Cinderella Gila

Cinderella Gila
Let's get straight to the point


__ADS_3

Di sebuah jalan sepi dengan lebar kurang lebih 4 meter, seorang wanita dengan tongkat di tangannya tengah berhadapan dengan dua orang lainnya. Seorang kesatria wanita dan seorang laki-laki.


Kesatria tersebut dengan gagah berani berdiri di antara Ashley dan laki-laki di belakangnya, berusaha melindungi orang yang merupakan keturunan raja di negara asalnya.


Menggunakan sikap kuda-kudanya, kesatria itu menatap Ashley dengan penuh kewaspadaan.


Meski hanya bertemu sekali, kedua orang asing itu tidak akan lupa dengan Ashley. Bukan hanya karena sikap tidak kenal takut yang wanita itu tunjukan, namun juga karena penampilannya yang sangat 'mudah diingat'.


Ditatapnya kemudian, dua orang tersebut oleh Ashley dengan tatapan mata tajam dan raut wajah serius.


"Let's get straight to the point."


Detik berikutnya, wanita yang tidak suka basa basi itu tiba-tiba sudah melangkah mendekati kesatria yang ada di hadapannya.


Ditariklah keluar pedang yang kesatria itu bawa di pinggang, setelah dikejutkan oleh gerakan tiba-tiba Ashley. Akan tetapi, wanita itu juga telah mengantisipasinya. Tangan wanita tersebut berhasil menahan ujung pegangan pedang itu dan menekannya kembali masuk ke dalam sarung.


Sambil tersenyum menatap wajah terkejut lawannya dari bawah, diayunkanlah tongkat Ashley melintasi dagu kesatria itu.


Sempat menghindar, kesatria tersebut langsung mendongakkan kepalanya sambil menekuk tubuhnya kebelakang. Di saat bersamaan, dilayangkanlah kaki kanannya, memberi serangan balasan ke arah rusuk Ashley yang terbuka lebar.


Melihat serangan tersebut, dilepaskannya pedang kesatria itu guna menahan kaki yang mengarah ke sisi kiri tubuh Ashley. Meski sudah tertahan oleh telapak tangannya, namun dapak yang diberikan dari tendangan tersebut masih cukup besar.


Tendangan seorang prajurit yang kita bicarakan di sini.


Tidak berniat menghentikan ritme pertarungan mereka, dipukulkanlah tongkat Ashley di bagian paha dalam kaki kiri kesatria tersebut. Sebelum kemudian dilanjutkan dengan mengunci kaki kanannya yang masih menempel di rusuk Ashley.


Mengetahui Ashley akan mendorongnya jatuh setelah mengunci salah satu kakinya, kesatria itu langsung menarik pedangnya keluar. Pedang yang kini sudah tidak tertahan oleh apa pun lagi.


Didorongnya kaki kesatria itu kemudian oleh Ashley, sembari melompat mundur dengan badan yang mencondong ke belakang. Bilah baja tersebut melintas tepat di depan Ashley membelah udara, membuat pemiliknya berhasil melepaskan diri dari kendali sang Dewi Kehancuran.


Ashley kembali tersenyum tipis, menyadari wajahnya hampir saja terbelah.


"I'm 'bout to say 'not bad', but this much is supposed to be normal, right?" Ucap wanita itu dengan ekspresi meledek.

__ADS_1


Merasakan nyeri di bagian yang Ashley pukul, kesatria tersebut mencoba tidak terpengaruh dengan ucapan wanita di depannya. Ia harus tetap tenang.


Kini ia sadar keberanian Ashley bukan datang dari statusnya, namun dari kemampuan wanita itu sendiri. Reflek dan serangan balik yang Ashley berikan juga sangat halus. Hal itu cukup untuk membuat kesatria Joseph tidak bisa memandang remeh musuhnya.


Namun sebuah pertarungan di jalan terbuka? Di pagi hari menjelang siang? Hanya karena jalanan itu sepi? Kesatria itu pun meyakini jika Ashley hanyalah anak dengan bakat yang masih tidak berpengalaman.


Majulah kesatria itu kali ini, mengayunkan pedangnya langsung ke leher Ashley.


Menangkis benda metal tajam itu dengan tongkat yang ia topang menggunakan kedua tangannya, Ashley meledek sekali lagi,


"Isn't this too basic?"


