
Sempat membeku melihat Ashley memeluk kakak sepupunya, Daryl lupa akan penyesalan yang ia rasakan. Butuh waktu baginya untuk sekedar menerima apa yang ia lihat.
Suara Ashley yang perlahan pergi pun membangunkannya.
Dilihatnya wanita itu berjalan perlahan tidak seperti biasanya saat memakai kaki palsu. Tangan kanannya tergantung lemas, membuat perasaan berat di hati Daryl kembali menyelimutinya.
Meski sebenarnya Ashley berjalan perlahan karena tidak ingin terpeleset akibat lantai marmer yang sangat mengkilat tersebut.
Dihampirinya orang yang telah membuat tangan Ashley terluka. Daryl mencengkram bagian kerah laki-laki tersebut dan menariknya kasar.
"Kau keterlaluan."
"Tidakkah kaulihat? Dia menyakiti Kalia." Jawab laki-laki itu membenarkan perbuatannya.
Kakak tertua mereka yang melihat tindakan tidak terpuji Daryl, mencoba untuk menengahi. Tidak seharusnya seorang bangsawan memulai pertikaian di depan publik. Ia boleh marah karena sikap adik sepupunya, namun bukan di sini tempatnya. Tanpa mengurangi rasa hormat karena adik sepupunya telah bergelar Marquis, laki-laki itu meminta perhatiannya,
"Tuan Ristoff."
Tidak menghiraukan panggilan tersebut, Daryl tetap fokus pada orang yang sedang ia ajak bicara.
"Kau harusnya tahu, Kalia yang memulainya."
"Kalau begitu, bukankah kau juga hanya diam? Kenapa sekarang marah padaku?"
Kedua pria itu tahu. Mereka sepenuhnya sadar jika Kalia memang yang memulai perundungan Ashelia. Meski demikian, mereka juga tidak melakukan apa pun untuk menghentikan gadis itu.
Kakak Kalia jelas hanya turun tangan saat adiknya mendapat balasan dari Ashley. Sedangkan Daryl tidak menghentikan Kalia karena ketidakpeduliannya dengan urusan orang lain. Terlambat baginya untuk ikut campur saat mengetahui jika wanita yang ia abaikan tersebut adalah Ashley.
"Benar. Karena itu aku tidak menghajarmu."
Menyadari kesalahan yang telah ia perbuat, ia merasa tidak pantas untuk membela Ashley. Namun di sisi lain, ia sangat marah karena adik sepupunya telah melukai wanita tersebut. Hal itu juga yang membuatnya lebih marah pada dirinya sendiri yang hanya melihat, percaya jika Ashley akan baik-baik saja.
Sekesal apa pun ia saat ini, ia merasa tidak ada bedanya dengan adik laki-laki yang hanya berjarak satu tahun di bawahnya itu. Fakta itu membuatnya tidak bisa membalas atau melakukan hal lain kepada laki-laki di depannya.
"Daryl." Panggil kakak tertua mereka sambil menepuk pundak Daryl.
"Bicarakan di tempat lain. Banyak orang yang melihat di sini." Lanjutnya lirih.
Ditepisnya tangan laki-laki itu dari pundak Daryl dan dilanjutkan dengan tatapan sinis.
"Jangan mengguruiku. Aku tidak ingin mendengar apa pun dari orang munafik sepertimu."
__ADS_1
Mendengar ucapan Daryl, laki-laki itu hanya menatapnya dingin. Hubungan mereka memang selalu buruk. Namun tidak disangka, bahkan setelah menjadi Marquis, sikap Daryl masih tetap terang-terangan seperti itu.
Berbeda dengannya, Kalia yang pernah dekat dengan Daryl merasa sedih setiap kali kakak sepupunya bersikap seperti itu. Meski sejak kecil Daryl memang terlihat dingin, namun Kalia masih melihat sisi baik laki-laki tersebut.
"Kau lebih membela orang asing daripada adikmu?" Sela Kalia saat ketiga kakaknya saling menunjukan kebencian.
Daryl melirik ke arah Kalia sejenak sebelum akhirnya memalingkan wajahnya dan berjalan pergi sambil berkata,
"Jika ada yang harus kubela, pastinya itu bukan keluarga kalian."
...****************...
Ashley yang mulai lelah berjalan karena harus melewati halaman yang luas pun menunjukan ekspresi kesalnya. Ia sedikit menyesal memutuskan keluar tanpa kursi rodanya.
Berbeda dengan kedatangan awalnya, kini beban tubuhnya bertumpu pada otot lengan dan dada kirinya saat menggunakan kaki kiri. Hal itu membuat otot pektoralis mayornya terasa sakit karena terus menerus terkekan benda keras.
