Cinderella Gila

Cinderella Gila
Dan kenapa lo masi pake baju?


__ADS_3

Dengan mata tertutup dan kedua tangan terikat ke belakang melingkari sebuah tiang kayu, seorang pria terkurung dalam sebuah ruangan tanpa pencahayaan. Hanya kesunyianlah yang menemaninya beberapa menit setelah para interogator pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Menyadari bahwa tidak ada lagi mata yang mengawasinya, laki-laki yang sedari tadi hanya duduk diam saat diinterogasi tersebut pun mulai mengambil tindakan.


Mencoba meraih ujung lengan bajunya, pria itu dibuat sedikit kesulitan karena ukuran tiang yang besar membuat kedua tangannya berjauhan.


Sambil mencondongkan tubuh ke depan, ia perlahan menggeser posisi lengannya ke atas. Setelah dirasa cukup, barulah ia kembali menekan tubuhnya ke belakang.


Disertai rasa sakit yang harus ia tahan karena dalam posisi seolah hendak mematahkan lengannya sendiri, laki-laki tersebut bersusah payah meraih ujung lengan bajunya.


Dari bagian lipatan tengah yang sengaja tidak dijahit, terselip sebuah lempengan logam tajam berbentuk persegi yang ukurannya hanya sebesar kuku. Setelah berhasil mengambil benda kecil itu keluar, ia melemaskan lengannya untuk sesaat, membiarkan rasa sakit yang mengganggunya berangsur menghilang terlebih dahulu.


Hanya beberapa detik saja sudah lebih dari cukup.


Melanjutkan aksinya, digunakanlah pisau tersebut untuk memotong tali tambang yang mengikat kedua tangan pria itu. Perlahan tapi pasti, ia dapat perasakan serat demi serat yang terputus.


Beberapa saat berlalu dengan konsentrasi tinggi yang ia bagi untuk mempertajam pendengaran sekaligus mempercepat pergerakannya.


Berhasil melewati momen krusial tersebut tanpa hambatan, pria itu melepaskan ikatan di tangannya. Masih belum sepenuhnya terlepas karena belenggu yang menghalangi pandangannya, dipotonglah kain yang terikat kuat menutup kedua mata laki-laki tersebut dengan pisau yang sama.


Membuka mata layaknya bayi yang belum bisa melihat, pandangannya menjadi buram untuk sesaat akibat tertekan dalam waktu yang cukup lama.


Di saat bersamaan, didengarnya suara kunci pintu yang terbuka perlahan. Sama sekali tidak mendengar suara langkah kaki mendekat sebelumnya, ia dibuat sedikit kelabakan. Entah karena terlalu fokus dengan pandangannya atau memang tamu tak diundang tersebut yang datang tanpa suara.


Belum sempat mengenali lingkungan sekitarnya karena pandangan yang masih terganggu, pria tersebut memutuskan untuk menunggu momen yang tepat dibanding beranjak mencari tempat persembunyian.


Disembunyikannya kain dan tali yang mengikatnya di belakang punggung. Kembali melingkarkan kedua tangannya ke belakang sambil menundukkan kepala, ia berpura-pura masih terikat seperti semula.


Namun berbeda dari apa yang ia bayangkan, kalimat yang pertama ia dengar adalah,

__ADS_1


"What the f*ck?"


Dengan jeda beberapa detik setelah pintu itu terbuka, ia mendengar suara seorang wanita mengumpat tanpa alasan yang ia ketahui.


Wanita asing? Apakah dia pemimpinnya? Apa sandiwara pria tersebut telah diketahui? Karena itukah wanita itu kesal?


Masih duduk tertunduk ia mempersiapkan diri mencari celah untuk menghindar lalu memberi serangan balasan saat ada yang mendekat.


Akan tetapi, permenungannya justru dibuyarkan oleh suara wanita yang lain.


Suara yang terekam abadi di ingatannya.


"Will?"


Mendengar suara Eva, pria pirang tersebut seketika mengangkat kepalanya, mendapati dua orang wanita berdiri tidak jauh darinya. Meski pandangannya masih belum kembali fokus sepenuhnya, namun ia dapat mengenali wanita pirang yang berdiri di samping Eva.


Wanita yang ia pikir adalah wanita dari kerajaan lain, yang ia pikir adalah salah satu petinggi para pengelola gudang tersebut, ternyata adalah wanita yang sempat menolaknya saat ia mintai bantuan.


Sama halnya dengan pria itu, Ashley juga tidak menyangka jika orang yang tersekap di sana adalah Will. Hal yang membuatnya merasa tersinggung karena para penjaga berkata jika mereka telah mendapat tangkapan yang lebih besar, atau dengan kata lain orang yang lebih penting dari wanita pirang tersebut.


