Cinderella Gila

Cinderella Gila
Your turn


__ADS_3

Berencana meminta keringanan dengan mengingatkan Ashley atas jasa yang telah ia berikan, si Babak Belur mencoba bernegosiasi.


Dengan wajah datar tanpa ekspresi, Ashley mendengarkan alasan yang dilontarkan laki-laki tersebut. Tanpa mengatakan apakah informasi itu cukup atau tidak, wanita tersebut hanya berkomentar,


"Trus ga ada lagi?"


Tidak terlalu mengerti apakah itu adalah pertanyaan netral atau mengancam, kurir tersebut sempat dibuat ragu. Namun melihat raut wajah Ashley yang terlihat santai, ia pun mencoba yakin jika kalimat barusan murni hanyalah pertanyaan.


Mendengar kurir pertama mengakui bahwa dirinya tidak mempunyai informasi lain lagi, Ashley pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan bisnis mereka berdua.


Diangkatnya kemudian, pedang yang tergenggam di tangan kanannya. Lalu, diarahkanlah bagian ujung benda tajam tersebut oleh Ashley menyentuh leher mitra kerjanya.


Bergidik mengetahui Ashley hendak menyingkirkan dirinya untuk selamanya dari dunia, laki-laki itu pun menyuarakan rasa keberatannya. Akan tetapi, kalimatnya harus terhenti di tengah-tengah karena tenggorokannya berlubang.


Menekan dada orang tersebut menggunakan kakinya, Ashley kemudian menarik pedangnya kembali sambil mendorongnya jatuh. Tersedak darahnya sendiri, kurir malang itu harus meraskan penderitaan tersebut selama beberapa saat sebelum akhirnya kehilangan nyawa.

__ADS_1


Setiap milidetik yang berlalu memberinya rasa sakit dan siksaan tiada tara, membuatnya tidak punya pilihan lain selain meminta pertolongan pada Dewa Kematian. Siapa yang menyangka, orang yang sangat tidak ingin mati tersebut pada akhirnya justru sangat menantikan kedatangan sang pencabut nyawa.


Fakta bahwa ia gagal mengantar barang dan harus menerima pinalti telah ia kesampingkan saat nyawanya terancam oleh Ashley. Ia pikir, tidak masalah jika keluarganya harus kehilangan satu tangan atau kaki daripada ia harus kehilangan nyawa.


Sialnya, Ashley bukanlah orang yang cukup baik untuk melepaskan tangkapannya setelah wanita itu puas menggunakan mereka. Sedangkan Joseph adalah pengecualian, karena ia tahu pria tersebut juga tidak berumur panjang sejak awal.


Melirik wanita tua yang menjadi peserta terakhir, Ashley menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh orang tersebut.


Wajahnya begitu tegang, pupil matanya membesar dan gerak geriknya mulai aneh. Diliriknya kemudian, Alais yang berada tidak jauh darinya. Meski ia masih cukup lincah, ia sadar ia tetap tidak akan bisa mengalahkan pria tersebut.


Melihat ke sisi kiri, Bellena berdiri di belakang pintu dengan wajah pucat pasi. Ia bisa mengatasi gadis tersebut, namun jaraknya terlalu jauh. Sebelum sempat sampai ke sana, wanita sadis di hadapannya pasti sudah mengirimnya ke akhirat terlebih dahulu.


"Your turn."


Pikirannya melayang menerjang membuka setiap memori yang ia punya mengenai hal yang bersangkutan dengan Far. Terutama yang lebih dekat dengan keberadaan bos misteriusnya. Sesuatu yang dapat membuat Ashley merasa puas setelah mendengarnya.

__ADS_1


Terlalu tinggi, pemilik tempat tersebut sama sekali tidak memiliki informasi seakurat itu. Akan tetapi, sebuah ingatan tiba-tiba melintas di benaknya.


"O- orang-orang yang datang mengambil uang selalu berbeda-beda. Mereka hanya orang asing yang dibayar untuk mengambil barang."


"Tapi, beberapa dari mereka mengatakan hal yang hampir sama."


Terlepas dari kata-kata kasar yang selalu ia ucapkan, wanita tua tersebut berbicara dengan kalimat yang lebih tertata. Mungkin karena ia biasa berurusan dengan para saudagar dan bangsawan. Tanda bahwa Ashley harus berhati-hati, kalau-kalau orang itu mencoba bermain dengan kata-katanya.


"Sepertinya mereka pelanggan tempat pelacuran. Ada beberapa juga yang terlihat seperti pengawal." Lanjut wanita tua tersebut.


"Mungkin salah satu pemilik di sana tahu cara menemui Far."


Mendengar keterangan itu memang cukup memberi cahaya yang sempat redup dalam rencana Ashley. Diliriklah kemudian, satu-satunya kurir yang tersisa di sana oleh si Pirang.


Masih tersenyum tanpa rasa teror sama sekali dalam sorot matanya, pria itu berbalik menatap Ashley. Hanya bedanya, kali ini Ashley tidak membalas senyumannya.

__ADS_1


"Don't you think it's time to stop pretending now?" Ucap Ashley kemudian.


.................. Bersambung .................


__ADS_2