Cinderella Gila

Cinderella Gila
Nampak berita baru?


__ADS_3

Berharap distributor misterius yang tidak pernah dilihat para bandar memiliki koneksi langsung dengan Far, Ashley sekali lagi dibuat kecewa. Kurir yang ia pikir memiliki posisi lebih tinggi, ternyata juga hanyalah keroco yang tidak tahu apa-apa tentang organisasi Far.


Berdiri membelakangi Alais, Ashley terdiam sejenak. Ditendanglah kemudian, kursi yang berada tidak jauh darinya dengan sangat keras. Tidak berhenti dengan satu tendangan, seisi kafe kecil tersebut pun menjadi media pelampiasan amarah Ashley.


Melihat ekspresi wanita itu dari samping, Alais yang telah berada di depan tangga pun menyadari betapa pentingnya kasus Far ini bagi nonanya. Apakah karena menyangkut Vincent?


Tidak mampu melarang, Alais dan kurir yang duduk di lantai tersebut hanya bisa menyaksikan wanita di hadapannya menghancurkan tempat bisnis orang lain.


Bahkan almari berisi gelas dan piring yang berada di belakang meja konter pun tak luput dari sasaran Ashley. Mengangkat meja tinggi tempat vas bunga yang sudah ia pecahkan terlebih dahulu, wanita tersebut kemudian melemparkannya ke lemari kaca.


Kembali bertatapan mata dengan si kurir, Ashley pun berjalan menghampirinya dan langsung menendang dada pria malang itu. Jatuh terlentang tanpa perlawanan, sebuah pukulan pun menyusulnya. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali.


Sebelum laki-laki tersebut semakin babak belur dan tidak bisa bicara, Ashley menarik lehernya, lalu bertanya,


"Dimana lo nyetor uangnya?"


"Di dekat- kuil... tempat jual barang- bekas..." Jawab si kurir kesusahan.


"Anter gua."


Mengangguk menuruti perintah Ashley, laki-laki itu tidak ingin menjadi lebih babak belur dari ini.


Menunjukkan barang bukti berupa uang yang ia temukan, Alais bertanya harus diapakan benda itu.


"Apanya yang barang bukti? Lo polisi? Gua yang nemuin, ya jadi punya gua."


Melihat Ashley yang sudah kembali tenang hingga bisa mencari keuntungan, Alais pun tersenyum dan menyetujui pemindahan hak kepemilikan uang tersebut.


Setelah memanggil Bellena yang masih tidak berani menampakkan diri, keempatnya kemudian pergi menuju lokasi berikutnya diantar oleh si pengirim barang.


Bukan agen rahasia, bukan pasukan terlatih, juga bukan orang yang mengetahui cara bela diri, ia hanya kurir biasa yang tiba-tiba dipilih menjadi salah satu pengirim obat.


Tidak mengetahui bagaimana proses seleksinya, yang ia tahu hanyalah dirinya tiba-tiba mendapatkan kotak misterius berisikan uang dan kertas bertuliskan kode-kode lokasi pengiriman. Entah siapa yang mengirim, laki-laki tersebut hanya mendengar suara ketukan pintu di malam hari dan mendapati kotak itu telah tergeletak di depan pintu tanpa melihat sosok yang membawanya.

__ADS_1


Kejadian ini cukup terkenal di kalangan kurir barang, dan mereka menyebutnya kotak berkah. Karena jumlah uang muka yang tidak sedikit dan bayaran yang menggiurkan, banyak orang yang mengharapkan kesempatan tersebut. Namun tidak sedikit pula yang memilih untuk menolaknya, membiarkan kotak itu tetap di luar karena tahu apa resikonya, siapa yang terlibat, dan barang apa yang harus dikirimnya.


Barang biasanya dikirim dengan kode lokasi. Mengenai waktu dan bagaimana cara mengirimnya, itu tergantung tiap kurir. Jika barang sampai dan uang disertai kode tersebut berhasil disetorkan, bayarannya akan dibayarkan saat ia mendapat pengiriman berikutnya.


Namun jika gagal, seperti yang dialami kurir malang ini, mereka harus membayar denda, uang ganti rugi, mendapat skors, dan menerima pinalti. Pinalti inilah yang menjadi resiko terbesar mereka, karena sesuatu yang buruk akan terjadi kepada orang terdekat mereka. Meski tidak sampai kehilangan nyawa, tapi itu tetap adalah bayaran yang sangat berat.


