Cinderella Gila

Cinderella Gila
Glad to be your daughter


__ADS_3

Kembali ke kediaman untuk menulis surat pencabutan hukuman Kalia yang akan ia tujukan kepada Asteron, ia justru menghadirkan kegaduhan yang menghambat kegiatannya.


Sama seperti Bellena, bukan khawatir dengan lukanya, hal yang dipertanyakan para pekerja di kediaman tersebut adalah siapa korban Ashley kali ini?


Marion yang juga menyadari keributan itu pun menghampiri putri tirinya.


"Tidak bisakah kau berhenti mencari perhatian?" Ucapnya sambil menuruni tangga.


Ashley terkekeh. Dengan senyuman sinis ia pun menjawab,


"Ngapa? Lo iri gua lebih diperhatiin Papa?"


"Gua bisa bantu kalo lo mau. Tapi mungkin agak sakit." Lanjutnya dengan ekspresi bermain-main.


Marion hanya mengeratkan giginya menahan kesal karena tidak bisa membalas wanita itu.


Ashley kembali melangkahkan kakinya mendekati tangga karena ia memang hendak pergi ke kamarnya. Namun Marion spontan melangkah mundur saat melihat Ashley berjalan ke arahnya.


Lucu, mengingat Ashelia berhasil ditindas oleh wanita penakut sepertinya dan bahkan hingga kehilangan kakinya. Dan lebih lucunya lagi, meski takut kepada Ashley, Marion masih berani membuka mulutnya dan berkata seenaknya.


Sambil tertawa, Ashley menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan sikap kedua orang itu.


"Astaga Ashelia? Apa yang terjadi?"


Ashley mengangkat kepalanya mendengar suara seseorang yang begitu familiar di telinganya. Seorang pria berdiri di ujung tangga melihat ke bawah dengan wajah cemas karena putrinya kembali dalam keadaan terluka untuk ke-dua kalinya.


Bergegaslah ia menghampiri gadis yang terdiam di tengah tangga tersebut. Diraihnya kedua lengan putrinya, sebelum mengecek sisi kiri dan kanan gadis itu, memastikan tidak ada luka lainnya.


"Bagaimana kau bisa terluka? Siapa yang melakukannya?"


Diubahnya kemudian fokus pandangannya. Ia melihat jauh ke belakang putrinya, mencari seseorang yang seharusnya selalu berada di dekat gadis tersebut.


"Mana pelayan pribadimu?" Tanyanya saat kembali melihat ke arah putrinya.


Namun gadis itu hanya diam menatap wajah ayahnya. Saat itu Ashley tengah fokus dengan hal yang lain, hal yang baru saja ia sadari.


Entah mengapa, sebutan nama Ashelia yang keluar dari mulut Vincent untuknya selalu terasa menyakitkan.


Banyak hal yang ingin ia katakan setiap kali ia melihat Vincent namun tidak ada satu pun yang berhasil ia katakan. Ia membuka mulunya sedikit seakan hendak mengatakan sesuatu, namun kata-kata yang sudah berada di ujung tenggorokannya tidak mampu ia keluarkan.


Hatinya kembali terasa teriris setiap kali ia memikirkannya.

__ADS_1


Setelah berulang kali memikirkannya, akhirnya hanya jawaban singkat yang ia sampaikan.


"Cuma kegores. Bukan masalah serius."


"Apanya yang bukan masalah serius!?" Bentak Vincent tiba-tiba membuat Ashley sangat terkejut melihat respon yang ia berikan


Semua orang tercengang karena Vincent tidak pernah marah sebelumnya. Saat ia marah karena tangan Ashley terluka pun tidak banyak yang melihat.


Ia kemudian menyuruh kepala pelayan untuk memanggil dokter saat ia sendiri yang akan mengantar Ashley kembali ke kamarnya. Sebelum memeriksa luka putrinya sendiri, ia tidak akan pergi.


Sampailah mereka di kamar Ashelia, berselingan dengan dokter yang datang terburu-buru.


Wajah Marion memucat, begitu pula kepala pelayan dan dokter yang melihat luka di leher Ashley. Vincent hanya menatap luka yang masih sangat baru tersebut dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


Tergores?


Luka itu bahkan cukup dalam untuk dikatakan teriris, namun wajah gadis cengeng di hadapannya kini tidak nampak kesakitan sama sekali.


Saat dokter memberikan penanganan yang lebih baik dan menutup kembali luka Ashley, wanita itu terus memalingkan wajahnya. Ia merasa aneh setiap kali melihat Vincent menggunakan ekspresi yang kompleks. Ia lebih terbiasa dengan satu-satunya ekspresi dingin milik Anthony.


