Cinderella Gila

Cinderella Gila
Terima kasih


__ADS_3

Memprovokasi orang lain hingga titik tertentu, terkadang dapat mengantarkan seseorang pada hasil yang ia inginkan. Lalu bagaimana dengan memprovikasi suatu kelompok?


Dengan resiko yang dapat berbalik menyerang diri sendiri, memprovokasi seseorang melewati batas sangatlah tidak dianjurkan. Terlebih lagi memprovokasi sekumpulan orang, yang dapat mengalikan tingkat bahayanya menjadi berkali-kali lipat meski hanya dengan provokasi kecil.


Terdesak oleh konsekuensi gagalnya kewajiban mereka dalam menangkap Ashley, maupun bertahan hidup dari serangan wanita bringas itu, membuat para pengurus gudang tidak mampu menghindari kematian.


Tak peduli jalan mana yang mereka pilih, kematian telah menanti bagaikan anjing penjaga yang begitu setia.


Karenanya, dikerahkanlah seluruh usaha dan tenaga yang masih tersisa dalam diri mereka. Membabi buta menyerang iblis berkulitkan wanita muda, pikiran para lelaki itu dipenuhi oleh nafsu.


Hasrat yang begitu kuat, untuk sekedar menyayat tubuh Ashley.


Bukan tanpa alasan, Ashley memang sengaja memprovokasi manusia-manusia yang telah terdorong ke ujung tebing tersebut.


Hanya dengan begitu, mereka akan membuang akal sehat mereka dan berbondong-bondong menyerang Ashley. Dibutakan oleh keputusasaan, para pengurus gudang akan meninggalkan ruang yang cukup bagi Will untuk membawa Eva keluar.


Namun bukan hanya mereka, wanita berambut pirang itu mungkin juga sudah kehilangan akal sehatnya. Seseorang yang begitu egois dan tak berperasaan seperti dirinya justru mengambil inisiatif sebagai umpan.


Menyadari resiko yang akan diterima Ashley, Will sebenarnya tidak merasa itu adalah rencana yang baik. Akan tetapi, memahami niat wanita tersebut, ia berusaha percaya dan menghargai keputusan Ashley.


Sembari menghadapi beberapa orang yang bergantian menghadangnya karena dendam pribadi, Will perlahan mengawal Eva keluar.


Tidak mampu memberikan pertolongan langsung karena sibuk dengan beberapa laki-laki yang terobsesi dengannya, Will hanya memberikan arahan kepada Eva.


"Tekan yang kuat. Jangan dilepas."


Sembari melangkah perlahan, Eva menekan luka di lengannya dengan sekuat tenaga. Meskipun begitu, aliran darah masih tetap menyisip keluar melewati jemari kecilnya. Tekanan yang tidak merata dan stabil adalah penyebab aliran darah di luka Eva tidak tertutup sepenuhnya.


Tubuh wanita mungil itu masih gemetaran setelah berpapasan langsung dengan kematian. Kakinya terasa begitu lemah seolah tak mampu menopang tubuhnya sendiri.


Akan tetapi ia tahu ia tidak bisa berhenti di sana. Ia harus lebih kuat demi kedua temannya.


Melihat Eva yang tidak berteriak saat bilah pedang menyayat kulitnya, sudah cukup membuat Will tidak nyaman. Ditambah dengan menyaksikan wanita itu memaksakan diri tanpa bisa mengulurkan bantuan untuknya, hati Will serasa tercabik-cabik.

__ADS_1


Seberapa sering Eva mengalami kejadian serupa hingga membuatnya kebal dengan rasa sakit?


Menemukan pakaian tak bertuan yang berserakan di dekat kakinya, Will pun memungut dan merobek kain tersebut menggunakan pedang yang ia bawa. Dengan potongan kain yang cukup panjang, diberikanlah kain tersebut kepada Eva.


Mengetahui maksud Will, Eva pun mengambil juntaian kain itu. Namun tangannya terhenti karena laki-laki pirang dihadapannya tidak melepaskan benda tersebut.


Kedua bola mata yang sedari tadi memperhatikan sekitar, kini terkunci pada Eva. Dengan tangan yang masih menggenggam erat barang rampasannya, Will menatap wajah bingung wanita itu.


Menyadari keraguan dalam sorot mata sang pujaan hati, Eva tersenyum. Senyuman yang justru semakin mengiris hati Will karena tidak bisa berbuat banyak.


Sekilas melirik melihat situasi, Will memastikan tidak ada musuh yang mendekat. Lalu diletakkanlah pedang yang sedari tadi ia genggam erat, setelah bergerak beberapa langkah mendekati Eva.


