
Memahami laki-laki yang ada di depannya akan kembali menyerang saat Ashley membalas lawannya yang satu lagi, wanita itu berusaha kembali ke posisi bertahan. Sayang pijakannya saat ini tidak cukup stabil untuk melakukan hal itu.
Dimanfaatkannya momen tersebut oleh orang yang sedari tadi masih beradu kekuatan pedang dengan Ashley. Berusaha menghabisi wanita itu sesegera mungkin, diperkuatlah tekanan pedang miliknya yang langsung terarah ke leher wanita tersebut.
Tidak mampu melakukan serangan kaki untuk melepaskan diri karena jarak mereka terlalu dekat, kini Ashley juga dibuat tidak mampu melakukan pertahanan.
Namun itu bukan berarti mereka berhasil memojokan wanita tersebut.
Sambil terus menahan pedang orang itu dengan tongkatnya, Ashley berusaha mengubah arah serangan laki-laki tersebut. Ia menggerakan kepalanya kesamping membiarkan bilah tajam itu melintas tepat di atasnya memotong ratusan helai rambut pirang miliknya yang terlambat turun.
Bukan hanya sekedar menghindar, ia juga berniat melakukan serangan dengan tangan kanannya yang tidak lagi tertahan.
Diayunkannya pedang miliknya ke tubuh yang terbuka lebar tanpa pertahanan milih laki-laki tersebut.
Melihat nyawanya yang berbalik dalam bahaya, laki-laki itu pun melangkahkan kakinya mundur menjauhi Ashley. Darah segar mulai mengalir keluar dari balik kulitnya, membasahi kain bajunya yang tergantung karena robek.
Serangan Ashley memang mengenainya, namun tidak cukup dalam. Bukan karena ia berhasil menghindar, tapi karena nyeri di lengan gadis itu semakin mengganggu. Ia telah mengerahkan kekuatannya, namun seakan tidak tersalur dan justru terhambat di lengan, Ashley tidak mampu memberikan tekanan yang kuat pada pedangnya.
Wanita itu mengambil beberapa langkah mundur karena merasa posisinya hampir terkepung.
Jalan gang yang mereka lewati memang lumayan sempit, tapi bagian ujungnya cukup lebar.
Awalnya Ashley berniat menjaga kedua orang itu tetap berada di jalan sempit tersebut agar lebih mudah bagi wanita itu untuk melihat pergerakan mereka. Akan tetapi, orang yang menyerang kakinya dengan pisau berhasil menerobos penjagaannya.
Diperhatikannya kedua laki-laki itu secara bergantian. Salah satu dari mereka pasti akan berlari ke bagian belakang Ashley untuk mengepungnya atau menggunakan Kalia sebagai sandera jika keadaan tidak menguntungkan.
Lalu orang yang bertugas menyerang untuk membatasi pergerakan Ashley adalah,
si pedang.
"Mati kau, s*alan!" Teriak laki-laki itu penuh amarah.
Ashley langsung menukar posisi pedang dan tongkatnya sambil bergumam.
"Kalo harus mati,"
Mengimbangi rencana mereka berdua, dilemparkanlah tongkat tersebut dengan cepat ke arah kaki si pembawa pisau yang hendak berlari.
Tongkat panjang yang berhasil terselip di pergelangan kaki orang itu membuatnya jatuh tersungkur mencium jalan.
Di saat bersamaan, pedang di tangan kiri Ashley juga sukses menangkis serangan si pedang. Didorongnya pedang itu menjauh sebelum wanita itu kemudian mempersempir jarak mereka dalam satu langkah.
Berhasil mengejutkan laki-laki yang tidak sanggup menggunakan pedang panjangnya karena jarak mereka terlalu dekat, Ashley lanjut memberinya kejutan yang lain.
__ADS_1
Tanpa membiarkan tiap milidetik terbuang sia-sia, wanita itu meraih pisau yang ia selipkan di celana belakang. Pisau yang ia ambil dari tangan korban ke-dua sebelum sempat jatuh ke tanah.
Dari jarak sekitar setengah meter itu, Ashley langsung menghunuskan pisau barunya ke tenggorongan laki-laki tersebut. Sangat tepat dan menancap sempurna hingga bagian pangkal.
Wanita itu menghindar ke samping saat orang itu mulai menyemburkan darah dari dalam mulutnya.
"Gua mending mati di dunia gua sendiri." Lanjutnya.
Sambil memberi tubuh lemah itu sedikit dorongan, Ashley menarik pisaunya membiarkan air mancur merah tercipta seiring dengan tumbangnya tubuh tersebut.
"Lo pikir gua mau kejebak disini?"
Nyawa laki-laki itu perlahan mulai meninggalkan tubuhnya yang masih sesekali mengejang. Di sisi lain, temannya yang melihat orang itu terbunuh oleh Ashley kurang dari 5 detik merasa hanya memiliki satu pilihan akhir.
Mengetahui laki-laki itu tengah berlari menghampiri Kalia untuk menjadikannya sandera, Ashley langsung mengejarnya.
Bisakah hanya mengambil 3 'langkah cepat' dikatakan sebagai 'mengejar'?
"Nunduk!" Perintah Ashley tegas kepada gadis yang terlihat panik di sana.
Tanpa pikir panjang, Kalia lansung menunduk. Bukan hanya menunduk, ia berjongkok sambil memejamkan matanya erat. Kedua tangannya memeluk kepalanya sendiri, berusaha melindungi dirinya dari apa pun yang akan terjadi berikutnya.