Diraihlah tangan gadis itu oleh ayahnya.


Digenggamnya erat tangan Vincent secara spontan saat dadanya menyesak mendengar kloning papanya memanggilnya dengan nama orang yang ia benci. Paru-parunya seperti menyusut dan dadanya terhisap ke dalam. Ia merasa sangat ingin memukul sesuatu untuk menyalurkan emosinya.


Namun perasaan itu berubah menjadi sengatan listrik yang begitu mengejutkan saat Vincent melanjutkam ucapannya.


"Apa tujuanmu?"


Ashley langsung menatap mata pria itu, berusaha menafsir kata-kata yang baru saja ia ucapnya. Sebuah perasaan mulai menyembul keluar dari dalam dirinya. Perasaan yang terus mengatakan untuk tidak salah paham dengan ucapan ambigu Vincent.


"Apa yang membuatmu berubah begitu drastis?" Lanjut Vincent menjelaskan maksud perkataannya.


"Sejujurnya, perubahanmu membuatku khawatir."


Air mata mulai menggenang di kelopak mata Ashley. Rasa lega, gelisah, dan sedih bercampur menjadi satu.


Ia tahu jika Vincent bukanlah Anthony. Ia pun tahu jika ucapan tersebut tidak ditujukan kepadanya. Namun hal itu seolah menghapuskan sesuatu di dalam hatinya. Sesuatu yang gelap dan kosong.


Beginikah rasanya memiliki ayah yang akan marah untukmu?


Beginikah rasanya meiliki ayah yang khawatir saat putrinya melantur terlalu jauh?

__ADS_1


Bolehkah aku memiliki perasaan seperti ini meski tahu itu bukan untukku?


Ditahannya air mata yang keluar, sekuat tenaga. Tenggorokannya terasa sakit hingga ia tidak dapat mengatakan apa pun. Ia khawatir suara yang keluar nantinya akan terdengar memalukan.


Namun tanpa harus disembunyikan, mereka sudah mengetahuinya. Perasaan Ashley terlalu besar untuk ditutupi.


Setelah menunggu beberapa saat sambil masih terus menggenggam tangan Vincent, Ashley pun mulai tenang dan dapat mengontrol emosinya.


"Ash."


Pria itu mencoba mendengarkan saat putrinya akhirnya mulai bicara. Ia pikir Ashley sedang menggunakan sudut pandang ketiga untuk menunjuk dirinya sendiri.


"Can you call me Ash insead?"


Namun ternyata bukan.


Lalu yang lebih membuatnya terkejut adalah penggunaan bahasa wanita itu. Sejak kapan Ashelia bisa menggunakan bahasa tersebut?


Menghapus ekspresi terkejut yang baru saja ia tunjukan, Vincent tersenyum. Ia kemudian mengiyakan permintaan putrinya yang kini terlihat seperti seorang gadis penurut.


Setelah menyarankan putrinya untuk istirahat mengikuti kata-kata dokter keluarga mereka, Vincent dan seluruh 'penonton' di sana pun meninggalkan ruangan tersebut. Memberi ruang kepada pasien dengan kepribadian yang tidak dapat dibaca itu untuk beristirahat.


"Pa." Panggilnya ketika Vincent kendak keluar dari kamarnya.


Tanpa melihat wajah pria yang ia panggil, Ashley mengungkapkan hal yang sangat ingin ia ucapkan selama ini namun tidak bisa. Hal yang juga ingin ia ucapkan kepada Anthony.


"Glad to be your daughter."


Laki-laki itu tertegun. Ia sama sekali tidak mengatakan apa pun selama beberapa detik hingga membuat Ashley menoleh ke arahnya, berpikir Vincent tidak lagi berada di sana. Pria itu kemudian tersenyum. Senyuman yang begitu ramah, yang tidak mungkin bisa dibayangkan oleh Ashley akan terukir di wajah ayahnya.


Mulai dari saat itu, Vincent mengutus seorang kesatria untuk menjaga Ashley ke mana pun dan kapan pun wanita itu pergi ke luar rumah. Meski Ashley biasanya sengaja menyuruh mereka untuk tidak mengikutinya, namun kali ini ia tidak bisa melakukannya. Perintah yang turun langsung dari Vincent tentu memiliki kuasa yang lebih tinggi.


Karena itulah, ia saat ini berjalan mengitari kota di malam hari dengan seorang laki-laki berpakaian layaknya seorang kesatria.


Namun bukannya merasa aman, wanita itu justru merasa sangat terganggu.


"N-nona, tidak bisakah kita melewati jalan yang lebih ramai?"


Jelas sekali ia bukan seorang kesatria.


..................... Bersambung .....................

__ADS_1


__ADS_2