__ADS_1
Bayangan wajah serius Ashley saat mengajak Kalia berdamai, terus terbayang di benaknya.
"Ada alasan mengapa orang tidak diciptakan mengetahui kapan mereka mati. Karna jika itu aku, aku tidak akan bisa setenang beliau."
Mendengar ucapan tersebut Harun terkejut. Meski tidak terlihat demikian tapi ia benar-benar tidak menyangka. Bukankah itu berarti saat ini El yang ia kenal tidak pandang bulu itu sedang menghadapi penyebab kematiannya? Apakah ia sakit parah?
Tidak. Wanita itu hanya sedikit mendapatkan bocoran takdirnya. Atau lebih tepatnya takdir dari pemilik tubuh yang ia pakai.
Senyum lembut di bibir Bellena yang berubah menjadi pahit itu kini tidak tampak lagi. Ia berhenti sejenak menata perasaannya yang mulai terasa berat.
"Melihat beliau tidak membalas sama sekali saat seseorang melukainya separah itu, beliau pasti sangat menahan diri."
"Meski aku adalah pelayan pribadi beliau, dan menghabiskan hampir seharian bersama beliau, namun selalu ada hal yang tidak kuketahui. Seakan sesuatu selalu terjadi kepadanya setiap menit, setiap detik."
Sunyi. Tempat itu menjadi begitu sunyi sejak Bellena mulai unjuk suara mengenai keadaan Ashley. Ia pun mengangkat kepala yang sedari tadi ia tundukan seakan mencari ingatan yang tersebar di lantai.
Tersadar saat melihat semua orang di ruangan tersebut tengah menatapnya, ia tersentak. Gadis itu tergagap tidak tahu harus berkata apa. Ia khawatir ia telah melakukan kesalahan dengan membela Ashley di depan salah satu korban wanita itu.
Sambil melihat tangan kanannya yang bukan lagi miliknya, Harun tersenyum.
"Yah, kita hanya perlu membuatnya tanpa saksi mata." Ucapnya memutuskan untuk melakukan tugas pemberian Ashley.
"Untuk orang yang pernah mempertaruhkan 400 emasnya untukku, sudah seharusnya aku percaya padanya, kan?" Lanjutnya yang langsung membuat Bellena hampir berteriak 'jangan'.
Dengan cepat gadis itu mengangguk berkali-kali meski ia merasa seharusnya berkata tidak. Gadis itu telah berhasil menjalankan misinya, kenapa ia harus merusaknya sendiri?
Ia pun kembali melewati jalan lain yang ditunjukan oleh Harun. Senyuman lebar menghiasi wajahnya. Ia puas dengan manipulasi yang ia lakukan untuk membuat keraguan Harun menghilang.
Gadis oportunis itu selalu tahu apa yang harus ia katakan.
Kemudian di tempat lain, keributan kembali terjadi meski baru berselang dua hari.
__ADS_1
"Tidak bisakah kau berhenti mencari perhatian?" Ucap salah seorang wanita kepada putri tirinya yang baru saja kembali dengan balutan perban di lehernya.
..................... Bersambung .....................