
Suara isak tangis menggema di seluruh ruangan. Seorang gadis menggenggam erat tangan ibunya yang sudah lemas tak bergerak. Dua orang lainnya tergeletak tidak jauh dari sana, di atas platform kayu, di depan jajaran orang-orang yang duduk menyaksikan mereka saling beradu akting.
Pertunjukan drama romansa yang memang terkenal menguras air mata tersebut berhasil menyayat hati para penontonnya.
Di lantai atas, pada salah satu di antara deretan balkon yang sengaja dibuat untuk mendapatkan pemandangan terbaik itu, Ashley dan Daryl duduk berdampingan.
Adegan perpisahan antara ibu dan anak tersebut cukup mengusik kejiwaan laki-laki di sana, membuatnya memilih untuk memalingkan pandangannya sembari menenangkan diri sejenak. Matanya kemudian berhenti pada wanita yang duduk di sampingnya. Wanita yang juga ia tahu telah kehilangan ibunya. Bukan sebagai Ashley, namun sebagai Ashelia.
Tidak goyah atau sedikit pun menampakkan air mata, Ashley hanya diam bersandar pada tangan kirinya. Entah bosan atau sedang memikirkan hal lain, sorot matanya tidak menunjukan emosi apa pun.
Kembali melirik ke arah panggung Daryl berkata,
"Apa kau akan marah jika kubilang aku ingin melihat air matamu?" Tanyanya berhati-hati.
Tanpa menggerakan kepala, Ashley melirik ke arah laki-laki tersebut. Masih terus melihat ke arah panggung, pria itu menjelaskan jika Ashley adalah orang yang sangat kuat di matanya. Terlalu kuat hingga membuatnya khawatir.
"Kupikir ini cukup untuk membuatmu tersentuh."
__ADS_1
Selesai mendengarkan penjelasannya, Ashley kembali menaruh pandangannya ke depan. Ia sendiri tidak yakin jika ada hal di dunia ini yang mampu membuatnya menangis. Kematian ibunya yang sangat mengejutkannya pun tidak mampu membuatnya menangis. Begitu pula tragedi yang menimpanya beberapa tahun lalu. Mungkin, kematian Anthony kelak juga tetap tidak akan membuatnya menangis.
Sesakit apa pun kejadian itu, air mata tidak pernah keluar dari matanya. Seakan kelenjar air mata memang tidak pernah ia miliki sejak awal.
Jadi bagaimana mungkin permainan sandiwara ini mampu membuatnya menangis?
"Karna dari awal gua tau ini ga nyata." Jelas Ashley.
Matanya melebar, setelah mengatakan hal itu, kepalanya sedikit terangkat seolah ia baru menyadari sesuatu.
"Kenapa? Tidak jadi mengatakannya?" Tanya Daryl setelah Ashley kembali menghadap ke depan tanpa mengatakan apa pun.
"Kau ingin bilang aku sangat tampan tapi malu mengakuinya?"
Daryl mencoba berbalik mengusili Ashley yang biasa meledeknya. Namun, tanpa pikir panjang wanita itu langsung menjawabnya dengan jawaban 'ya'. Jawaban yang terlalu cepat untuk bisa dikatakan 'telah dipertimbangkan'.
Pria itu tahu, wanita disampingnya memang hanya asal menjawab. Namun hal itu tetap membuatnya tersipu dan tidak mampu melanjutkan niatnya.
__ADS_1
Di saat bersamaan di luar gedung teater, seorang pria pirang yang Alais curigai sebelumnya, juga kini berada di sekitar sana. Dari kejauhan, dilihatnya pria itu yang kemudian berjalan memasuki gang sempit di antara dua bangunan.
Berniat mengecek identitas pria tersebut, Alais pun mengikutinya.
Perlahan melihat ke dalam gang, ia tidak mendapati siapa pun berada di dalam sana. Masuklah kesatria itu sambil meletakan tangannya di atas gagang pedangnya, siap menarik senjata tersebut jika memang dibutuhkan.
Melihat sebuah tikungan di ujung gang, Alais memprediksi jika pria pirang tersebut tengah bersembunyi di balik dinding dan menunggunya datang. Namun salah, pria itu justru tiba-tiba muncul dari belakangnya, berjongkok dan bersembunyi di balik tumpukan kotak kayu.
Berniat melakukan penyergapan menggunakan pisau yang diarahkan melingkari leher Alais, usaha pria itu sayangnya gagal.
Saat melihat tangan pria tersebut melewati pundaknya, Alais langsung menangkap dan menariknya ke bawah. Di saat bersamaan, tangannya yang lain telah mencengkeram kuat baju si pirang, dan kemudian membanting ke tanah.
Tidak ingin membiarkan pria tersebut melarikan diri, Alais menarik pedangnya dan mengarahkan bagian ujungnya ke leher orang itu.
"Siapa kau? Kenapa mengikuti Nona Ashelia?"
.................. Bersambung .................
__ADS_1