
Para pekerja yang bekerja di kediaman keluarga Midgraff dikagetkan dengan kehadiran seorang wanita muda yang baru menginjak usia 20 tahun. Wajahnya begitu ceria dan tingkahnya sangat menyenangkan hati.
Memang usianya terbilang masih muda, namun gadis itu justru terlihat jauh lebih muda, seperti baru berusia 16 atau 17 tahun.
Meski bukan bagian dari pekerjaannya, namun gadis itu membantu para pekerja di sana dengan penuh semangat.
Dengan menahan segala pertanyaan di dalam benak mereka masing-masing, para perkerja itu ikut terbawa suasana bahagia yang gadis itu pancarkan. Pekerjaan mereka pun terasa jauh lebih ringan daripada biasanya.
"Hati-hati di jalan, Nona." Salam Bellena dengan senyum lebar.
Hanya 2 hari terbebas dari kegiatan Ashley, Bellena menyadari betapa indahnya dunia yang ia tempati.
Entah mengapa udara yang ia hirup terasa lebih segar dan cahaya matahari terasa begitu hangat. Ia merasa masa depannya sangat cerah dan usianya akan panjang.
Ashley menatapnya sejenak.
"Lo keliatan seneng."
Bellena terdiam beberapa detik masih dengan senyum ceria yang menempel di wajahnya, sebelum akhirnya ia dengan cepat menundukkan badannya.
"Ampun, Nona!"
Cahaya yang terpancar dalam dirinya tiba-tiba menghilang.
Ia selalu merasa usianya memendek akibat ancaman dan tekanan yang selalu Ashley berikan kepadanya. Ia juga merasakan penuaan diri akibat rasa khawatir tiada henti yang selalu ia rasakan saat ada di sekitar dewi jahat itu.
Ashley tertawa dan mengijinkan Bellena untuk kembali, sebelum kemudian pergi menuju kasino dengan kereta keluarganya.
Bellena terus membungkuk hingga kereta yang Ashley tunggangi keluar dari gerbang.
Sekali lagi, keceriaannya kembali. Ia mengangkat kepalanya dengan senyum lebar yang sempat hilang tadi. Gadis itu pun kembali ke dalam dengan perasaan bebas, tanpa beban apapun.
...****************...
Sesampainya di kasino. Seperti sebelumnya, kereta kuda Ashley menunggu di depan sana, menyita perhatian beberapa bangsawan lain. Ashley yang sudah berada di dalam menghabiskan waktunya untuk mencoba permainan-permainan lain.
__ADS_1
Saat tengah mempelajari permainan baru, seorang laki-laki berdiri di sampingnya.
"Mau coba?"
Tanpa harus melihat orang itu, Ashley sudah mengenalinya. Bukan dari suaranya, justru dari aroma parfum yang orang itu pakai. Wanita itu sudah mengetahui siapa yang berdiri di sana bahkan sebelum Daryl mengajaknya bicara.
"Taruhannya?"
"Melepas topengmu, mungkin?" Jawabnya meski sudah pernah melihat wajah wanita itu.
"Yakin? Lo juga lepas satu benda yang lo pake kalo kalah."
Daryl seketika menoleh ke arah wanita yang sedang berbicara dengannya itu. Ia ragu. Ia tidak yakin semua yang ia pakai, termasuk pakaian dalamnya, akan cukup untuk menjamin giliran Ashley membuka topengnya.
"Jangan topeng kalau begitu." Jawabnya mengganti pertaruhan yang tidak sepadan tersebut.
Pada akhirnya, karena Ashley masih memiliki sekitar 100 koin, mereka pun bertaruh dengan menggunakan koin mereka secara normal. Kali ini tidak ada informasi apapun yang terkuak, namun Daryl sudah jauh lebih santai saat Ashley mengejeknya.
Sedikit berbeda dengan kemarin, Ashley yang pergi dengan 300 koin emas, kini kembali dengan 480 koin emas. Dengan modal 100 koin emas, wanita itu bahkan bisa mendapatkan keuntungan hampir 400%.
Sebenarnya bukan strateginya yang buruk, Daryl hanya terlalu fokus pada rencananya. Ia terlalu memikirkan antisipasi untuk tidak terbaca oleh lawan, namun juga tidak berusaha membaca lawan. Tanpa ia sadari Ashley selalu memanfaatkan hal yang ia abaikan dan berhasil menang.
