
Seorang pria paruh baya dengan tubuh berotot dan tato yang terlihat sampai ke leher, tengah duduk di ruangannya. Dua orang lainnya berdiri di depan meja pria tersebut menunggu respon yang akan ia berikan.
Duduk menyampingi mejanya, boss besar mafia itu sedang mengamati 3 buah foto yang ditunjukan kepadanya, foto-foto putrinya yang terlihat begitu bahagia berkencan dengan seseorang.
Ekspresi dingin dengan sorot mata sinis terlihat di wajah laki-laki itu.
"Saya tidak berniat mengancam, tapi saya masih punya copy-annya. Jika Anda setuj-"
Ucapan laki-laki itu terputus karena kini sebuah peluru telah menembus otaknya. Wanita yang berdiri disamping orang tersebut hanya diam seakan sudah menduga hal itu akan terjadi.
"You're a heartless one." Ucap pria tersebut mengetahui wanita itu tidak bergeming melihat atasannya terbunuh tepat di sampingnya.
"I don't think I need to use any emotion for a fool, sir."
Orang yang pria itu tembak tanpa keraguan sedikit pun adalah salah satu ketua pemegang kota pelajar yang berada di bawah pimpinannya. Kemudian, wanita itu adalah tangan kanan kepercayaan orang tersebut yang sebenarnya lebih berkompeten daripada atasannya itu.
"Jadi, gimana menurutmu?"
"Ashley memang bersikap berbeda akhir-akhir ini, tapi itu bisa juga hanya ektingnya. Saya rasa Anda lebih baik mengeceknya langsung jika ingin memastikannya, Pak."
Di saat mereka tengah membicarakan keanehan sikap Ashley, mereka tidak tahu jika wanita yang mereka bicarakan sedang meregang nyawa di suatu tempat, di perbatasan wilayah kekuasaannya.
Sadar akan dirinya yang kini telah kembali ke dunia asalnya, meski dalam keadaan krisis seperti itu, senyuman Ashley mengembang. Senyum lebar selebar jarak dunia Ashley dan Ashelia. Senyuman terbengisnya yang secara alami muncul sebagai perayaan atas kepulangannya.
Baku tembak yang terjadi saat itu merupakan sebuah sambutan yang meriah untuk kembalinya sang dewi kehancuran.
Sambil terus menekan luka di perut, digeledahnya bagian tubuh dan kakinya sendiri mencari senjata yang biasa ia bawa. Namun, tidak ada satu pun senjata di tubuhnya.
Tidak mungkin Ashley pergi tanpa setidaknya 2 senjata kesayangannya. Terlebih lagi saat keluar wilayah kekuasaannya.
Di tepuknya pundak Kenny yang tengah sibuk mencari celah untuk membantu bosnya melarikan diri. Laki-laki itu langsung menoleh saat merasakan tangan Ashley, khawatir akan kondisi wanita itu.
"Austin?" Tanya Ashley.
Kenny menatapnya bingung. Bukan karena tidak mengerti maksudnya, namun karena wanita itu menanyakan hal yang seharusnya sudah ia ketahui.
"...Anda meninggalkannya di markas." Jawab laki-laki itu agak ragu.
__ADS_1
"Hah...?"
Austin adalah nama yang ia berikan untuk PDP4,5-nya. Pistol yang ia beli tahun lalu, dan selalu ia bawa ke mana saja bersama dengan Jackson si pisau belati.
Berbeda dari bos yang ia kenal, sebelum pergi bersama Kenny, Ashley sengaja tidak membawa kedua senjata itu. Ia bahkan juga melarang Kenny untuk membawa senjatanya. Tentu Kenny hanya bisa mengikuti perintah bosnya tersebut dan berpikir jika mungkin hari ini tidak akan terjadi apa-apa seperti biasanya.
Siapa yang menyangka mereka akan mengalami hal sial, bertemu dengan salah satu organisasi yang dendam dengan organisasi mereka.
Kembali fokus pada situasi mereka saat ini, Kenny berkata,
"Lupakan itu. Kita harus fokus kabur sekarang."
Melarikan diri adalah hal yang tidak pernah Ashley sukai. Namun bagi laki-laki itu, keselamatan bosnya adalah yang paling utama saat ini.
"Tolong tahan sebentar. Kita pergi waktu Joan nembak jendela di sana."
Ashley menoleh ke belakang. Salah seorang anak buahnya tengah bersembunyi di balik pot batu hiasan kota. Ia tersenyum sambil memberikan jempol seolah berkata 'anda bisa mengandalkan saya'.
