
"I'll go straight."
Mengucapkan sesuatu namun tidak dipercaya oleh lawannya, Ashley hanya memberikan sebuah senyuman lembut. Begitu lembut hingga membuat Bellena merinding.
Seorang kesatria wanita yang menjadi musuh Ashley pun kembali mengambil posisi kuda-kudanya, bersiap untuk apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Dengan sebuah pedang yang ia genggam menggunakan kedua tangan agar lebih satabil, kesatria itu menatap Ashley yang juga mulai mengubah posisi berdirinya.
Sedikit menundukan badan sambil menggenggam erat tongkatnya, wanita pirang itu pun mulai melangkahkan kakinya maju dengan cepat. Berniat ingin menunjukan bahwa Ashley hanya membuang-buang waktu dengan melawannya, kesatria yang menjadi lawannya langsung mengayunkan pedangnya secara horizontal.
Namun siapa yang mengira wanita itu tidak bisa dihentikan hanya dengan satu ayunan kuat?
Menggenggam erat tongkatnya sambil memberi tekanan tambahan dengan tangan kanannya, Ashley menangkis pedang tersebut. Tidak berhenti di sana, diputarnya sedikit tongkat tersebut sebelum ia kembali berlari menghampiri lawannya. Wanita itu meluncur di sepanjang bilah baja tersebut, menciptakan suara nyaring yang lumayan menghibur baginya.
Setelah menguatkan tangan kirinya, Ashley kemudian memutar tubuhnya, melayangkan serangan sembari menahan pedang di sampingnya. Diarahkannya siku kanan wanita itu ke leher kesatria tersebut. Dengan gerakan memutar yang baru saja dilakukannya, serangan tersebut akan memberi daya hantam lebih.
__ADS_1
Sedikit terkejut dengan keberanian Ashley yang menerjang maju tanpa ragu demi mengincar serangan jarak dekat, kesatria itu tersenyum.
Ditangkapnya lengan Ashley kemudian, sebelum sempat menyentuh target serangannya. Menunjukan senyuman sombong, kesatria itu merasa ia telah berhasil menggagalkan upaya wanita 'tak berpengalaman' tersebut.
Sayang ia lupa, sejak awal, target utama wanita pirang itu bukanlah dirinya, melainkan seorang laki-laki yang berada di belakangnya.
Hanya diam mematung melihat pergerakan cepat kedua wanita itu, Joseph pun memasuki jarak serang Ashley tanpa ia sadari. Terlalu mempercayai pengawalnya, laki-laki itu bahkan tidak menjauh dari awal.
Baru menyadari maksud dari ucapan Ashley sebelumnya, senyuman di wajah kesatria pengawal Joseph pun memudar. Melihat Ashley yang berhasil menyentuh orang yang seharusnya ia lindungi, kesatria itu mulai merasakan amarah yang meluap keluar.
Memanfaatkan lengan Ashley yang masih berada di genggamannya, dilanjutkanlah tebasan pedang miliknya yang mengarah langsung ke pinggang wanita itu. Kali ini ia benar-benar harus membunuh Ashley.
Meluruskan lengan kanannya yang tersandera, Ashley kemudian memegang wajah kesatria itu dengan tangan yang sama, menjadikannya sebagai tumpuan untuk melepaskan diri. Didorongnya kemudian wajah kesatria sekuat tenaga hingga lengannya berasil terlepas, meninggalkan bekas genggaman yang mungkin akan tetap terasa untuk beberapa saat.
__ADS_1
Sedikit terdorong ke depan saat Ashley melepaskan diri secara paksa, kesatria tersebut langsung memutar pinggangnya ke samping dan kembali melancarkan sebuah serangan.
Dengan sigap Ashley pun menekuk tubuhnya ke belakang. Ia sadar musuhnya akan mulai agresif setelah ia berhasil melukai Joseph.
Bertumpu pada tongkatnya, wanita itu menekuk tubuhnya begitu rendah, menyaksikan pedang tajam melintas di depannya tanpa sedikit pun rasa bersalah dari sang pengguna. Kemudian, dengan satu dorongan kuat pada tongkatnya, Ashley pun kembali berdiri sembari menghadiahkan satu serangan balasan.
Serangan yang cukup mengejutkan kesatria tersebut.
Sebilah pedang muncul tiba-tiba dari dalam tongkat wanita itu. Ditunjukannya sebuah senyuman jahat dengan mata yang terbuka lebar, tenggelam dalam adrenalin yang membuatnya kecanduan.
Karena momen di mana musuhnya berhasil tertipu adalah momen yang paling ia sukai.
.................. Bersambung .................
__ADS_1