
Di suatu wilayah di kota Vinnas, terdapat suatu jalan khusus yang tidak boleh dilewati oleh kereta kuda. Jalan yang terkenal akan aktivitas vulgarnya tersebut, terlihat sangat hidup ketika malam tiba.
Sangat kontras dengan jalanan ramai itu, gang yang berada di belakang deretan bangunan di sana nampak begitu sepi. Tidak ada yang mangetahui apa yang terjadi di tempat yang berjarak tidak sampai 50 meter dari keramaian tersebut. Para pengunjung dan pekerja biasa di gedung yang Ashley serang pun sibuk bersembunyi, tidak tahu siapa dan kemana pembuat onar itu pergi.
Saat para 'pion' yang nyawanya hanya sebuah angka bagi para petinggi tersebut tidak dapat menghentikan Ashley, turunlah salah seorang elite yang berada di dekat sana. Dengan sebuah pedang di tangan kirinya, pria yang juga merupakan kenalan Ashley itu siap menjalankan tugasnya.
Wajah Guilherme masih terlihat sangat serius, sama seperti saat ia menatap wanita tersebut beberapa saat lalu.
Memberi tahu 'bawahan'nya yang tersisa untuk melawan Alais, ia berniat menghadapi Ashley seorang diri. Sama halnya dengan wanita itu, yang terlihat menahan kesatrianya untuk maju.
"You don't like my guts, now?"
"Gui?"
Bukan merupakan golongan bangsawan, Guilherme tidak paham dengan apa yang baru saja diucapkan wanita di hadapannya. Meski begitu, ia dapat menangkap niat Ashley yang juga hendak melawannya sendiri tanpa bantuan sang kesatria.
Merupakan bala bantuan yang di kirim dari tempat Guilherme, 7 orang penjaga yang tersisa di sana menaruh keraguan kepada 'atasannya'. Masih percaya bahwa Ashley bukan sekedar klien biasa bagi pria kekar itu, mereka tidak yakin Guilherme akan menghadapinya dengan serius.
"Kalau tak tega, kami saja-"
Tidak mengindahkan ucapan orang tersebut, pria itu langsung berlari menghampiri Ashley.
Saat jarak serangnya dirasa cukup, ditariknya keluar pedang yang tergenggam di tangan Guilherme. Satu ayunan dari menarik keluar pedang itu saja sudah cukup untuk membelah tubuh seseorang menjadi dua.
Menahan serangan tersebut dengan tongkatnya, Ashley sampai terdorong ke belakang meski telah menggunakan dua tangan. Hampir terjatuh, wanita itu dengan cepat membenarkan pijakannya.
Kekuatan Guilherme memang tidak main-main.
Menuruti perintah nonanya, Alais sengaja menghindar ke samping dan tidak menangkis serangan dari pria tersebut. Menunjukan wajah khawatirnya dengan jelas, sebenarnya, kesatria itu masih ragu Ashley mampu menandingi kekuatan Guilherme.
Begitulah faktanya memang. Tubuh Ashelia yang baru dilatih beberapa bulan tersebut memang sangat tidak mungkin beradu kekuatan dengan si Gorila Kongo.
__ADS_1
Tidak diberi waktu untuk memikirkan nonanya, ketujuh orang lainnya langsung bergerak menyerang Alais. Memaksanya sibuk dengan urusannya sendiri.
Di sisi lain, serangan Guilherme yang berhasil tertangkis oleh Ashley tidak seketika mengakhiri pertarungan mereka. Terus mengayunkan pedangnya tanpa henti dengan kekuatan yang tak sebanding, pria itu membuat Ashley tidak mampu melakukan hal lain selain menangkis dan menangkis.
Baik Ashley maupun Alais, keduanya dibuat kewalahan. Tangan wanita tersebut sampai kebas karena terus menahan pedang Guilherme yang lebih terasa seperti kapak. Ornamen pelindung pada tongkatnya pun mulai menampakkan goresan yang cukup dalam di sana sini.
Bukan tanpa alasan, keduanya mengalami kesulitan karena tidak bisa fokus sepenuhnya pada lawan yang ada di depan mata mereka. Perhatian kedua orang itu terbagi untuk satu sama lain.
Saat Alais tidak bisa menahan kekhawatiran yang ia rasakan atas keselamatan nonanya, kepekaan Ashley memaksa wanita tersebut untuk merasakan kegundahan hati sang kesatria.
Kesal karena tidak bisa fokus dan terus-terusan terpojok seperti itu, Ashley kemudian berteriak,
"Fokus, Al! Lo ngeganggu gua!"
