Cinderella Gila

Cinderella Gila
Lakukan jika kau berani


__ADS_3

"Ya! Dewi!"


Bellena yang langsung menerobos kerumunan demi menghadap Ashley, membuat tawa cemooh para bangsawan itu terhenti.


Ashley kemudian melihat ke arah gadis yang tertunduk di depannya.


"Mana kaki gua."


Bellena mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat sorot mata nonanya, agar dapat mengetahui kapan wanita itu marah. Masih dalam posisi kedua tangan tertekuk di bawah wajahnya, Bellena manjawab,


"N-nona meninggalkannya di rumah."


"Cari. 10 menit sebelum gua patahin kaki lo."


Mendengar hal tersebut gadis itu seperti hendak mengatakan sesuatu namun tidak jadi. Ia pun langsung bersujud sekali lagi sebelum bergegas pergi, lari mencari apa pun yang bisa Ashley gunakan. Tidak mungkin juga baginya untuk pergi mengambil kaki palsu Ashley dan kembali dalam waktu 10 menit.


Ashley menutup kedua matanya dengan telapak tangan kiri, merasa tidak ingin melihat kenyataan bahwa dirinya kembali terjebak di sana. Ditariknya kemudian tangan kirinya ke belakang, menyibak rambunya yang berantakan hingga menutupi pandangannya. Apa pun itu, kenyataan adalah hal yang harus ia hadapi.


Wajah cantik gadis itu kini terlihat dengan jelas. Termasuk sorot matanya yang tajam tanpa rasa takut. Tak tampak pula sedikit kepedulian dari ekspresi wajah wanita itu dengan hal yang ada di sekitanya.


Melihat wajahnya secara langsung, juga ekspresi dan sorot mata yang begitu familiar itu, Daryl tersenyum. Tidak salah lagi. Ia kini telah mengonfirmasi jika Ashelia adalah orang yang sama dengan wanita yang ia cari-cari keberadaannya.


Berbeda dengannya, melihat ekspresi acuh tak acuh tersebut jelas membuat orang yang merundung Ashelia merasa sedikit kesal. Terlebih lagi Kalia yang ucapannya terpotong karena tidak dihiraukan sama sekali oleh Ashley.


"Dasar tidak tahu diri!"


Menunjukan kekesalannya di depan banyak orang, gadis yang baru saja tumbuh dewasa itu justru bertindak sebaliknya. Dengan menggunakan statusnya yang lebih tinggi sebagai alasan, ia terus menghina dan mengancam Ashley namun dalam kedok menasehati.


Sambil membawa kue yang dilempar di depannya, Ashley berdiri. Awalnya ia ingin mengembalikan kue itu kepada orang yang melemparnya. Dengan cara tidak baik, tentunya.


Namun, kini kue itu tersumpal dalam mulut Kalia secara tiba-tiba karena ia tidak berhenti mengoceh dan membuat yang lain ikut membumbui.

__ADS_1


"Jangan buang-buang makanan go**ok." Ucap Ashley menemukan rumah baru bagi si kue yang malang.


Terkejut, Kalia langsung mendorong tangan Ashley menjauh dan memuntahkan kue yang dipaksa masuk ke dalam mulutnya itu. Kue yang malang, kini ia juga diusir dari rumah barunya.


Ashley terdiam sambil melirik ke arah kue yang terbuang sia-sia tanpa merasakan kasih sayang tersebut. Ia sedang menahan diri untuk tidak mengambil kembali kue itu dan menjejalkannya ke dalam mulut gadis di depannya sampai benar-benar tertelan.


Ia yakin ia akan terkena masalah jika demikian.


Melihat pergerakan Kalia dari ekor matanya, Ashley langsung menahan tangan gadis itu yang sudah berniat menamparnya. Digerakkannya lengan kurus itu kemudian, mengarah ke pipi gadis itu sendiri.


Kalia dan para bangsawan lain terkejut melihat Ashley baru saja menampar gadis di depannya secara tidak langsung. Kalia yang marah kembali menguatkan otot tangannya berniat mepelaskan diri. Namun Ashley sekali lagi menggerakannya ke kiri dan membuat Kalia tertampar untuk yang kedua kali.


"Kau!"


Setiap Ashley merasakan otot pada lengan bawah Kalia mengencang, ia langsung menggerakannya melintasi wajah putri Duke tersebut. Kali ini bukan tamparan, melainkan kepalan tangan yang mengenai wajah gadis itu, menggagalkan niatnya menampar Ashley menggunakan tangan kirinya yang bebas bergerak.


