
Sampai di area penginapan, Ashley mengamati bangunan tua itu dari kejauhan. Bar sekaligus penginapan itu memang tidak akan pernah ditemukan Ashley jika bukan karena menelusuri area barat Vinnas.
Tak lama kemudian, keluarlah seorang laki-laki paruh baya dari dalam sana. Cara jalannya yang masih sempoyongan menunjukan jika ia masih merasakan efek dari pasca mabuk berat.
Laki-laki itu berjalan perlahan menuju gang di mana Ashley dan kedua bawahannya berada. Matanya kemudian melihat ke depan, menyadari adanya 3 orang yang tidak pernah ia temui sebelumnya tengah berdiri di ujung gang tersebut. Dilihatnya kemudian, wanita bangsawan yang juga sedang menatap ke arahnya.
Dengan wajah seperti preman dan memiliki tatapan mata yang tajam, Bellena tidak berani melihat ke arah laki-laki tersebut sedikit pun. Lain halnya dengan Ashley yang justru terus melihatnya hingga laki-laki itu sendiri yang kembali memalingkan mata.
Tentu bukan karena merasa terintimidasi oleh Ashley, namun karena ia melihat pengawal bersenjata yang mendampingi wanita tersebut.
Sambil bergumam menghina kaum bangsawan, mengatakan mereka hanyalah orang-orang sombong penakut yang berlindung di balik orang lain, laki-laki itu berjalan melewati Ashley. Lengan pengawal Ashley sengaja menghalau sisi kanan wanita itu, mencoba melindungi nonanya dari senggolan laki-laki yang berjalan tidak stabil tersebut.
Namun kaki Ashley melakukan hal sebaliknya.
Dari bawah lengan pengawalnya, ditendanglah laki-laki itu hingga jatuh tersungkur ke samping. Terkejut, pria tersebut kembali menatap wanita bangsawan yang berani berbuat demikian terhadapnya. Namun tatapan amarah yang ia berikan hanya dibalas dengan lirikan mata meremehkan oleh Ashley.
Bellena yang terkejut setelah mendengar suara pria itu terjatuh, semakin tidak berani melihat. Dengan rasa takut yang mulai keluar, gadis itu hanya diam mematung sambil menutup kedua telinganya.
Meski ia biasanya mencegah Ashley, kali ini ia tidak berani bertindak demikian karena mendengar apa yang laki-laki itu katakan juga. Gang itu cukup tersembunyi, dan area di sana juga sepi, mungkin tidak masalah karena tidak ada saksi?
Berbeda dengan gadis itu, pengawal Ashley melangkah maju dan berdiri di depan nonanya. Terlepas dari kesalahan siapa itu, tugasnya untuk melindungi Ashley tidak berubah.
Dengan sikap sembrono seperti itu, tidak heran jika nonanya selalu mendapat masalah dan pulang terluka. Laki-laki itu mulai kasihan dengan dengan siapa saja yang telah ikut terjebak dalam masalah Ashley selama ini.
Yang artinya ia juga akan mulai mengasihani dirinya sendiri mulai sekarang.
"Kesatria? Hah! Jangan bercanda! Kau cuma anjingnya bangsawan!"
__ADS_1
Sambil mencoba kembali berdiri laki-laki paruh baya itu mulai melawan balik. Namun masih berusaha tidak terpancing, pengawal Ashley hanya diam. Apa pun yang terjadi, seorang kesatria harus tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh emosinya sendiri.
Mengharapkan hal yang sebaliknya, Ashley pun meletakkan tangannya di pundak pengawalnya tersebut.
"Lo denger? Dear dog? Show him what you're capable of."
Mengawali jawabannya dengan permohonan maaf, pengawal itu tetap tidak ingin melanggar sumpah kesatrianya.
"Saya tidak bisa menyerang rakyat biasa yang bahkan tidak bersenjata."
"Tugas saya hanya untuk melindungi Nona."
Memasang wajah malas karena gagal mempengaruhi pengawalnya, Ashley kemudian mendorongnya ke samping. Membuka lebar pertahanan dirinya dari pria yang bisa saja mengancam nyawanya tersebut.
Awalnya Ashley menendang laki-laki tak bersalah di sana karena kesal dengan ucapan meremehkan yang ia ucapkan. Di saat bersamaan, Ashley juga membutuhkan seseorang untuk dimintai keterangan mengenai penghuni penginapan tersebut. Ditambah lagi, wanita itu juga melihat situasi yang bisa ia manfaatkan untuk membuat pengawalnya terkena masalah.