Rasa sakit memang sudah menjadi makanan sehari-hari Ashley namun kali ini ia merasa seperti tidak mendapat istirahat dan terus dihujani dengan rasa sakit.
Kesatria yang diutus untuk mengawal Ashley sesekali melirik ke arah Bellena.
Bukan karena jatuh cinta pada pandangan pertama, ia hanya bingung karena gadis ith terus tampak begitu gelisah namun tidak juga mengatakan apa pun.
Ada beberapa hal yang membuat Bellena khawatir saat itu.
Nona Derius- alias Kalia, yang memang memiliki hubungan buruk dengan Ashelia, terlihat tidak begitu baik saat ia sampai di sana. Entah mengapa, gadis yang biasanya merundung Ashelia itu justru terlihat marah sambil menjaga jarak dari Ashley. Ia yakin pasti terjadi sesuatu saat ia pergi.
Ashley baru saja berpura-pura terjatuh untuk memeluk seorang laki-laki yang sudah beristri. Terlepas dari tahu atau tidaknya Ashley terhadap status pria itu, wanita itu pasti tetap akan melakukannya jika ia merencanakan sesuatu. Masalahnya, istri pria itu dikenal menyeram- ehem, tegas dan beliau baru saja dikabarkan hamil.
__ADS_1
Marquis Ristoff, orang yang Ashley tantang dengan meninggalakan sepatunya di toko tongkat berada di sana. Bukan hanya sekedar menghadiri, pria itu bahkan berdiri tepat di sebelah Ashley.
Semua hal itu berkumpul menjadi satu hanya dalam kurun waktu kurang dari 10 menit. Ia pikir mungkin karena Ashley adalah Dewi Kehancuran, maka wanita itu lebih mudah memicu permasalahan. Seperti gula yang dapat memanggil semut meski tidak melakukan apa pun.
Mungkin juga karena sudah terbiasa, Ashley sama sekali tidak terlihat khawatir dengan apa yang akan ia hadapi. Hal yang sama sekali tidak biasa membuat Bellena terbiasa.
Di sisi lain, seorang laki-laki yang berlari keluar aula melihat sekelilingnya mencari keberadaan wanita yang sudah 'lama' tidak ia temui. Dilihatnya 3 orang manusia yang tengah berjalan melintasi halaman luas kediaman Derius.
Ia sedikit bersyukur karena kereta kuda tidak diijinkan melewati jalan tersebut. Jika tidak, mungkin ia sudah kehilangan jejak Ashley dan entah kapan bisa bertemu dengannya lagi.
"Nona Mid-" Ucapannya terputus mengingat sifat Ashley yang mungkin akan mengabaikannya.
"Nona Ashelia!" Panggilannya formal, berharap mendapatkan sedikit perhatian wanita tersebut.
Kesatria yang mengawal Ashley berhenti saat menyadari seseorang telah memanggil wanita tersebut dengan cara yang kurang sopan. Begitu pula Bellena yang wajahnya kian memucat saat menyadari siapa yang memanggil nonanya.
Akan tetapi, Ashley yang tidak tertarik sama sekali dengan siapa pun yang memanggilnya, mengabaikan laki-laki itu dan terus berjalan menuju gerbang taman.
Tidak hingga ia mendengar apa yang diucapkan Daryl selanjutnya.
"Nona, Anda tidak melupakan sepatu Anda?"
Ashley terdiam sejenak, lupa jika ia pernah meninggalkan sepatunya mengikuti tokoh dongeng Cinderella.
Namun tidak butuh waktu lama untuknya, untuk mengingat fakta bahwa ia telah menentang seseorang. Orang yang mungkin memiliki pengaruh besar di dunia itu. Orang yang telah Ashley pandang remeh, karena kemampuan seorang pemimpin juga dinilai dari kemampuan bawahannya.
Mendengar langkah kaki pria itu kini berada dalam jarak serangannya, dengan cepat Ashley langsung memutar tubuh atasnya sambil menarik tongkatnya lurus. Setelah tongkat itu melewati Bellena, Ashley langsung mengayunkannya tepat di samping kepala Daryl.
Mengejutkan.
Meski terhitung serangan tiba-tiba, bahkan dengan kekuatan yang cukup kuat, Daryl berhasil menangkisnya tepat waktu menggunakan lengan kirinya.
Wajahnya terlihat sangat terkejut, menyadari Ashley sama sekali tidak menahan diri saat menyerangnya. Begitu pula Bellena yang langsung kehilangan tenaganya dan terjatuh dengan posisi duduk. Kesatria yang berpikir jika Ashley hanyalah anak nakal yang suka membuat sensasi pun ikut terkejut dibuatnya.
Melihat reflek Daryl yang sangat bagus, Ashley tersenyum.
__ADS_1
"Hai." Sapa wanita itu.
^^^Bersambung...^^^