Cinderella Gila

Cinderella Gila
...ya. Lebih dari yang kukira


__ADS_3

"Panggil Ash aja."


Dengan tangan terulur menyerahkan obat oles yang ia dapat dari dokter, tatapan Daryl terpaku pada Ashley tak percaya. Memalingkan pandangan setelah sadar, pria itu terdiam sejenak.


Untuk kesekian kalinya, Daryl dibuat tersipu oleh wanita licik dihadapannya. Terus menerus merasa demikian, pria tersebut tidak bisa menyangkal jika ia mulai menilai dirinya sendiri sebagai orang bodoh.


Stimulasi yang diberikan Ashley sejak kemarin terlalu banyak meski dalam jangka waktu yang pendek. Hal itu membuat Daryl merasa kewalahan dan seolah tenggelam dalam sesuatu yang tidak ia mengerti.


Tak berani menatap mata Ashley, pria itu kembali menyodorkan obat luar yang masih tergenggam di tangannya.


"K-kudengar kau terluka."


Di saat ia senang karena Ashley seolah mulai membuka hati dan mengijinkannya masuk, pria itu juga merasa tidak nyaman karena takut hal tersebut hanyalah sebuah harapan semu yang tak mungkin terwujud.


Senyum tipis tergambar di wajah lawan bicaranya saat mendengar kalimat Daryl. Wanita itu sejatinya tahu, bahwa bukannya 'mendengar' Daryl sebenarnya 'melihat'. Ia pun sejak awal sudah tahu berapa lama pria tersebut berdiri di depan kamarnya seperti orang aneh sebelum akhirnya mengetuk pintu.


Namun tidak berniat menyinggung hal tersebut, Ashley hanya diam. wanita itu bahkan tidak mengucapkan terimakasih.


Yah, bukan hal yang baru.


Setelah mengajak sarapan bersama di kediaman Daryl, barulah pria tersebut mengantarkan Ashley pulang dengan menggunakan kereta kuda. Kuda yang Ashley tunggangi semalam juga ikut bersama mereka, terikat di belakang kereta tanpa ada yang menaiki.


Namun tak seperti Daryl yang biasanya, Daryl yang sedang bersama dengan Ashley saat ini begitu pendiam.


Ashley sudah terbiasa dengan Daryl yang suka berceloteh tanpa henti. Meski pria itu sebenarnya memang tak banyak bicara, sikapnya sangat berbeda saat sedang bersama wanita pirang di sana. Karena itu, Ashley pun merasa ada hal yang janggal saat Daryl lebih banyak diam.


"Ada orang yang ganggu lo?"


"Gua bisa singkirin, kalo lo mau. Tapi ga gratis." Ucap wanita tersebut kemudian, tanpa tahu ialah penyebabnya.


Tersenyum karena ucapan Ashley cukup menghibur perasaannya, Daryl pun menjawab,

__ADS_1


"Daripada itu, aku lebih suka kalau kau melindunginya."


"Hmm, bayarannya lebih besar kalo gitu." Sahut Ashley.


"Lo tau kan, ngelindungi lebih susah dari nyingkirin seseorang?"


Setuju dengan ucapan tersebut Daryl pun mengiyakan. Melihat Ashley selalu mendapatkan luka baru setiap bertemu dengannya, membuat pria itu ingin membalas setiap orang yang berani melukai wanita tersebut. Akan tetapi, ia pun tahu hal itu tidaklah cukup.


Katakanlah satu orang telah mendapatkan balasan, dengan kepribadian suka merusuh Ashley, orang yang lain akan terus datang untuk menyakiti si Pirang. Saat permasalahannya adalah wanita itu sendiri, Daryl paham fokusnya harus lebih ke 'melindungi Ashley'.


Namun layaknya berusaha meraih bulan, hal itu tidak mampu ia lakukan karena terlalu jauh dari jangkauannya. Ia tidak akan bisa melindungi gunung dengan punggung seorang manusia.


"Lo suka dia?" Bukan dalam konteks percintaan, Ashley hanya bertanya karena meski mengganggu, Daryl tetap ingin melindungi orang tersebut.


"...ya. Lebih dari yang kukira."


Tidak bertanya lebih lanjut, Ashley kembali terdiam. Ia hanya merasa, jika Daryl benar-benar memintanya melindungi orang itu, maka pria tersebut pasti akan menyebutkan identitasnya.


