
Mengetahui nonanya telah kembali, Bellena pun bergegas menuju kamar Ashley untuk menyetorkan laporan penyelidikannya mengenai Alais. Namun sesampainya ia di sana, orang yang hendak ia temui sudah tertidur padahal matahari belum mulai terbenam.
Tidak ingin mengganggu istirahat nonanya, gadis tersebut kemudian undur dari sana.
Beberapa jam pun berlalu, dan Ashley akhirnya keluar pada saat jam makan malam. Ditemani oleh Bellena, ia pergi ke ruang makan.
Membicarakan mengenai Alais saat berada di luar ruangan mungkin akan beresiko. Mengingat sifat Ashley yang selalu menyimpan rencananya sendirian, Bellena pun merasa ia harus menjaga rahasia pergerakan nonanya juga.
Setelah makan malam dan kembali ke kamar Ashley, barulah Bellena mulai membuka mulutnya. Dijelaskanlah panjang lebar mengenai semua informasi yang telah ia dapatkan kemarin.
Akan tetapi, hasil jerih payahnya tersebut sepertinya kurang dihargai oleh sang atasan.
Tidak menanggapi dengan sungguh-sungguh, Ashley hanya berkata bahwa itu bukanlah masalah karena Vincent pasti akan memberikan pengawal pengganti untuknya. Di sana Bellena dibuat sedikit kebingungan, sebenarnya apa tujuan wanita itu saat ini? Bukankah ia selalu benci saat mendapatkan pengawal?
Melihat sikap Ashley yang tidak seperti biasanya, Bellena sempat berpikir jika mungkin Ashelia telah kembali.
"Nona?" Panggilnya kemudian, memastikan siapa yang sedang ia ajak bicara saat ini.
__ADS_1
Menengok ke arah pelayannya dengan tatapan yang begitu dingin, Ashley sudah cukup meyakinkan Bellena bahwa jiwa yang bersamayam di tubuh tersebut masih dirinya.
Mengalihkan tindakannya dengan bertanya apakah Ashley membutuhkan hal lain, Bellena tidak ingin membuat nonanya salah paham.
Lalu, karena tidak ada hal lain lagi yang hqrus ia lakukan di sana, Bellena pamit untuk beristirahat dan mengakhiri pekerjaannya hari itu.
...****************...
Kembali lagi saat pagi datang, didapatinya oleh Bellena, sang nona yang tengah sibuk menulis surat dengan ekspresi wajah licik seperti biasanya. Entah hal apa lagi yang direncanakan Ashley kali ini. Yang pasti, wanita itu belum tidur sejak semalam.
"You dare to ruin my mood, then I'll ruin your lil secret instead." Gumamnya tidak menghiraukan keberadaan Bellena.
Setelah sarapan bersama guna menghargai Vincent yang telah meluangkan waktu, Ashley pun menyerahkan surat yang ditulisnya tadi dan meminta Bellena untuk menyusulnya di alun-alun kota jika sudah selesai.
Mengetahui ke mana surat itu ditujukan, sang pelayan pun berucap,
"Tidakkah Anda lebih baik menunggu di tempat lain Nona?"
__ADS_1
"Akan cukup lama bagi saya untuk kembali setelah mengantar ini."
"Kalo gitu jangan lama-lama." Jawab Ashley begitu entengnya.
"Maaf?"
Bellena terdiam untuk sesaat, setelah sekali lagi mendapatkan perintah yang begitu egois dari nonanya. Namun bukannya sebuah penjelasan, justru ancamanlah yang diberikan oleh Ashley kemudian.
"Mau gua potong jari lo buat tiap menit yang kebuang?"
Seketika itu juga berlarilah sang pelayan, menjalankan tugas dari wanita tak berperasaan tersebut untuk mengantarkan surat ke kediaman Daryl. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi kepada Ashley kemarin, hingga sifat wanita itu kembali seperti semula, sama seperti saat Ashley belum bisa mempercayai siapa pun di dunia itu.
Menit telah berganti jam, dan waktu masih terus mendesak sang pelayan untuk mempercepat penyelesaian misi tersebut. Kembali berlari masuk ke dalam kereta kuda yang ia sewa setelah mengantar sepucuk surat yang dibawanya, Bellena menyuruh sang kusir agar segera pergi menuju alun-alun kota Vinnas.
Namun tak lama kemudian, perjalanannya dihentikan secara paksa oleh sang Marquis yang menyusul dengan menunggangi kuda.
Dengan raut wajah yang begitu rumit, ia bertanya,
__ADS_1
"Di mana Ashelia sekarang?"
.................. Bersambung .................