Cinderella Gila

Cinderella Gila
Gua lebih suka berbagi


__ADS_3

Belum sempat mendapatkan informasi apa pun, Eva mencoba mengingat hal apa yang belum ia sampaikan kepada Ashley.


"Ada klien yang pernah menawariku obat."


Ah, Mandy? Entah apa namanya di dunia Ashelia. Namun jika ditawarkan kepada Eva, kemungkinan itu sejenis Ekstasi. Lalu, orang yang menawarkan obat tersebut pasti juga tahu bagaimana cara mendapatkannya.


"Aku berniat membuatnya mancarikanku informasi." Lanjut Eva menyadari hal yang sama.


"Tapi kalau dia hanya pion kecil, atau bahkan hanya pengguna, sepertinya tidak akan begitu berguna." Tambahnya dengan sedikit rasa kecewa.


Memang benar, jika mereka mencari tahu melalui orang tersebut. Namun lihat gambaran besarnya. Orang itu hanyalah pintu untuk menembus benteng Far. Ia tidak perlu memiliki informasi rahasia yang sulit di dapat, ia hanya perlu memiliki koneksi dengan bandarnya.


Jangan gunakan penjaga gerbang sebagai sumber informasi. Gunakan mereka untuk mendapat ijin masuk.


Eva yang hanya terfokus pada informasi mengenai hubungan Far dengan keluarga Midgraff, tidak pernah memperkirakan rute jarak jauh tersebut.


Terlalu fokus pada satu titik memang bisa membuatmu melewatkan banyak hal.


Mendengar penjelasan Ashley tentang pentingnya klien itu dan bagaimana memanfaatkannya, semangat Eva pun kembali.


Direncanakanlah pertemuan kliennya itu dengan Ashley. Dengan jadwal datang tiap bulan pada tanggal tertentu, Eva meminta Ashley datang pada tanggal tersebut menjelang tengah malam.


Kemudian, seolah didukung oleh takdir, hari tersebut datang jauh lebih cepat. Tepatnya hanya beberapa jam lagi. Yang artinya, besok.


...****************...


Malam berikutnya di ruangan yang sama. Seorang wanita duduk dengan meluruskan kakinya di sebuah sofa panjang. Mengenakan pakaian transparan yang mampu memperlihatkan tubuhnya, ia bersantai sambil menghisap pipanya.


Di depannya, seorang pria duduk menemaninya karena Eva berkata ada orang yang ingin menemui pria tersebut. Wanita itu juga menyebutkan jika orang yang hendak menemuinya tersebut tertarik dengan obat-obatan terlarang.


Beruntung, pria itu tidak keberatan dan bersedia menunggu. Jika tidak, mungkin Eva harus bekerja ekstra untuk mengulur waktu hingga Ashley datang.


"Kau yakin tidak mau mencobanya juga?" Tanya pria tersebut kepada Eva.


Tersenyum ramah, wanita itu kemudian menolak dengan sopan.

__ADS_1


"Tidak, terimakasih. Pekerjaanku belum selesai."


Tak lama setelahnya, terdengar suara langkah laki dari luar. Membiarkan pintunya terbuka, Eva sengaja menunjukan bahwa Ashley dapat masuk kapan saja.


Muncullah sang pemeran utama yang telah mereka tunggu-tunggu dari balik dinding bersama dua orang bawahannya. Berbeda dengan Ashley yang memasuki ruangan tersebut dengan santai, kedua bawahannya justru dibuat terkejut dan canggung setengah mati.


Melihat pakaian yang dikenakan oleh Eva, Alais seketika membalikkan badannya. Namun menyadari kehadiran 'orang asing' di sana, ia pun kembali berbalik karena merasa harus mengawasi pria tersebut. Matanya pun terkunci pada laki-laki di sana, bukan hanya ingin mengawasi namun juga karena tidak berani melihat ke arah lain.


Bellena yang juga seorang perempuan pun tetap merasa canggung dan tidak berani menatap Eva. Setelah menutup pintu atas perintah Ashley, ia menghadap ke depan melihat dinding yang berada jauh di seberang sana.


Pemilik ruangan tersebut memang biasa mengenakan pakaian terbuka, namun kali ini lebih seperti 'tak berbusana'. Hal yang membuat kedua bawahan Ashley salah tingkah karena merasa tidak seharusnya melihat hal tersebut.