Dalam kata lain, wanita itu akan berusaha menahan mereka. Meski harus mati dalam prosesnya.
Ia kemudian bersandar di pot panjang yang sama seperti tempat anak buahnya bersembunyi. Ia terkekeh, meski itu sebenarnya membuat perutnya sakit.
Ia telah kembali. Tidak tahu apa yang terjadi tapi kini ia akhirnya telah kembali. Namun saat ia baru saja kembali, ia sudah berada dalam kondisi yang bisa merenggut nyawanya.
Seakan ia kembali hanya untuk mati.
Kesal. Wanita itu begitu kesal karena merasa dipermainkan oleh takdir.
Kenny masih mencoba menghalangi musuh mereka untuk tidak mendekat. Namun ia sendiri tidak akan mampu menghalangi mereka ber-6.
"Joan!" Panggil Ashley saat wanita itu hendak berbalik dan menembak.
Dengan menggunakan jari tengahnya yang ia tarik melintasi leher, Ashley memberikan isyaratnya. Sambil menunjukan wajah tawa seorang psikopat, Ashley mengisyaratkan kepada Joan jika wanita itu akan mati hari ini.
Anak buahnya tertegun sesaat sebelum akhirnya ikut menunjukan wajah senangnya. Ekspresi wajah yang akan ditunjukan seseorang saat ia menghadapi tantangan yang mengasyikkan.
"Kehormatan untuk saya, bisa bekerja dengan Anda, Bos." Ucap wanita itu mengantisipasi kematiannya.
__ADS_1
Inti isyarat tangan Ashley bukanlah untuk menyuruh Joan bunuh diri. Setidaknya bukan hanya Joan.
Jika dikatakan secara halus maka, 'Let's have some fun.' Namun lebih spesifiknya adalah, 'Let's f*ck them up. Kalo bakal mati, sekalian aja dipuas-puasin.'
Mengetahui rencana bosnya hanya dari isyarat tangan tersebut, Kenny menentang keputusan tersebut. Tangan Ashley langsung meraih kepala belakang laki-laki itu, kemudian menariknya dan membenturkannya di kening wanita itu.
"How 'bout you?"
Kenny memberinya tatapan sedih, sebelum akhirnya berubah serius dan menjawab,
"I'll die with you."
Ashley tertawa sambil memukul pelan kepala laki-laki di depannya. Kedua anak buahnya memang terlalu berpikiran negatif tanpa mempertimbangkan kemungkinan hidup. Namun ia juga tidak dapat menjanjikan hal itu kepada mereka.
Di pinggiran kota yang kini sepi dari orang dan hanya dipenuhi suara tembakan, mereka harus siap merenggut atau direnggut.
3 lawan 6, jumlahnya saja sudah tidak seimbang. Belum lagi Ashley sedang terluka dan tidak bersenjata. Saat pergi menyusul mereka, Joan hanya membawa Scorpion sebagai senjata cadangan, dan itu sudah diberikan kepada Kenny untuk melindungi Ashley.
"Tommy gun? Gila. Dari awal lo emang mau perang, hah?" Tanya Ashley sambil berbalik untuk melihat musuh mereka.
Joan tertawa,
"Insting saya tidak kalah dari Anda, Bos."
Tidak ada AR atau SR, sepertinya kelompok patroli bersenjata itu juga tidak sengaja bertemu dengan Ashley. Merasa menemukan ikan besar, mereka pun mulai melancarkan serangan. Jika demikian, maka kemungkinan adanya Sniper memang rendah.
Meski begitu, mereka tetap menyulitkan, karena berbekal SMG dan bukannya pistol.
Ashley menepuk pundak Kenny, sambil menunjuk ke arah orang yang sedang bersembunyi di sisi kiri. Ashley memberitahunya untuk pura-pura tidak tahu dan membiarkan orang itu sedikit mendekat, menjauhi zona perlindungan temannya.
Joan pun mulai menembak mengikuti aba-aba Ashley, membuat orang-orang yang menjadi musuh mereka bersembunyi sejenak menghindari peluru. Ashley kemudian mengambil resiko berbahaya dengan menyelinap ke depan.
Setiap pergerakan yang ia lakukan membuat lukanya tergesek dan mengembalikan pendarahannya lagi. Fokus pandangannya sesekali kabur dan ia harus memejamkan matanya sejenak untuk mengembalikannya. Saat itulah, orang yang menyelinap ke sisi kiri mereka melihat Ashley.
Dengan Uzi di tangannya, ia menodongkan senjatanya ke arah wanita tersebut.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1