
Setelah memperingatkan Kalia untuk tidak memperpanjang masalah, calon penerus Duke Derius itu pun berdiri dan menyuruh salah satu pelayannya untuk mengantarkan Ashelia mengganti gaunnya.
Melihat pelayan pribadinya datang dari kejauhan, Ashley menjawab,
"Ga perlu."
Matanya melihat ke arah gadis yang berlari mendekat tersebut, membuat laki-laki di depannya dan semua orang yang ada di dekatnya menoleh ke arah yang sama.
Langkah kaki Bellena melambat karena kini semua mata tengah memperhatikannya. Bukan gugup karena dilihat oleh banyak orang, ia khawatir jika ia telah melakukan kesalahan dan semua orang di sana tengah menunggu penghukumannya.
Yakin jika ia kembali sebelum 10 menit, Bellena percaya jika nonanya tidak akan marah. Ia pun memberanikan diri untuk berjalan mendekat.
"S-saya hanya menemukan ini, Nona." Ucap gadis itu sambil menyerahkan kayu yang ia bawa dari luar.
Gadis bergaun kuning yang menggantikan Bellena, sudah tak terlihat di sana. Ia langsung pergi secepat mungkin setelah melihat kedatangan Bellena, disaat semua orang sedang fokus mencari apa yang tengah dilihat oleh Ashley.
Panjang kayu yang Bellena bawa, lebih panjang dari tongkat Ashley. Melihat ujung kayu yang seperti baru patah, jelas jika Bellena tidak menemukannya melainkan sengaja mematahkannya. Entah pohon mana yang ia patahkan dan bagaimana caranya.
Melihat penampilan Bellena yang lebih parah daripada sebelumnya, membuktikan bahwa ia telah berusaha keras untuk mendapatkan kayu tersebut. Ashley pun merasa pus dengan kinerja gadis malang itu.
wanita itu kemudian mencoba berdiri setelah menerima kayu pemberian Bellena. Mengetahui gadis berkursi roda tersebut berniat untuk berdiri, pria di depannya pun mengulurkan tangannya.
Sambil tersenyum Ashley menerima kebaikannya. Tangan kanannya menyambut tangan pria itu. Namun saat ia hendak berdiri, lengannya terasa sangat sakit. Begitu nyeri hingga ia sendiri terkejut.
Ditatapnya lengan kanannya sendiri. Rasa sakitnya berpusat pada tempat yang sama, tempat tangannya di genggam dengan kuat oleh kakak Kalia. Mungkinkah retak ringan? Namun Ashley pun tidak mendengar suara retakannya.
Melihat Ashley yang akhirnya menunjukan ekspresi sakit meski hanya sepintas, pria itu langsung menyarankan wanita itu untuk tetap berada di kursinya.
Di sisi lain, Daryl yang juga melihat ekspresi Ashley, tidak mampu menghilangkan raut wajah wanita itu dari ingatannya. Untuk pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang begitu mengganggu hingga ingin mengulang kembali waktu.
Penyesalan.
Ia menyesal tidak ikut campur dan membiarkan Ashley menangani semuanya sendiri. Ia menyesal hanya melihat dari kejauhan dan membuat wanita itu terluka.
__ADS_1
Rasa sakit di dadanya telah membuatnya sadar. Bukan hanya tertarik, tapi ia memang menyukai wanita gila tersebut.
"3000." Ucap Ashley tiba-tiba memecah lamunan Daryl.
"Tangan asli mahal, lo tau?"
Wanita itu melihat ke arah kakak beradik yang berada di belakang calon Duke tersebut. Kemudian ia kembali menatap laki-laki di hadapannya dan berkata,
"Lo yang bayar apa mereka yang bayar?"
Ucapan tersebut jelas-jelas adalah sebuah ancaman, yang justru dapat dilaporkan dan berbalik menyarang Ashley. Namun melihat memar di lengan gadis itu, membuat kakak tertua Kalia merasa bersalah.
Tanpa ragu, ia pun menyanggupi kompensasi yang diajukan oleh Ashley. Ia juga menawarkan seorang kesatria yang akan mengawal Ashley saat ia kembali ke kediamannya. Tidak hanya itu, ia juga berkata akan mengganti gaun Ashley namun mungkin modelnya akan sedikit berbeda.