...****************...


Sekitar hampir satu jam perjalanan, sampailah mereka di sebuah toko kecil dengan lahan yang sangat luas. Tumpukan rongsokan memenuhi lahan berpagar tersebut, mengelilingi bangunan sederhana yang lebih seperti gubuk daripada toko.


Masuklah mereka, membuka pintu kayu yang bagian bawahnya berlapiskan seng. Lalu tak selang berapa detik, seseorang keluar dari balik gorden. Wanita tua yang masih terlihat cukup bugar.


Melihat gadis cantik berpakaian mahal, seorang pelayan, dan seorang laki-laki berpedang datang bersama dengan kurir yang wajahnya babak belur, wanita tua itu tahu apa yang terjadi.


Kembali menutup gordennya, kemudian bergegas melarikan diri, Ashley menyuruh Alais untuk menangkapnya.


Bukan tanpa perlawanan, nenek itu pun mengeluarkan pisau yang ia sembunyikan di balik gaunnya. Karena kenaifan Alais yang langsung memalingkan wajah, wanita tua tersebut hampir saja menusuknya. Namun menggagalkan usaha itu, Alais berhasil menangkap si pemilik dan membawanya keluar.


Belum selesai menangani urusannya dengan pemilik tempat itu, pintu masuk di belakang Ashley kembali terbuka, menampakkan laki-laki muda yang juga bekerja menjadi kurir.


"Oh? Tumben ramai-ramai, nampak berita baru?" Tanya laki-laki yang baru datang tersebut.


Seakan tidak kaget dengan pemandangan yang dilihatnya, atau mungkin orang itu memang sedikit 'lambat', ia masuk dengan wajah yang cerah.


"Bel."


Dengan satu suku kata, Ashley membuat Bellena mengerti apa yang harus dilakukan.


"Haii! Kau juga anggota lama? Aku baru bergabung! Senang bertemu denganmu!"


Tidak membayangkan Bellena akan berkata demikian, Ashley dan Alais dibuat saling melirik. Begitu pula dengan kurir pertama dan pemilik toko, mereka pikir Bellena juga akan langsung menggunakan kekerasan.


Namun hal yang lebih mencengangkan lagi adalah, si kurir kedua itu percaya dan bahkan menyambut Bellena. Mereka bahkan bertukar nama meski Bellena menggunakan nama palsu. Mencontoh nonanya, gadis itu tidak ingin namanya dikenal oleh para kriminal.

__ADS_1


Membujuk pria itu masuk dan menutup pintu, Bellena dan teman barunya pun ikut bergabung dalam kerumunan tersebut.


"Hah, si tol** ini." Ujar satu-satunya wanita tua di sana tidak habis pikir.


Namun belum cukup dengan satu pendatang tak diundang, pintu itu kembali terbuka sekali lagi.


"Wow ram-"


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, tangan Ashley telah meraih kerah laki-laki tersebut dan langsung melemparkannya ke arah kerumunan. Dibantingnya pintu itu oleh Ashley kemudian, menunjukan betapa kesalnya ia.


Menghela napas panjang, wanita tersebut sejenak mencoba menenangkan diri. Semakin banyak informasi memang akan semakin baik, namun pengetahuan para kurir itu tidak akan berbeda jauh. Ashley datang ke sana dengan tujuan menginterogasi si pemilik, bukannya membuat perkumpulan.


"Yang dateng habis ini langsung mati di tangan gua."


...****************...


Alais berdiri di depan tirai pintu, berjaga jika ada yang berusaha lari menuju pintu belakang. Sedangkan Bellena, berjaga di dekat pintu depan. Ia tidak perlu bisa bela diri, gadis itu hanya perlu bersikap percaya diri agar tidak ada yang menyadari kekurangannya.


Menjajarkan keempat orang tersebut dengan duduk bersimpuh dan memperlihatkan kedua tangannya di depan, Ashley pun memulai interogasinya.


Dengan tatapan mata sayu karena tidak menaruh harapan pada pertanyaannya, wanita itu mengawali dengan pertanyaan paling inti.


"Ada yang pernah liat Far?"


Akan tetapi,


saat semua orang hanya diam membisu mendengar nama tabu yang tidak pernah diketahui pemiliknya,


kurir kedua, orang yang terbujuk kebohongan Bellena,


mengangkat tangannya tinggi dengan wajah polos.


.................. Bersambung .................

__ADS_1


__ADS_2