
Pagi hari, di suatu tempat. Di dalam ruang kerja di kediaman Marquis Ristoff, seorang laki-laki duduk di kursinya dengan wajah suram.
Ia memang jarang tersenyum, dan wajahnya selalu terlihat tidak tertarik dengan semua hal. Namun kali ini wajahnya jauh lebih suram.
"Ada masalah?" Tanya asistennya yang beberapa saat lalu memasuki ruang kerjanya.
"Aku kehilangannya."
"Anda melihat orang yang mengirimkan obatnya?"
Daryl menatapnya kesal, seolah berkata 'Bukan! Gimana si!'.
"Oh. Lalu siapa?"
"Padahal aku sudah mencarinya berjam-jam." Lanjut Daryl tanpa menghiraukan pertanyaan asistennya.
"Aku bahkan mencarinya ke toilet wanita."
Ucapannya membuat asisten yang mendengarkan curhatannya terkejut. Ia tidak tahu lagi harus merespon bagaimana. Ia bahkan tidak tahu apa yang sedang tuannya bicarakan.
"Aku yakin dia masuk ke kasino."
Mencoba tidak menghiraukan celotehan tuannya, asisten Daryl memilih untuk duduk diam sambil menyelesaikan pekerjaannya sembari menunggu guncangan mental yang sedang tuannya alami mereda.
Lalu tiba-tiba, Daryl menggebrak meja mengagetkan asistennya dan berteriak,
"Aku hanya ingin tahu namanya!"
Di sisi lain kota, di kediaman megah seorang Count yang berada di sebelah timur kota Vinnas, seorang gadis muda harus menghadapi nasib barunya.
Karena baru saja tidur saat menjelang pagi setelah melewati hari yang sangat melelahkan baginya, dan masih harus bangun setengah jam kemudian, wajah Bellena terlihat sangat lelah. Sesama pelayan yang melihatnya merasa kasihan kepadanya namun tidak bisa berbuat banyak.
Pekerjaan menjadi seorang pelayan memang sudah sangat melelahkan. Diatasnya, adalah pelayan pribadi yang harus bisa melakukan banyak hal. Memang posisi itu sangat menggiurkan karena mendapat beberapa kesempatan yang tidak bisa dialami oleh orang biasa lainnya.
Namun itu hanya bisa dirasakan saat mendapat majikan yang baik. Sedangkan bagian paling sialnya adalah, menjadi pelayan pribadi seorang diktaktor.
Sekitar pukul 6 pagi, Bellena pergi menuju kamar Ashley untuk membangunkan nonanya yang sangat luar biasa penyayang. Ia mengetuk pintu kamar Ashley.
__ADS_1
"Nona, sudah saatnya bangun."
Tidak seperti biasanya, nonanya tidak menjawab atau pun mengijinkan Bellena masuk. Biasanya Ashley selalu bangun lebih awal sebelum Bellena datang membangunkannya. Ia kemudian mempersilakan Bellena masuk untuk membantunya bersiap.
"Nona?"
Mengingat mereka baru kembali pagi ini, kemungkinan Ashley masih tertidur cukup tinggi. Bellena berniat masuk tanpa seijin Ashley untuk membangunkannya namun ia berhenti saat hendak membuka pintu kamar Ashley.
Tiba-tiba ia terbayang dengan reaksi yang akan diberikan nonanya terhadap orang yang berani mengganggu waktu tidurnya. Belum lagi, ia juga masuk tanpa seijin Ashley, meski seharusnya ia berhak melakukannya.
Ashley bukanlah orang yang bisa tertidur dengan pulas, ia masih bisa mendengar dengan jelas suara di sekitarnya meski dalam keadaan bermimpi. Wanita itu sebenarnya mendengar Bellena memanggilnya, namun ia hanya mengabaikannya.
Bellena tidak berani membangunkan nonanya, namun di sisi lain ia juga tidak bisa meninggalkan Ashley dan membiarkannya tidur.