Sebagai buronan dengan nilai sangat tinggi, wanita itu menempatkan harga dirinya pada tempat yang tidak wajar.


"Dan kenapa lo masi pake baju?" Tambahnya.


Sangat aneh, dan tak wajar, dan aneh, dan tak adil, dan aneh. Mau seperti apa pun Ashley mencoba memikirkannnya, ia tetap tidak dapat memahami mengapa Will terlihat seperti 'Putri Raja' yang diculik. Sedangkan dirinya diperlakukan seperti 'Penembak Runduk' yang tertangkap musuh.


Di mata Ashley, dalam interogasi mendalam setelah penggeledahan menyeluruh, sangat wajar jika seorang tawanan dilucuti pakaiannya. Fakta yang membuatnya iri karena Will mendapatkan perlakuan yang berbeda.


Beda cerita jika 'perlakuan berbeda' tersebut justru menguntungkan Ashley. Karena setidak adil apa pun, orang hanya akan protes jika mereka dirugikan.

__ADS_1


Namun saat ini bukan waktunya untuk memperdebatkan hal itu.


Baik Will maupun Eva yang tidak terlalu paham dengan arah pertanyaan Ashley, jelas menangkapnya sebagai pertanyaan yang aneh. Keduanya dibuat bingung dengan cara menyikapi topik tersebut.


Hingga saat pandangan mata Will kembali seperti semula, barulah ia menyadari sesuatu. Perhatiannya kini terfokus pada keadaan Ashley secara fisik.


Katakanlah mental wanita itu sebagai penjahat sudah tak tertolong, namun melihat seorang gadis yang selalu terlihat cantik dan menawan tiba-tiba menjadi babak belur, siapa yang tidak akan terkejut?


Seperti yang Ashley pertanyakan sebelumnya, ia hanya mengenakan sepasang pakaian dalam dengan luka dan memar menghiasi sekujur tubuhnya, menutup kulit putih halus milik Ashelia. Dari wajah hingga ke ujung kaki, tidak ada sejengkal pun bagian yang terlewat.


Will dibuat semakin bertanya-tanya, apakah wanita itu diam-diam mencari Eva setelah menolak membantunya? Dan berakhir seperti ini? Hubungannya dengan Eva juga tidak terlihat seperti 'orang asing'. Mengapa ia lebih memilih berbohong dan melakukannya sendirian?


Bangkit perlahan lalu melangkahkan kakinya menghampiri kedua gadis yang masih berdiri di ambang pintu, pergerakan Will terhenti seketika saat pedang yang telah berpindah ke tangan Ashley kini menunjuk dadanya.


Eva yang juga dikejutkan oleh tindakan adik perempuan-nya, hanya bergantian menatap kedua orang berambut pirang di sana. Melihat Ashley yang hanya menodong Will dan tidak langsung menusukkan benda tajam tersebut, meyakinkan Eva jika teman masa kecilnya akan baik-baik saja.


Menatap gadis pirang di hadapannya, Will pun paham. Alasan Ashley berbohong kepadanya dan melakukan operasi penyelamatan seorang diri, hingga berakhir seperti ini, adalah karena ia tidak bisa mempercayai siapa pun. Sangat masuk akal mengingat Farlah yang menjadi musuhnya.


Tak terpikir olehnya, jika Ashley memang sempat tidak berniat menolong Eva setelah ia provokasi. Hati wanita bejat itu hanya kembali tergerak di detik-detik terakhir.


Itulah alasan Ashley yang sebenarnya.


Mempertimbangkan loyalitas Will yang terus mencari Eva selama bertahun-tahun, diturunkanlah pedang tersebut kemudian.


Akan tetapi, itu bukan berarti mereka kini menjadi teman. Tujuan Ashley kembali ke ruangan tersebut adalah untuk memanfaatkan tahanan di sana, dan membuatnya menjadi umpan kapan saja jika memang diperlukan. Namun karena Will adalah orang yang Eva sukai, Ashley terpaksa harus merubah rencananya.


Terlepas dari segala niatan baik atau buruk yang ada di balik tindakan pria itu, setidaknya untuk saat ini mereka memiliki tujuan yang sama- membebaskan Eva.


Menatap pria pirang di depannya dengan tatapan waspada, Ashley menunjukan secara terang-terangan jika dirinya tidak menyambut kehadiran Will dengan tangan terbuka.

__ADS_1


.................. Bersambung .................


__ADS_2