Menatap ke arah luka yang kembali terbuka karena Eva melepas tangannya, Will bergegas mengikatkan kain tersebut. Melingkar membalut lengan Eva, ia berusaha menghentikan pendarahan wanita itu.


"Tahan." Ucap si Pirang sembari menarik kuat ikatannya.


Sedikit tersamarkan memang, karena Will menggerakkan tangannya dengan cepat. Akan tetapi, Eva masih bisa melihatnya. Bukan hanya wanita tersebut yang terselimuti rasa takut. Bukan hanya dirinya yang harus menahan gemetar tak terkontrol pada tubuhnya.


Meski pria itu berusaha menyembunyikannya, Eva tetap menyadari kedua tangan yang tidak berhenti gemetar saat membalut lukanya. Hampir kehilangan seseorang yang berharga, sangatlah mengguncang mental pria berambut pirang tersebut.


Di saat yang bersamaan dengan terlepasnya tangan Will dari kain yang mengikat luka Eva, wanita itu berkata,


"Terima kasih."


Dibalas hanya dengan tatapan biasa yang tak lebih dari 2 detik, Will langsung berpaling tanpa menjawab. Ia pikir ucapan tersebut hanyalah ucapan biasa yang diucapkan atas bantuan kecilnya barusan.


Namun bukan hanya untuk itu rasa terima kasih Eva ia tujukan kepada Will.


"...karna datang menjemputku." Lanjut wanita tersebut.


Atas usaha Will mencari Eva, bahkan sebelum wanita itu berurusan dengan Far. Atas perlindungan yang selalu ia diberikan, bahkan saat tak bersenjatakan apa pun. Atas segala pengorbanan dan rasa sakit yang laki-laki itu terima demi Eva.


Sebagai orang yang kembali menyalakan cahaya dalam diri Eva, mengembalikan harapannya yang lama pupus. Juga sebagai orang yang selalu dapat ia andalkan.

__ADS_1


Dan karena telah menjadi orang yang spesial dihatinya.


Wanita itu sangat ingin berterima kasih.


Mendengar perkataan tersebut, Will terdiam. Tangan yang hendak mengambil kembali pedang yang ia sandarkan ke dinding itu membeku sebelum sempat menyentuhnya.


Pikiran Will teralih untuk sesaat. Ia merasa asing dengan sikap Eva. Wanita yang keras kepala, usil, dan banyak bicara itu tidak biasanya bersikap lembut dan emosional.


Apa dia kerasukan? Atau mungkin karena-


Sambil mengerutkan dahi, ia kembali melemparkan pandangannya ke depan, penasaran dengan isi pikiran Eva. Namun kernyit di dahi Will seketika menghilang sesaat setelah ia menoleh melihat wanita tersebut. Pupil matanya melebar. Otot wajah yang awalnya memusat pun tertarik mundur.


Wanita cantik yang ia kenal masih berdiri setengah meter di hadapannya, memasang senyuman manis tanpa mengetahui seseorang datang mengincar nyawanya dari belakang.


Meraih punggung Eva dengan tangan kanan, didekapnya kemudian wanita itu menjauhi sang penyerang. Sambil melangkahkan kaki kanannya ke belakang, Will menarik tubuh Eva.


Tangan kirinya mengambil kembali pedang yang masih tersandar di dinding. Memutar pergelangan tangannya, Will menyisipkan pedang tersebut melewati selah kecil antara dinding dan dirinya.


Jarak lawan yang dekat, membuat Will harus memilih bertahan. Perhatiannya pun hanya terpusat pada pedang musuh yang sudah hampir menyentuh mereka.


Akan tetapi, satu tangkisan saja tak mampu menghentikan sang musuh.


Saat Will berhasil menggagalkan serangan pertamanya, sebuah pisau dicabut dari balik punggung pria itu. Digenggam dengan tangan kiri dan diarahkan ke punggung Eva.


Kembali berhadapan dengan momen krisis, Will tanpa ragu mengambil satu-satunya pilihan yang ia punya. Karena jika dibandingkan sebelumnya, kali ini ia masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Eva.


Meskipun itu berarti harus menukarkan nyawanya sebagai imbalan.


Dilepaskanlah pedang yang ada di tangan pria pirang itu sebelum kemudian memeluk Eva. Sembari lompat mudur, ia memutar tubuh dan memberikan punggungnya untuk dikorbankan. Dengan hasil yang sama, tidak masalah baginya jika harus menerima 2 serangan sekaligus.


Mendekap tubuh wanita tersebut untuk terakhir kali, Will sudah cukup puas dengan hasil yang akan diterimanya. Bila ada yang harus pergi, maka biarlah ia yang pergi.


...............Bersambung...............

__ADS_1


__ADS_2