Bukan karena dedikasinya menjadi pelayan pribadi Ashley, namun ia khawatir ia akhirnya akan disalahkan oleh nonanya karena tidak membangunkannya dan membuatnya melewatkan sarapan.
Bellena tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya berdiri di sana berpikir pilihan mana yang sebaiknya ia ambil namun tetap tidak bisa menentukan keputusan mana yang aman.
Cukup lama ia berpikir, hingga tanpa terasa sudah waktunya sarapan. Seorang pelayan datang menuju kamar Ashley dan mendapati Bellena tengah berjongkok di depan pintu kamar.
Kedatangan pelayan itu membuat Bellena menjadi panik. Datangnya pelayan tersebut merupakan tanda bahwa sarapannya sudah siap, namun Bellena masih belum membangunkan Ashley dan membantunya bersiap.
Melihat Bellena menjadi gelisah, pelayan itu pun ikut di buatnya gelisah, mengingat topik permasalahannya pasti berhubungan dengan nonanya.
"Apa? Ada apa? Kenapa?" Tanyanya buru-buru mendatangi Bellena.
"Nona belum bangun, bagaimana ini?"
"Kenapa tidak membangunkannya?" Tanya pelayan itu bingung.
"Kau gila? Kau ingin aku mati?"
Pelayan itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, kemudian membukanya lagi dan berbicara dengan suara lirih.
"Lalu bagaimana Nona bangun selama ini?"
"Nona selalu bangun lebih awal."
__ADS_1
Mereka merundingkannya sebentar di sana, berpikir mungkin lebih baik membiarkan Ashley tidur dan kembali ke ruang makan untuk memberi tahu Vincent. Namun kekhawatiran Bellena kini tersalur kepada pelayan itu juga, karena ialah yang bertugas memanggil nonanya untuk sarapan hari ini.
"Bagaimana ini? Tuan Vincent pasti sudah menunggu." Ucap Bellena.
"Hey. Nyawa kita lebih terancam oleh Nona Ashelia. Tuan Vincent mungkin akan menyerahkan masalah ini ke Nyonya Marion."
"Bukannya itu sama saja?"
"Bagaimana bisa sama? Kau harusnya lebih tahu, kan? Kudengar Nyonya Marion menghindari Nona Ashelia akhir-akhir ini. Nyonya bahkan tidak berani menatap mata Nona."
Memang Bellena merasa Marion menjadi lebih waspada terhadap Ashley namun ia tidak menyangka jika kewaspadaannya bahkan sampai sejauh itu.
"Lalu bagaimana?"
"Setidaknya kita beritahu Nona kalau sudah saatnya sarapan. Jadi kita punya alasan jika Nona marah nanti." Ucap pelayan yang kemudian berdiri menghadap pintu dan diikuti oleh Bellena.
"Hey, kau yakin itu cukup?"
"Lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?"
Tiba-tiba sebuah suara hantaman keras terdengar dari balik pintu tempat mereka berdiri, diikuti dengan suara pecahan kaca.
"Brisik b*ngsat!" Teriak Ashley dari dalam.
Mereka berdua langsung menjauh dari pintu, mengantisipasi hal tidak diinginkan tiba-tiba terjadi. Mengetahui jawaban Ashley secara tidak langsung, mereka berdua meminta maaf dan langsung bergegas meninggalkan tempat itu.
"Ganggu banget." Gumam Ashley sembari merebahkan kembali tubuhnya.
Wanita itu mengeratkan giginya dan berkata,
"Berulahlah Mariooon."
menahan rasa kesal karena tidak sabar menunggu hasil rencananya.
Ia kemudian melirik kantung koin hasil menjual perhiasan dan judinya kemarin. Raut kesalnya memudar saat ia mendapatkan ide lain yang mungkin bisa memojokkan ibu tirinya untuk bertindak.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1