Puas dengan penawaran yang pria itu berikan, Ashley tersenyum. Ia juga menyebutkan jika gaunnya tidak perlu diganti karena ia tidak suka memakai gaun.
Wanita itu kemudian mengoper tongkat penberian Bellena ke tangan kanannya. Ia kembali mencoba berdiri, dan lagi, pria itu hendak membantunya. Begitu pula Daryl yang berada di samping pria itu sejak tadi.
"You're so kind, you deserve a chance."
Sedikit salah pahan dengan kata 'kesempatan' yang diucapkan wanita itu, ia justru berterimakasih karena Ashley telah memaafkan adiknya.
Wanita itu tertawa dan mengatakan jika hal yang ia maksud adalah masalah yang lain. Tidak mengerti dengan maksud ucapan gadis di depannya, pria itu hanya menatapnya bingung.
Masih sambil menunjukan senyuman ramahnya, Ashley memindah tongkatnya ke tangan kiri. Namun ia tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh.
Daryl yang juga terkejut, kalah cepat dengan kakak sepupunya. Ditangkapnya tubuh gadis itu yang justru langsung memeluknya erat dengan tangan kirinya.
Suara tongkat kayu yang terjatuh, menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Setiap orang yang ada di sana terbelalak menyaksikan kejadian tersebut. Sangat jelas jika Ashley memang sengaja melakukannya.
Seperti wanita yang menggoda seorang pria.
Mereka semakin dibuat terkejut dengan sikap wanita itu. Reputasi Ashelia pun berubah dari gadis hedonis, ke licik, dan kini menjadi penggoda suami orang.
__ADS_1
Jika ada hal yang membuat Ashley puas, maka kehancuran reputasi Ashelia adalah salah satunya. Namun tanpa ia sadari, reputasi gadis itu sudah ia hancurkan sendiri saat ia masih terjebak di dalam tubuh Ashelia.
Dibantunya gadis itu berdiri perlahan. Saat yang lain masih tertegun, pria itu justru terlihat bingung. Disaat yang hampir bersamaan dengan suara jatuhnya tongkat Ashley, wanita itu mengatakan sesuatu.
"Awasi adek lo."
Begitu singkat dan terdengar mengancam.
Niatnya yang ingin memberi pria itu peringatan justru disalahartikan. Sudah sewajarnya bagi seseorang yang baru saja diberi ancaman beberapa saat lalu, berakhir berpikir demikian. Laki-laki itu berpikir jika ucapan tersebut dimaksudkan untuk jangan pernah mengusik Ashley lagi.
Merasa tidak ada urusan lagi di sana, Ashley pun pamit. Dengan mengaitkan tangannya pada cabang tongkat tersebut ia berjalan perlahan meninggalkan mereka, sambil berkata jika kursi roda itu boleh dibuang.
"Oh, I'm such a nice person, tho' the world is so cruel to me~" Ujarnya keras membuat siapa pun bisa mendengarnya.
...****************...
Didampingi oleh Bellena dan juga seorang kesatria dari keluarga Derius, Ashley berjalan menuju kereta kudanya yang setia menunggu sejak ia sampai di sana.
Karena hanya Bellena yang mengetahui saat Ashelia telah kembali, semua pekerja keluarga Midgraff masih memperlakukan gadis itu sama seperti saat mereka menghadapi Ashley.
Disaat sedang berjalan melewati jalan utama di halaman depan yang dikelilingi taman, seorang laki-laki memanggilnya dari belakang.
"Nona Ashelia!"
Karena tidak suka dipanggil dengan nama itu, Ashley tidak menghiraukannya dan terus melanjutkan perjalanannya yang melelahkan.
Berbeda dengannya, Bellena yang menyadari identitas laki-laki yang menghampiri Ashley dibuatnya keringat dingin. Ia ingat kejadian apa yang menghubungkan nonanya dan pria tersebut.
"Nona, Anda tidak melupakan sepatu Anda?" Tanyanya yang langsung mampu menghentikan langkah Ashley.
Tidak seperti yang ia perkirakan, wanita itu justru dengan tiba-tiba berbalik sembari mengayunkan tongkatnya yang diarahkan ke kepala pria tersebut.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1