Namun tidak ada hal lain yang terjadi setelah itu.
"Dengerin kalo gua lagi ngomong, anj***." Ujar Ashley seolah ia sedang berada di tengah-tengah pembincangan.
Tidak ingin dihujani dengan cairan merah yang sulit dibersihkan tanpa air, wanita itu langsung mendorong tubuh laki-laki tersebut ke samping.
Tertebas dengan begitu halus dan cepat, kepala orang itu baru terlepas saat tubuhnya terjatuh ke kanan.
Jatuh dalam waktu yang hampir bersamaan, Kalia dapat mendengar ada sesuatu terjatuh tepat di depannya.
Dibukalah kedua matanya ingin melihat benda apakah itu dan apa yang baru saja terjadi. Sekujur tubuhnya menegang saat mendapati sebuah potongan kepala dengan mata terbuka lebar dan lidah terjulur tergeletak di depannya.
Seketika itu juga, Kalia memuntahkan semua isi perutnya. Wajahnya menjadi sangat pucat dan matanya mulai kehilangan fokus. Masih belum merasa baikan, ia terus muntah hingga kepalanya terasa sangat sakit.
Melihat tubuh gadis itu melemah secara drastis dengan kelopak mata yang hanya mampu terbuka sebagian, Ashley menendang kepala korban ke-empatnya itu menjauh. Ia tidak ingin penyebab kematian Kalia berubah menjadi 'muntah berlebihan'.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Terlepas dari nyeri di tangan yang membuatnya mampu merasakan detak jantungnya sendiri, rencana Ashley terbilang cukup sukses. Namun saat wanita itu pikir kejadian 'tak terduga' itu telah beralhir, ia mendengar seseorang datang menuju ujung jalan buntu tersebut.
Mengingat di sepanjang gang tersebut memang terdapat beberapa pintu yang merupakan akses belakang dari beberapa bangunan, ada kemungkinan jika orang itu adalah warga lokal biasa.
__ADS_1
Namun apa yang orang itu lakukan pada pukul 2 pagi, masuk melalui pintu belakang melewati gang yang terlihat tidak aman sama sekali? Bau darah di ujung gang tersebut bahkan cukup kuat untuk membuat siapa pun memilih pergi tanpa mengetahui apa-apa, jadi mengapa 'warga biasa' itu tetap melanjutkan langkahnya?
Bukankah itu karena tujuannya adalah 'seauatu' yang berada di ujung gang?
'Ashley' misalnya?
Setelah menyuruh Kalia untuk tenang wanita itu berjalan perlahan menuju ujung dinding, menghampiri tikungan di mana orang tersebut akan menampakkan diri.
Bersembunyi di balik dinding tersebut, Ashley mencoba mendengarkan dengan seksama suara langkah kaki yang berjalan menuju ke arahnya
.
Ada lebih dari satu. Jika pendengarannya benar, maka ada dua orang yang tengah berjalan mendekatinya. Bala batuan? Atau kedua orang tadi kembali setelah temannya mati?
Tenang dan menunggu waktu yang tepat, gadis itu menanti sambil menggenggam pisau di tangan kirinya yang ia letakan di depan dada. Untuk berjaga-jaga, tangan kanannya menggenggam pedang yang sudah berlumur darah tersebut.
Dalam keadaan seperti itu,
Merasa musuhnya telah sampai di jarak yang ia perkirakan, wanita itu langsung keluar secara tiba-tiba dan menusukkan pisaunya ke dada siapa pun yang berada di hadapannya.
siapa yang menyerang duluan adalah pemenang.
Wajah familiar yang ia lihat beberapa saat lalu, telah kembali. Orang yang tangan kanannya telah Ashley putus.
Terpaksa melepaskan orang itu lari bersama temannya, kini orang itu justru kembali menagih kematiannya.
Berhasil menyerang salah satu dari mereka dengan serangan telak, seharusnya wanita tersebut merasa sedikit diringankan. Akan tetapi, ia justru merasa ada yang salah.
Seseorang berdiri tepat di belakang orang yang Ashley tusuk. Bukan kebetulan, namun pria itu memang menggunakan orang di depannya sebagai tameng.
Ditusukanlah pedang Ashley pada bagian perut orang yang telah tersusuk dadanya tersebut. Tembus hingga belakang, wanita itu bermaksud menusuk kedua orang itu bersamaan. Namun sepertinya triknya terlalu kentara, membuat pria itu berhasil menghindar lagi.
"T-tunggu! Ini aku!" Teriaknya dari balik tameng manusia tersebut.
Pria itu memang memiliki suara yang sangat familiar dan wajah yang sangat Ashley kenal, namun kecurigaan wanita itu saat ini sangatlah tinggi.
Tengah malam, di wilayah yang sebenarnya adalah area yang cukup berbahaya, di sebuah gang buntu yang cukup dalam, alasannya berdiri di depan wanita saat ini saja sudah sangat perlu dipertanyakan. Belum lagi kemampuannya yang selalu mampu menghindari serangan Ashley sangatlah mencurigakan.
Pria dengan jabatan seorang Marquis namun selalu berkeliaran sendirian di malam hari, terlihat menganggur namun sangat kaya, sangat terkenal namun rakyat biasa tidak mengenali wajahnya, dari deskripsinya saja sudah terdengar sangat aneh.
Daryl.
Apakah laki-laki yang terus mengikutinya dengan alasan suka itu sebenarnya adalah musuh?
__ADS_1
..................... Bersambung .....................