
Suara pukulan terdengar dari balik kerumunan. Begitu keras hingga yang mendengar pun akan merasakan sakitnya.
Salah seorang dari dua insan yang menjadi pusat perhatian, wajahnya berlumur darah. Beberapa giginya patah. Hidungnya juga patah. Bibirnya robek dan membengkak. Begitu pula matanya, yang membuat sulit untuk dibuka.
Wajahnya sangat merah karena terus menerus terkena pukulan yang begitu keras, tidak menyisihkan ruang untuk memar dan pembengkakan baru. Wanita yang memukulnya memang sama sekali tidak menahan diri. Bukan hanya wajah, perutnya pun menjadi sasaran wanita tersebut.
Tubuhnya terdorong ke belakang dan langsung ditangkap oleh para penonton yang menyaksikannya. Didorongnya kembali pria itu ke tengah sana mendekati bosnya dan langsung disambut oleh pukulan berikutnya. Total 5 pukulan di muka dan 3 pukulan di perut.
Meski hampir terjatuh ia tetap berusaha berdiri ke posisi awal. Di pukulnya sekali lagi pria itu di bagian perut. Isi perutnya serasa akan keluar akibat pukulan tersebut namun tidak bisa. Hanya air yang ia muntahkan.
Sekali lagi, ia mencoba berdiri. Kembali ke posisi semula untuk menerima pukulan Ashley.
Pukulan itu pun melayang ke wajahnya yang sudah sangat babak belur. Namun kali ini jauh lebih keras hingga kesadarannya hilang untuk sesaat.
Bukan hanya dirinya, dua ketua regu yang lain juga babak belur di hajar olah wanita itu minggu lalu. Ketua dari para regu yang gagal menjalankan misi saat berada di bawah pimpinan Ashelia.
Selama seminggu berkutat dalam penataan kembali organisasinya yang berantakan karena seorang gadis dari dunia lain, suasana hati Ashley menjadi sangat buruk. Bukan hanya membuat semua bisnisnya berantakan, Ashelia juga merusak hierarki organisasi tersebut dengan menyetarakan semua tingkat.
Kesetaraan memang hal yang baik, namun struktur organisasi dibentuk bukan karena tanpa alasan.
Karena semua pekerjaan itu, Ashley harus menunda penyerangan balik yang hendak ia lakukan terhadap kelompok yang menyerangnya minggu lalu.
Tidak cukup dengan semua itu, 3 operasi yang sudah terjadwal juga gagal seluruhnya dalam kurun waktu 2 minggu di bawah kepemimpinan Ashelia.
Ashley pun sadar, tidak heran jika Vincent tidak mempercayakan apapun kepada putri semata wayangnya itu.
Kegagalan operasi-operasi itu membuat Ashley marah karena itu bukanlah misi yang sangat sulit. Meski tanpa dirinya, regu yang beranggotakan 5 sampai 7 orang itu harusnya mampu menjalankannya dengan baik.
Seorang pemimpin, memegang tanggung jawab penuh atas bawahannya. Karena itu, sebagai hukuman, ketua regu harus menerima pukulan dari Ashley berdasarkan banyaknya jumlah anggota regu mereka.
Namun ada satu yang mendapat perlakuan khusus, regu ketiga dengan anggota 4 orang yang gagal menjalankan misi. Bukan dalam artian baik tentunya.
Berbeda dengan kegagalan dari dua yang lain, yang mengaku gagal karena salah komunikasi, kegu ketiga gagal karena ketua mereka meninggalkan misi.
Setelah menghilang selama seminggu, akhirnya ia ditemukan dan diseret kembali ke markas untuk menghadap Ashley dalam keadaan sudah babak belur. Dialah orang yang sedang dihajar oleh wanita itu.
Anehnya, saat melihat Ashley dengan aura intimidasi yang begitu kuat, raut wajahnya berubah menjadi lega sekaligus menyesal.
__ADS_1
Laki-laki itu kemudian jatuh dalam posisi berlutut dan meminta maaf kepada Ashley.
Bukan yang lain, tapi kaki Ashleylah yang menyambut wajahnya.
Wanita itu kemudian berjongkok dan langsung menarik kerah laki-laki di hadapannya.
"Lo bosen idup?"
Tidak mampu menjawab pertanyaan bosnya, wajah sedihnya semakin terlihat jelas. Layaknya seseorang yang hampir kehilangan semua alasan hidupnya.