"Probably." Jawab kesatria itu kemudian, lalu memutar pedangnya melewati kepala dan mengarahkannya ke sisi lain kepala Ashley.


Trik yang sama yang pernah Ashley gunakan terhadap si pembuat tongkat.


Sedikit lengah, mata wanita pirang itu terbelalak menyadari nyawanya terancam. Dipindahkannya tongkat yang ia bawa ke sisi kiri, berusaha secepat mungkin menghalau bilah baja mematikan itu merenggut nyawanya.


Dengan cepat, dilancarkanlah serangan balasan ke arah tubuh bagian kiri kesatria tersebut yang terbuka lebar. Dua pukulan keras ia berikan di bagian rusuk dan dagu.


Namun gagal mengenai target.


Kesatria itu berhasil menangkis serangan Ashley dengan menutup lengannya sembari menyilangkan pedangnya ke depan, menciptakan posisi defensif tanpa cela.


Saat tangan kiri Ashley yang membawa tongkat terus mengikuti arah pedang kesatria itu, tinju di tangan kanannya tidak berhenti hanya dengan memberi dua pukulan. Ashley juga melayangkan kepalannya ke arah pergelangan tangan kesatria tersebut yang memegang pedang.


Meski sedikit, namun hantaman itu tetap berefek.


Tanpa jeda, didorongnya pedang itu maju dengan menggunakan tongkat Ashley, yang kemudian menbuat kesatria tersebut melompat ke belakang menjauhi musuhnya.


Pedang dua sisi memang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Saat si pengguna dapat memanfaatkan efisiensi serangannya, ia juga harus berhati-hati dengan sisi lain yang selalu mengarah kepadanya.


Menyadari Ashley berhasil menangkis serangan kedua yang ia lancarkan, kesatria itu kembali memikirkan kemampuan lawannya yang sempat ia pikir tidak berpengalaman. Mungkinkah hanya beruntung? Karena refleknya yang cepat? Atau memang karena sering melihatnya?

__ADS_1


Dengan detak jantung yang mulai meningkat karena hampir celaka dua kali, Ashley berusaha tetap tenang. Bukan khawatir ataupun takut, wanita itu tengah berusaha menahan diri untuk tidak terlalu terbawa suasana karena senang.


Lawannya adalah seorang kesatria, yang jelas-jelas berpengalaman dan harus ia hadapi dengan konsentrasi penuh. Salah sedikit saja bisa berakibat fatal. Jangankan kembali ke dunianya, ia bahkan bisa langsung kembali ke sisi penciptanya.


Sebuah senyuman lebar di wajah Ashley memang berhasil tertahan untuk ditunjukan, namun kesatria yang menjadi lawannya mampu menyadari isi hati wanita itu dari sorot mata yang ia pancarkan.


Layaknya penggila perang yang hanya terhibur dengan melihat pertumpahan darah.


Tidak seekstrim itu. Namun Ashley memang menyukai perkelahian. Dengan atau tanpa senjata.


Sejak awal Ashley memang selalu mampu membuat kesatria itu merasa ngeri. Seperti melihat iblis yang menjelma menjadi manusia, hanya kejahatan dan hal gila yang terpancar dari mata wanita tersebut.


Menunjuk kesatria di depannya menggunakan tongkat dan satu tangan yang lainnya ia letakkan di pinggang, Ashley kemudian berkata,


"I'll give you a hint."


Tidak mengerti dengan topik yang dibicarakan Ashley, kesatria itu mengerutkan keningnya. Ia menunggu kalimat apa yang akan diucapkan oleh wanita tidak waras itu selanjutnya.


"I'll go straight."


Namun setelah mendengarnya, ternyata hanya omong kosong yang tidak perlu ia pikirkan.


Setidaknya, begitu pikirnya.


"Yea, right." Jawab kesatria itu tidak percaya.


Dengan dirinya yang bersenjatakan pedang, dan lawannya yang hanya memakai tongkat, tentu tidak memungkinkan bagi Ashley untuk menyerang lurus ke arahnya.


Mungkin benar, hanya saja, kesatria itu melupakan sesuatu karena terlalu fokus terhadap Ashley.


Ia lupa jika dirinya bukanlah menu utamanya di sini.


.................. Bersambung .................

__ADS_1


__ADS_2