Mendengar perkataan nonanya, Alais sadar akan kesalahan yang telah ia lakukan. Ia yang harus melawan 7 orang sekaligus, tentu lebih beresiko mendapat serangan dari titik buta. Jika ia tidak fokus, maka nonanya harus melawan seorang elite selagi mengawasi punggungnya. Hal yang jelas-jelas akan membuat posisi Ashley semakin berbahaya.
Mengesampingkan kekhawatirannya sejenak, Alais memutuskan untuk fokus mengalahkan ketujuh orang berpakaian gelap tersebut terlebih dahulu, sebelum nantinya memutuskan apakah ia harus membantu nonanya atau tidak.
Tidak lagi teralih oleh Alais, wanita itu akhirnya dapat menaruh perhatian penuh terhadap pria yang sedari tadi terus mendekatinya tersebut. Dari puluhan pria yang mengejar-ngejar Ashley barusan, hanya dia yang paling persisten.
'Susahnya jadi cantik.' Batin wanita tanpa urat malu tersebut.
Mendongakkan kepalanya ke belakang hingga sejajar dengan pinggang, Ashley menghindari serangan diagonal Guilherme yang datang tak diundang.
Meski pedang diayunkan secara diagonal untuk mengurangi tekanan sehingga lebih efektif dan efisien, pria tersebut tidak mempedulikan hal seperti itu. Kekuatannya yang berada di atas rata-rata mampu mengelabuhi aturan tersebut.
Pedangnya tidak rusak atau patah saja sudah bagus.
Daripada pedang biasa, orang itu memang lebih cocok menggunakan kapak ataupun pedang dua tangan.
Namun, itu juga bagian dari keberuntungan Ashley. Jika Guilherme menggunakan pedang besar ataupun kapak, tongkat wanita tersebut tidak akan mampu menahannya.
__ADS_1
Melihat bilah tajam itu melintas di depan wajah Ashley, wanita tersebut merasa ia sudah terlalu sering mengalami hal serupa. Memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, ia kemudian membuat posisi kayang dan melemparkan kakinya ke belakang, mendahului Guilherme yang hendak kembali melancarkan serangan.
Berhasil membuat jarak, Ashley kemudian mengangkat kedua tangannya. Melihat apa yang wanita itu lakukan, Guilherme yang berniat mengejar pun berhenti dan menunggu apa yang akan dilakukan lawannya.
Dilepaskanlah kemudian, tongkat dan pedang yang Ashley genggam di tangan kanan dan kirinya. Memahami sifat wanita tersebut, pria itu masih tidak merespon. Tidak mungkin Ashley menyerah begitu saja, kan?
Lalu seperti dugaan Guilherme, itu bukan isyarat menyerah.
Menurunkan kembali kedua lengannya, wanita itu kemudian menyeringai.
"Jangan jadi pengecut yang pake senjata." Ucap Ashley kemudian, dengan raut wajah meledek sekaligus menantang.
Meski sempat terdiam dan tidak langsung menuruti perkataan Ashley, pria itu akhirnya ikut membuang pedang miliknya menjauh. Ia lalu berdiri dalam posisi kuda-kudanya, siap meladeni tantangan wanita di hadapannya.
Melihat Ashley yang hanya berdiri diam dengan posisi yang sangat terbuka, membuat Guilherme sedikit waspada. Seolah-olah, wanita tersebut sengaja memancingnya untuk maju dan menyerang terlebih dahulu.
Melihat orang yang diprovokasinya tidak bergerak, Ashley pun kembali berucap,
"Ladies first?"
Melangkahkan kakinya maju, wanita itu tanpa ragu mendekati lawannya dengan cepat.
Menunggu Ashley memasuki jarak serangnya, Guilherme dengan seksama memperhatikan gerakan wanita tersebut. Bagian mana yang bisa ia serang dan bagian mana yang akan menyerangnya.
Begitu kesempatan itu telah didapatkannya, dilancarkanlah tinju sekeras batu yang mengarah ke wajah Ashley. Hal yang sama juga dilakukan oleh wanita tersebut.
Hanya saja, tinju Ashley sedikit mengandung unsur metal.
Saat keduanya berusaha menghindar dengan sedikit menghalau tinju satu sama lain menggunakan lengan kiri mereka, Guilherme kalah satu poin. Lengannya harus rela tersayat oleh karambit Ashley.
Dari sini ia semakin yakin, wanita itu masih culas seperti biasanya.
__ADS_1
.................. Bersambung .................