Bisa menghabiskan waktu dengan wanita itu saja sudah cukup memuaskan Daryl. Bahkan ejekan Ashley juga terasa menyenangkan bagi pria yang emosinya sempat mati itu.
Menghabiskan waktu dengan Daryl juga cukup menyenangkan bagi Ashley. Tentu karena ia bisa mendapatkan uangnya kembali. Apa yang kau harapkan?
Keesokan harinya, cuaca di Vinnas tidak terlalu cerah. Matahari hanya terlihat sesekali sebelum akhirnya kembali tertutup awan.
Hari itu Marion akan berangkat mengunjungi acara peresmian hotel baru yang dibangun oleh keluarga Moro. Karena Vincent harus menghadiri acara lain, ia tidak bisa ikut bersama Marion. Alhasil, ia hanya pergi ditemani oleh pelayan pribadinya yang setia dan seorang kesatria yang selalu mengawalnya.
Hari mulai siang, dan kereta Marion sudah siap menunggunya di depan pintu utama.
Awan mendung mulai menyelimuti langit di sana. Mereka pun bergegas pergi sebelum hujan turun.
Seorang gadis yang sedari tadi hanya berolahraga menguatkan otot-otot di tubuhnya, menatap keluar jendela. Ia melambaikan tangan saat menyadari ibu tirinya juga tengah melihat ke arah jendela kamarnya.
__ADS_1
Tanpa membalas lambaian tangan Ashley, Marion beserta 3 orang lainnya pun pergi meninggalkan kediaman keluarga barunya.
...****************...
Petir mulai menyambar sesaat sebelum mereka meninggalkan gerbang perbatasan Lozan. Awan mendung yang berada tepat di atas mereka pun terihat tidak sanggup lagi menahan air.
Hujan mulai turun sejak mereka memasuki lembah wilayah Hibis. Tetesan air yang berjatuhan dari langit itu semakin lama semakin deras, membuat jarak pandang kusir mereka terganggu.
Kesatria yang mengawal Marion pun menawarinya untuk mencari tempat berterduh sebentar jika ia merasa tidak nyaman. Namun, Marion memilih untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin ia sangat merindukan keluarganya hingga tidak bisa menunda lagi.
Meski melambat, mereka pun tetap melanjutkan perjalanan mereka. Karena jalanan yang licin, kusir itu harus lebih berhati-hati saat mengendalikan kereta kudanya.
Hanya suara hujan dan gemuruh petir yang terdengar sebelumnya, hingga saat suara hantaman keras terdengar dari bagian depan kereta.
Kuda mereka menjadi sedikit tidak terkendali karena terkejut. Merasakan guncangan saat ada di dalam kereta, Marion bertanya tentang apa yang terjadi.
"Tetap di dalam, Nyonya." Ucap kesatria itu singkat sebelum Marion sempat menyelesaikan kalimatnya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara tawa dari beberapa orang di luar. Mengetahui bahwa mereka sedang di serang, pelayan pribadi Marion berusaha melakukan sesuatu untuk melindungi nyonyanya.
Suara keributan mulai terdengar dengan jelas. Beberapa orang menggebrak-gebrak pintu kereta manun kemudian hilang tidak terdengar lagi. Kesatria Marion memang sangat handal, namun jumlah orang yang menyerang mereka sangatlah banyak.
Bukan bandit.
Kesatria itu yakin jika mereka adalah suruhan seseorang. Sebagai bagian dari faksi timur, ia mencurigai orang-orang faksi baratlah yang menjadi dalang dari penyerangan tersebut.
Saat para pembunuh bayaran itu menyibukan perhatian kesatria Marion, dua orang dari mereka pergi menuju pintu kereta. Salah satunya bertugas mengawasi saat yang satu lagi bertugas menyingkirkan Marion.
Meski terkunci, pria itu berhasil membuka paksa pintu kereta kuda tersebut dengan merusak engselnya. Dilihatnya kedua wanita di dalam sana yang tengah menatapnya dengan wajah ketakutan. Ia kemudian menarik salah seorang dari mereka yang memakai gaun mahal dan hendak menikamnya langsung.
Wanita dengan pakaian pelayan di belakangkangnya berusaha menghalaunya meski tahu ia akan terlambat.
"Jangan!"
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1