Cinderella Gila

Cinderella Gila
Aku hanya memberimu pilihan


__ADS_3

Niat sang penjaga untuk menjauhi kedua wanita di sana kembali ia urungkan saat melihat Eva mengangkat kedua tangannya. Ekspresi wajah bingung disertai gestur yang menunjukan bahwa Eva tidak berniat buruk, mampu menurunkan kewaspadaan laki-kaki tersebut.


Sepenuhnya jatuh dalam pengalihan perhatian yang dilakukan Eva, penjaga itu dikejutkan oleh sesuatu yang tiba-tiba menghantam sisi kiri lehernya. Bukan sekedar pukulan, ia merasakan sesuatu tertancap ke dalam lehernya.


Melihat laki-laki tersebut spontan mengangkat pedangnya kembali dan hendak melakukan serangan balasan, Eva langsung menendang pergelangan tangan si Penjaga. Di saat yang bersamaan, Ashley juga menekan pisaunya kuat lalu menariknya ke samping, menyayat lebar leher pria itu.


Diambilnya pedang yang terlepas dari tangan laki-laki tersebut oleh Eva. Mengayunkan benda berat itu layaknya sebuah kapak, ia mengakhiri hidup manusia di hadapannya.


Suara jatuhnya metal tajam tersebut ke lantai, menggema di sekeliling mereka. Beberapa hewan buas yang mencium bau anyir dari kandang kedua gadis itu pun mulai ikut bereaksi.


Eva memang melakukannya untuk melindungi Ashley, namun hal tersebut tidak dapat menghapus fakta bahwa sebenarnya mentalnya masih belum siap untuk membunuh seseorang. Jantungnya berdegup kencang seiring dengan napasnya yang tidak beraturan.


Dilihatlah kemudian, kedua tangannya sendiri yang tidak juga berhenti gemetar.


"Dia tetep mati meski lo ga ngapa-ngapain." Ucap Ashley menyela lamunan Eva sembari merangkak mengambil pedang yang tergeletak di sana.


"Lo cuma ngakhirin penderitaan dia." Lanjut si Pirang yang kemudian mencoba berdiri dengan bantuan pedang di tangannya.


Meski tidak sepenuhnya menghilang, namun ucapan Ashley mampu membuat Eva merasa jauh lebih baik. Wanita itu selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk mengendalikan persepsi orang lain.


Tidak terbebani seperti sebelumnya, Eva pun melangkah mendekati wanita pirang tersebut lalu membantunya berdiri.


Tanpa kaki palsu miliknya, tentu mobilitas Ashley akan terhambat. Tidak terkecuali untuk sekedar berjalan keluar dari sana. Maka dari itu, Eva membantu memapah wanita tersebut dan mengambil pedang yang dibawa Ashley.


Meski sudah kembali ke posisi semula, namun tangan kiri Ashley tetap tidak boleh digerakan untuk sementara waktu. Karenanya, ia harus merelakan kesiagaannya saat memilih untuk berjalan.


Keluar dari kandang itu dan melangkah menuju satu-satunya akses masuk ruangan tersebut, mereka dihentikan oleh pemuda yang juga terkurung di salah satu kandang.


"Hey, bantu aku keluar." Ucapnya dengan wajah cerah sekaligus mencurigakan.


Datang dengan kepala tertutup karung, Ashley tidak menyadari adanya orang lain selain Eva yang terkurung di sana. Tidak bersuara dan tidak bersebelahan, mereka memang sengaja ditempatkan berjauhan agar tidak dapat berunding.

__ADS_1


Terlepas dari ketidak pedulian Ashley terhadap orang-orang tersebut, membebaskan mereka untuk mengacaukan perhatian penjaga gudang bukanlah hal yang buruk.


Hanya saja, laki-laki yang berbicara dengannya dari balik jeruji tersebut terlihat 100% seperti seorang pengkhianat. Beberapa laki-laki di belakangnya pun tampak seperti orang-orang yang tak bisa diharapkan.


Bukan berniat merendahkan, Ashley sebenarnya hanya waspada terhadap orang asing yang bisa saja sengaja bertingkah tidak membahayakan padahal aslinya adalah musuh. Dengan keadaannya yang sedang tidak begitu baik, ia ingin meminimalisir masalah yang harus dihadapinya.


Lagipula, Ashley telah memiliki kandidat yang jelas bukan sekutu dari para pekerja di sana. Karena musuh dari musuhmu adalah kawan, bantuan orang itu jauh lebih menjanjikan dibanding para tahanan yang belum jelas asal usulnya.


Tanpa mempedulikan para tawanan laki-laki tersebut, Ashley dan Eva pun berniat pergi melanjutkan pelariannya. Namun keputusan tersebut tidak dapat diterima oleh pihak yang diabaikan.


Geram, laki-laki yang masih berdiri dibalik jeruji besi itu kemudian berteriak memanggil penjaga. Mengatakan jika ada tawanan yang melarikan diri, ia berniat menggagalkan rencana Ashley.


Jika ia tidak bisa keluar, maka tidak ada yang boleh keluar. Begitu pikirnya.