Ashley kemudian menyuruhnya berdiri, dan langsung ia patuhi. Wanita itu memberinya kesempatan untuk bicara setelah ia menerima 10 pukulan Ashley dan masih bisa berdiri.
Seperti seseorang yang tengah pemperjuangkan sesuatu yang begitu berharga baginya, ia terus bangkit.
Setelah menerima 10 pukulan, meski sempat kehilangan kesadarannya sesaat, hanya dalam hitungan detik ia kembali berusaha untuk berdiri lagi.
Dengan tubuh sempoyongan, ia menanamkan kakinya di lantai dan mencoba berdiri tegap. Liur bercampur darah mengalir dari mulutnya yang terbuka. Ia bernapas menggunakan mulut karena hidungnya tersumbat darah.
Ashley mendorong dadanya sedikit dan membuatnya hampir terjatuh. Masih ingin menunjukan keteguhannya, ia kembali ke posisi awal.
Dengan rasa sakit yang menjalar di seluruh rahangnya, ia mencoba menggerakan bibirnya perlahan.
"Maaf... karena meragukan... Anda..."
Matanya kini menatap ke lantai, mencoba fokus dengan apa yang hendak ia sampaikan.
"Melihat Anda berubah... menjadi... orang lain dan... tidak mengenali- saya... membuat saya merasa... kehilangan..."
Suaranya terdengar semakin parau. Dahinya berkerut menunjukan kekacauan yang ada di dalam hatinya. Ia terdiam sejenak karena rasa mengganjal yang ia rasakan di tenggorokannya. Dengan suara yang begitu berat dan penuh rasa sakit ia berkata,
"Ada adalah... alasan hidup saya..."
Sambil menundukkan kepalanya ia mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam.
"Tolong... jangan tinggalkan saya."
Air mata mengalir dari kedua matanya. Ia tidak sanggup lagi menahannya.
__ADS_1
Bagi orang lain, mereka hanyalah sekumpulan penjahat yang tidak berperikemanusiaan. Orang-orang yang hanya akan dicap sebagai kriminal dan tidak akan pernah dipandang sebagai manusia. Orang-orang yang pantas mati dan tidak pantas ditangisi.
Bagi mereka yang tidak memiliki tempat lain di dunia ini, organisasi Ashley adalah satu-satunya rumah mereka. Sedangkan wanita kejam tak bermoral itu adalah orang yang pertama kali menerima keberadaan mereka.
Ialah penyelamat mereka, yang memberi mereka alasan untuk melanjutkan hidup, menerima diri, dan sekaligus membuat mereka bisa merasakan apa yang namanya 'hidup'.
Semua orang yang hadir di sana sangat paham dengan apa yang dirasakan laki-laki itu. Namun berbeda dengan mereka yang hanya menganggap Ashley sedang bermain-main, kepekaannya jauh lebih tinggi.
"Carlos."
Ia tersentak saat mendengar Ashley memanggil namanya setelah sekian lama, tanda bahwa wanita itu tidak pernah melupakannya.
Sebenarnya tidak sampai berbulan-bulan lalu, terakhir kali Ashley memanggil namanya. Namun bagi jiwa yang sempat tersesat sepertinya, itu terasa seperti sudah bertahun-tahun lamanya.
"Lo bisa nolak waktu gua tawarin buat join."
"Tapi sekali lo masuk, lo ga bakal bisa keluar."
Carlos hanya diam menatap Ashley saat wanita itu mengatakan hal yang sudah ia ketahui. Namun itulah masalahnya.
"Mati pun lo tetep jadi aset gua." Lanjut Ashley dengan tatapan sinis.
Air mata laki-laki itu kembali mengalir. Ia kemudian menundukan kepalanya, menyadari jika ia telah melupakan hal yang paling umum. Ia telah bertindak bodoh dengan mempertanyakan hal yang sudah jelas terjawab sejak awal.
Tangan kanannya mengepal kuat di samping, dan tangan kirinya menutup kedua matanya, mencoba menahan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Dalam keheningan itu ia berbisik.
"Thank you."
Kalimat yang seharusnya menjadi kalimat ancaman itu justru berbakna berbeda baginya.
Merasa urusannya dengan Carlos sudah teratasi, Ashley berbalik pergi menuju ruangannya. Akan tetapi, niatnya harus tertunda karena kedatangan seseorang.
Pria dengan rambut hitam, mata hitam, kulit sawo matang, dan perawakan tinggi berotot muncul dari balik pintu lift yang baru saja terbuka. Ashley merasakan perasaan déjà vu yang sangat kuat.
'Papa!?'
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1