Tertawa melihat respon Alais dan Bellena, Eva kemudian sengaja berjalan menghampiri Ashley, membuat mereka berdua tidak mampu lagi menatap ke depan dan langsung menoleh ke samping.


"Tidak kusangka aku akan bertemu orang terkenal." Sambut pria yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Ashley.


Tidak berdiri atau menunjukan formalitas apa pun, pria itu masih duduk di sana dengan keangkuhan penuh.


Mengangkat alis kirinya sambil tersenyum tipis, Ashley merespon ucapan pria tersebut dengan jawaban ramah.


Merentangkan kedua tangannya kemudian bersandar di kursi, pria itu kemudian menjawab,


"Ya. Siapa sekarang yang tidak mengetahui Nona Midgraff?"


Duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Eva, wanita itu langsung menyilangkan kakinya, bertingkah seperti sang pemilik ruangan. Disampingnya, Eva, singgah mendampingi Ashley sambil menghisap pipa rokoknya. Wibawa Ashley terlalu kuat untuk menjadi 'pendatang'.


Dapat pria itu pahami sekarang, mengapa wanita mungil tersebut sempat melarangnya duduk di kursi tersebut menemani Eva. Tentu karena kursi itu sudah ada pemiliknya.


Memperhatikan Ashley sambil mengelus dagu menggunakan jari telunjuk, pria tersebut jelas sedang menilai penampilan wanita di hadapannya. Dari wajah, pakaian, postur, hingga aura yang terpancar. Tindakan tidak sopan yang membuat Alais hampir menyela pembicaraan yang bahkan belum dimulai tersebut.


"Aku tidak tahu tentang rumor yang lain, tapi orang yang berkata kau secantik Dewi, mungkin belum pernah melihat seorang Dewi."


Mendengar ucapan bermakna merendahkan tersebut, Alais dan Eva spontan memberinya tatapan menentang. Namun sepersekian detik kemudian, ekspresi mereka langsung berubah begitu mendengar kelanjutan dari kalimat tersebut.


"Kau jauh lebih cantik."

__ADS_1


Dengan senyum khas pria penggoda, laki-laki tersebut memberikan hasil penilaiannya.


Sejak awal ia memang berniat memuji kecantikan Ashelia. Hanya caranya memang sengaja membuat orang kesal terlebih dahulu.


Sayangnya, pujian tidak akan memberi efek apa pun terhadap wanita yang sudah terlanjur memandang tinggi dirinya sendiri tersebut.


"Can we skip the chit-chat?" Sahut Ashley dengan wajah ramahnya, menunjukan betapa ia tidak tertarik dengan basa-basi.


"Gua denger lo punya barang bagus."


Tertegun melihat respon yang belum pernah ia dapatkan, pria itu kemudian tertawa, sebelum ikut memasuki pembicaraan inti mereka.


"Kau sangat tidak sabar." Ucapnya yang mengira Ashley adalah salah satu junkies, pasien yang ingin sesegera mungkin mendapatkan obatnya.


Mengatakan ia hanya membawa beberapa dan hendak menjual perbutir karena bukan seorang bandar, Ashley kemudian menyela ucapan laki-laki itu dan mengatakan jika ia telah salah paham.


Melihat keempat orang di depannya secara bergantian, pria tersebut masih tidak tahu hal apa yang telah ia salah mengerti.


Namun kemudian ia sadar,


"Daripada make sendiri, gua lebih suka berbagi."


bukan obat yang mereka cari, melainkan bandarnya.


Mengeluarkan kata-kata layaknya orang bijak, Ashley membuat perbuatan buruk terasa baik.


Meski mengerti niat wanita itu, namun pria tersebut juga tidak bisa langsung memberi tahu informasi mengenai bandarnya. Pengikut Ashley mungkin bisa menjaga rahasia demi nonanya, namun Eva juga ada di sana.


Melihat pria itu ragu-ragu dan kemudian melirik ke arah pemilik ruangan, Ashley pun mengerti apa yang tengah dirisaukan narasumbernya.


"Jangan khawatir." Ucap Ashley yang kemudian menengadahkan tangan kanannya ke samping.


Melihat telapak tangan Ashley, Eva langsung meletakkan pipi kirinya di sana sambil tersenyum. Hal yang mampu membantu meyakinkan pria tersebut jika Eva juga berada di bawah kuasa Ashley.


"No one's gonna find out."

__ADS_1


.................. Bersambung .................


__ADS_2