Menetapkan keputusan untuk bertanya, niatnya tiba-tiba terganggu oleh guncangan kereta yang tengah mereka naiki.


Berhenti secara tiba-tiba tanpa transisi yang halus membuat Daryl bertanya kepada si kusir apa yang terjadi. Dengan nada suara agak ragu, pria paruh baya tersebut pun menjawab jika ia baru saja hampir menabrak seseorang.


Keluarlah Daryl kemudian, merasa bertanggung jawab atas kesalahan bawahannya.


Kerumunan orang telah memenuhi sisi jalan di sekitar kereta kuda mereka. Lalu, berjalan ke depan, didapatinya seorang wanita berusia 50 tahunan ke atas tengah duduk di depan kuda-kudanya.


Merintih kesakitan, wanita itu memeluk salah satu kakinya.


Diliriknya kemudan oleh Daryl si kusir yang tampak tidak merasa bersalah dan justru melihat si Korban dengan ekspresi tak percaya. Bertatapan mata dengan sang tuan, kusir tersebut menggelengkan kepalanya sambil terus berkata bahwa ia tidak menabrak wanita itu.


Tidak penting lagi siapa yang sebenarnya salah saat masyarakat telah memiliki persepsi mereka sendiri. Pada lingkungan yang mayoritasnya adalah rakyat biasa tersebut, tentu keberadaan bangsawan hanya akan menjadi kambing hitam.

__ADS_1


Mengetahui fakta tersebut, Daryl pun berjongkok di samping si Wanita guna menanyakan keadaannya. Namun seakan drama itu masih kurang bumbu, orang tersebut justru berteriak minta ampun seolah Daryl hendak menyakitinya.


Tak peduli seberapa banyak pria itu menjelaskan jika ia tidak berniat menyakiti dan ingin membiayai pengobatannya, para penonton yang memenuhi area tersebut hanya mempercayai permainan peran dari sang aktris dadakan.


Buta dan tuli meski sebenarnya bisa melihat dan mendengar. Para manusia berpikiran sempit yang hanya mengikuti asumsi yang ingin mereka percaya itulah, yang membuat Daryl tidak suka bersosialisasi. Baik bangsawan maupun rakyat biasa, 'masyarakat' hanyalah sekumpulan makhluk skeptis dan munafik yang bertingkah layaknya dewa.


Sorot mata Daryl pun berubah menjadi gelap dan dingin, tidak lagi seperti tadi. Terkejut seolah melihat seseorang yang berbeda, wanita di samping Daryl hanya terdiam tak berulah seperti beberapa saat lalu.


Namun kehampaan dalam mata pria tersebut tidak berlangsung lama. Begitu ia mendengar suara Ashley, kehidupan di dalam sorot matanya pun kembali.


"Kalo mau ekting totalitas lah. Patahin kaki lo sekalian."


Dengan tatapan sinis Ashley berjalan perlahan menghampiri Daryl yang tak kunjung kembali ke kereta.


Sosok Ashley memang muncul dengan aura yang sangat mengintimidasi, apa lagi bagi orang yang ditatapnya secara langsung. Akan tetapi, bukan itu yang membuat wanita tua tersebut gemetar ketakutan.


Matanya terbelalak dan mulutnya ternganga melihat sesuatu yang begitu mengerikan perlahan-lahan mendekat.


Suara pun samar-samar mulai terdengar dari mulutnya, hingga tiba-tiba ia menangis sambil berteriak.


"Tuhan ampuni kami!"


Melanjutkan ucapannya dengan mengatakan hal-hal yang tak dapat dimengerti orang-orang di sekitarnya, wanita tua itu membuat para penonton yang semula mendukungnya mulai beranggapan bahawa ia hanyalah wanita gila.


Ashley mengernyitkan dahinya, merasa aneh dengan sikap tak lazim yang ditunjukan kepadanya. Sambil terus meneteskan air mata, orang tersebut seolah tengah merapalkan sebuah mantra.


Namun setelah beberapa saat, bahasa yang tidak teridentifikasi tersebut anehnya mampu dimengeri oleh Ashley.


"3 jiwa yang terikat denganmu akan menemui ajal mereka karenamu."


.................. Bersambung .................

__ADS_1


__ADS_2