Melepaskan tangannya yang melingkar di pundak Eva, Ashley dengan cepat menarik pisau kecil yang tersimpan di dalam kalungnya dan menancapkan benda tersebut ke leher si Sirine. Layaknya sebuah kunci, ia memutar pisaunya guna mematikan alarm hidup itu secara paksa.


Ditariknya kemudian kunci tersebut oleh si Ahli Kunci, membiarkan korbannya menikmati momen paling menyakitkan sebelum ia menemui ajalnya. Menutup bagian depan lehernya yang terus menyemburkan cairan merah, sang korban mengharapkan sesuatu yang jelas tidak mungkin terjadi.


Melihat salah satu rekan sekandangnya terbunuh, tawanan yang lain bergeming. Para laki-laki yang sedari tadi hanya diam tersebut semakin tidak berani membuka mulut mereka.


"Ada lagi?" Tanya Ashley yang tidak mendapat jawaban, barang gelengan kepala sekali pun.


Ekspresi wajah mereka tampak pasrah dan tidak ingin memperburuk keadaan. Entah hanya berpura-pura atau mereka memang tidak memiliki keinginan untuk melarikan diri?


Kembali beranjak pergi dari sana, Eva lalu berhenti sekali lagi meski baru berjalan beberapa meter. Jujur saja, Ashley sedikit terganggu dengan tiap perhentian yang terasa seperti sedang menggunakan transportasi umum tersebut. Namun apa boleh buat? Yang satu ini benar-benar menyita perhatian Eva.


Dapat dilihatnya sebuah kandang yang juga berisi tawanan manusia di sisi kanan Eva. Hanya bedanya, kandang tersebut berisikan beberapa gadis yang usianya mungkin belum menginjak 20 tahun.


Meminta Ashley untuk menunggu sejenak, Eva pun menurunkan tangan wanita tersebut dan bergegas menuju kandang tempat mereka tersekap sebelumnya.


Kembali tanpa mengatakan apa pun, Eva menghampiri pintu kandang yang ada di sisi kanan Ashley. Dengan kunci di tangannya, terlihat jelas apa yang sedang ia rencanakan.

__ADS_1


Ditahanlah kemudian lengan Eva oleh Ashley, menunda penambahan personil tanpa ijin tersebut. Melirik ke arah para gadis di dalam sana, Ashley mendapati sesuatu yang tidak terlihat dari tawanan laki-laki yang mereka temui sebelumnya.


Tatapan penuh kesungguhan, dendam, amarah, dan kebencian. Sorot mata yang seolah berteriak-


"Aku akan bertahan hidup!"


Kau bisa berpura-pura, kau bisa merubah kepribadian untuk mengelabuhi seseorang, namun korban yang asli akan terlihat asli hanya dengan sekali lihat.


Setidaknya bagi Ashley.


Meski tidak seluruhnya terlihat waspada saat bertatapan dengan Ashley, namun wanita itu percaya jika mereka semua bukanlah sekutu dari pengelola gudang. Alasan yang cukup untuk membuat Ashley melepaskan lengan Eva.


Tidak memiliki waktu untuk mencari satu persatu kunci yang tepat, dilemparkanlah benda tersebut ke dalam kandang. Dengan tatapan yang tidak kalah dingin dari wanita pirang di sampingnya, Eva memberi mereka kesempatan kabur sambil berkata,


"Aku hanya memberimu pilihan. Kau yang menentukan."


Oh? Ashley pikir Eva akan sangat melunak setelah melihat orang-orang yang bernasib sama sepertinya. Namun wanita itu memang hanya bersikap ramah kepada orang-orang tertentu saja.


Melanjutkan rencana mereka keluar dari sana, kedua wanita itu pun pergi ke lokasi yang telah didetapkan sebelumnya. Berdasar pada arahan dari si Pirang, Eva memapahnya menuju ruang penyekapan Ashley sebelum dipindah karena kedatangan tamu yang 'lebih penting' darinya.


Meski tanpa menggunakan indera pengelihatannya, Ashley tetap bisa membaca arah dengan baik. Selama bukan terbang dengan pesawat atau berlayar menggunakan kapal, ia masih bisa mengatasinya.


Sampai di tujuan, dilihatnya dari kejauhan, pintu yang terkunci tanpa penjagaan tersebut. Berbeda dari kandang tempatnya terkurung, pintu tersebut dikunci menggunakan gerendel.


Sebagai tempat menyekap 'orang penting', Ashley sangat menyayangkan penjagaan yang sangat longgar tersebut. Sebesar apa kesombongan mereka hingga benar-benar merasa bahwa orang yang mereka tangkap tidak akan bisa kabur?


Yah, di sisi lain itu justru membantu Ashley. Jadi bukan masalah.


Dibukalah ruangan tersebut dengan begitu mudahnya, menampakkan sesosok pria yang tidak asing bagi kedua wanita di sana.


"What the f*ck." Sahut si Pirang seketika, tidak percaya dengan siapa yang dikurung di sana.

__ADS_1


.................. Bersambung .................


__ADS_2