"Ashelia!" Teriak Kalia tanpa rasa hormat didorong oleh amarahnya yang tak tertahankan.


Ini kedua kalinya Ashley dipanggil dengan nama orang yang ia benci saat marah. Hal itu cukup mengganggu nanun ia juga tidak bisa mengelak karena ia memang berada di dalam tubuh Ashelia.


Tibalah orang itu di sana. Tangannya langsung menahan tangan Ashley yang masih memegang tangan Kalia.


"Kau pikir apa yang kau lakukan?"


Sorot mata laki-laki yang sedang menghentikannya itu terlihat begitu mengancam. Tidak merasa terintimidasi sama sekali, Ashley justru berbalik mengancamnya.


"Lepas atau gua patahin tangannya."


Dengan tatapan serius dan nada suara yang begitu berat, sambil menguatkan genggamannya pria itu menjawab,


"Lakukan jika kau berani."

__ADS_1


Ashley spontan tertawa sinis karena jarang ada yang menantangnya secara terang-terangan.


Daryl yang sedari tadi hanya menjadi penonton pun merasa tidak perlu turun tangan dan membantu Ashley. Ia yakin jika wanita luar biasa itu masih bisa mengatasinya sendiri. Melihat sepupunya dipermainkan oleh Ashley pun ia tidak merasa ingin ikut campur. Toh itu juga balasan untuk perbuatan Kalia sendiri.


Ashley sadar jika ia tidak akan sanggup mematahkan lengan Kalia karena tenaganya tidak sekuat itu. Maka dari itu, ia harus mengubah titik serangnya.


Wanita itu kemudian mengarahkan tangan Kalia ke arahnya dengan cepat dan langsung melonggarkan genggamannya sedikit sambil menarik tangannya ke dalam. Sampailah ia pada pergelangan tangan Kalia yang kemudian di genggamnya kuat hingga membuat gadis itu berteriak kesakitan.


"Nona Midgraff!!"


Meski ia telah menahan tangan Ashley dan bahkan menguatkan genggamannya saat melihat Ashley berusaha melakukan sesuatu, laki-laki itu tetap tidak bisa menghentikan wanita gila itu sepenuhnya.


Ashley berhenti menekan pergelangan tangan gadis itu dan membuat Kalia berhenti berteriak. Layaknya menunjukan bahwa ialah yang kini memengang kendali, wanita itu menatap pria di sampingnya tajam.


"Hands off."


"Aku tidak bisa diam saja jika kau mengganggu adikku."


Ashley sedikit tertegun mendengar ucapan laki-laki tersebut. Ia memang tidak memiliki saudara tapi ia paham dengan konsep saling melindungi yang mereka terapkan. Masalahnya adalah, orang yang mengganggu duluan adalah Kalia, kenapa dirinya yang harus berhenti?


Memang bukan Ashley, namun Ashelia. Akan tetapi Ashley juga terganggu saat Kalia terus mengoceh dengan nada tinggi tepat di sampingnya. Karena itu, ia berniat membungkamnya namun justru hampir terkena tamparan.


"Lo buta apa gapunya mata? Mana ada gua ganggu adek lo?"


"Jelas-jelas kau melakukan kekerasan fisik kepada adikku, kenapa masih mengelak?"


Ashley tertawa lepas membuat orang-orang yang berada di sana semakin yakin jika rumor yang mereka dengar ternyata ada benarnya. Melihat perubahan sikap yang begitu drastis tersebut, mereka mulai beranggapan jika Ashelia yang lemah dan cengeng barusan hanyalah sebuah permaianan sandiwara. Sedangkan Ashelia yang gila dan tidak kenal takut saat ini adalah sifat aslinya.


Di tengah-tengah tawanya yang sangat menggelegar itu, Ashley tiba-tiba berhenti dan menatap putra Duke Derius. Seakan ia tidak pernah tertawa sebelumnya, ia memasang wajah serius sambil menekan kuat tangan Kalia.


Gadis yang berulang tahun itu pun berteriak sejadi-jadinya dan membuat kakaknya terkejut. Laki-laki itu menguatkan genggamannya untuk memojokan Ashley namun justru berimbas kepadanya karena Kalia semakin terlihat kesakitan.

__ADS_1


"Lepas." Ancam Ashley singkat.


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2