Sekali dayung, tiga pulau terlampaui. Bukankah itu sangat efisien?
Melihat penampilan laki-laki di depannya yang tidak terawat, terbiasa mabuk-mabukan, dan bangun saat matahari sudah tinggi di usianya yang tidak muda lagi, Ashley pun mengambil kesimpulan. Ia yakin orang itu adalah seorang pengangguran yang tidak memiliki pasangan dan tidak memiliki hubungan baik dengan orang tuanya.
Ditatapnya laki-laki berjenggot tipis tersebut oleh Ashley dari atas ke bawah. Setelahnya, sebuah senyuman penuh penghinaan ditunjukan oleh wanita tersebut secara terang-terangan.
Hanya dari melihat ekspresi Ashley saja, imajinasi laki-laki itu telah melanglang buana, membayangkan setiap hujatan yang sering ia dengar setiap harinya.
Mengeratkan gigi sambil menatap Ashley dengan tatapan penuh amarah, ia masih berusaha menahan diri. Laki-laki itu sadar, memiliki masalah dengan seorang bangsawan tidak akan berakhir menyenangkan. Hidupnya saat ini sudah cukup sulit, tidak ada alasan baginya untuk lebih mempersulitnya lagi.
Namun Ashley menginginkan jawaban yang berbeda.
__ADS_1
Dilontarkanlah hinaan yang begitu menyayat hati dan harga diri pria tersebut. Hal yang sempat membuatnya berhenti bernapas sejenak karena ucapan Ashley terlalu menyakitkan.
Pupilnya bergetar saat kelopak matanya tidak berkedip sama sekali. Darahnya berpacu seiring dengan meningkatnya detak jantung pria tersebut. Sesuatu dalam dadanya terasa terbakar, dan napasnya mulai tidak beraturan. Wanita bengis itu berhasil membuat kesabaran yang dipertahankannya menguap sepenuhnya.
Tenggelam dalam amarahnya, orang itu pun kehilangan kontrol akan dirinya. Dalam sekejap ia memperpendek jarak antara dirinya dengan Ashley. Diulurkanlah tangan kanannya yang berusaha mencengkram leher wanita di depannya.
Bertindak cepat, pengawal Ashley langsung menangkap tubuh pria tersebut dan berusaha menahannya agar tidak mendekati nona pembuat onar di belakangnya. Namun pria paruh baya itu menggunakan seluruh kekuatannya, dan membuat pengawal Ashley sedikit kewalahan saat berusaha menghentikannya.
Satu hal yang terlewat, tangan kanan orang tersebut masih mampu meraih jauh ke belakang.
Bukannya takut, Ashley justru terlihat seakan menantikan momen tersebut. Matanya terbuka lebar bersamaan dengan tawanya yang merekah. Dengan jarak cengkraman yang tinggal 2 inci jauhnya, siapa yang mampu menghentikan orang itu saat Ashley sendiri hanya berdiam diri?
Mungkin ini adalah cekikan pertama yang akan diterimanya di dunia Ashelia, dan wanita itu menerimanya dengan senang hati.
"Erghh-"
Hanya telunjuk.
Hanya telunjuk pria itu yang mampu menyentuh dagu Ashley, sebelum kesatria tersebut menarik tangannya ke belakang dan menyepak pergelangan kakinya. Terjatuh dalam posisi tengkurap, tubuh dan dagunya pun menhantam tanah dengan keras.
Meski hanya telunjuk namun kekuatannya lumayan terasa, hingga membuat Ashley tertoleh ke samping. Jika ia memiliki kuku, mungkin dagu Ashley sudah berdarah sekarang.
Mendecakkan lidahnya, wanita itu menunjukan rasa tidak puas atas hasil yang seharusnya ia syukuri tersebut.
Bagaimana tidak? Hal yang ia inginkan adalah terluka, agar ia memiliki alasan untuk memberhentikan pengawalnya.
Masih memasang wajah kesal, Ashley pun membiarkan hal ini berlalu. Mengusir pengawalnya bisa ia lakukan lain kali.
__ADS_1
Sekarang ia harus kembali mendayung untuk setidaknya melewati dua pulau lainnya.
.................. Bersambung .................