
Di dalam sebuah kereta kuda sewaan yang dapat dijumpai di tepian jalan kota Vinnas, sepasang pria dan wanita tengah duduk berseberangan. Dalam perjalanan mereka menuju kediaman keluarga Midgraff, hanya suara roda dan langkah kaki kuda saja yang terdengar.
Meletakkan salah satu lengannya pada ambang jendela, wanita berambut pirang di sana menyandarkan dagunya pada punggung tangan. Pandangannya kosong menatap gelapnya malam di luar jendela, sedangkan pikirannya masih tertinggal di gang sepi yang baru saja ia tinggalkan.
Ucapan Guilherme masih terngiang di kepalanya. Pria itu mengatakan bahwa Eva kemungkinan masih hidup dan hanya dipindahkan. Karenanya, Ashley tidak perlu merasa bertanggungjawab dan sesegera mungkin mengakhiri urusannya dengan Far.
Tentu kata 'mengakhiri' yang Guilherme maksud adalah berhenti dan tidak berurusan lagi dengan bos besar dunia gelap tersebut.
Setelah menyadari bahwa Ashley memang tidak tahu apa-apa mengenai Far, pria itu hanya bisa menyarankan agar wanita tersebut tetap berada dalam lingkup ketidak tahuannya. Benar memang, terkadang sesuatu lebih baik tidak pernah diketahui. Namun tanpa alasan yang jelas, bisakah seseorang menerima hal tersebut?
Semakin memikirkan saran itu semakin besar pula alasan Ashley untuk terus maju. Lagipula ia masih belum bisa memastikan jika Far bukanlah target balas dendam Ashelia. Ia tidak bisa mundur begitu saja setelah sampai sejauh ini.
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di tempat tujuan.
Menyambut tangan Alais yang berniat membantunya turun, Ashley kemudian melangkah keluar dengan anggun layaknya seorang putri bangsawan pada umumnya. Bedanya hanya terletak pada penampilan wanita itu yang mampu membuat si kusir terhipnotis.
Bukan karena cantik, namun karena kelewat menakutkan. Kusir tersebut merasa nyawanya dan keluarganya mungkin bisa terancam jika ia tidak berhati-hati.
Sekali lihat saja semua orang pasti tahu jika kedua orang di sana baru saja melakukan hal buruk. Cukup beruntung bagi si Kusir, karena Ashley tidak berniat menyingkirkan 'saksi mata' terakhir itu dan hanya memberinya ancaman saja.
Sebelum berjalan menuju pintu utama, wanita tersebut melirik ke arah Alais. Dilihatnya keadaan pria yang jelas seperti baru saja membuat onar itu dengan seksama.
"Suruh si botak ngurus luka lo dulu." Perintah Ashley merujuk pada dokter keluarga Midgraff.
Merasa tidak pantas dan tidak perlu sampai menemui dokter, Alais menolak dengan sopan. Ia mengatakan luka kecil seperti itu dapat ia obati sendiri. Namun, bukan jawaban tersebut yang ingin didengar oleh nonanya. Sambil melirik ke arahnya dengan tatapan penuh ancaman, Ashley kembali berucap,
__ADS_1
"Lo ngebantah?"
Menundukkan badannya seketika, Alais tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan sang nona. Meski begitu, senyuman lembut tersungging di bibirnya. Ia sadar, meski terkesan menakutkan, Ashley melakukan hal itu untuk kebaikannya.
Bukan hanya pada dirinya, wanita yang terkenal gila itu juga sebenarnya peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Seperti kegigihannya mencari Far karena pria tersebut dapat mengancam Vincent contohnya.
Alasan Ashley membuat keributan hingga harus melawan begitu banyak orang tadi juga pasti karena ada sangkut pautnya dengan Daryl. Ia bahkan menyuruh Bellena membawa pipa rokok Eva pulang agar gadis itu tidak terjebak dalam hal berbahaya tersebut. Lalu demi Guilherme, ia juga melarang Alais untuk ikut campur, karena kesatria itu tentu akan membunuh pria tersebut demi nonanya.
Bukan berarti membunuh ketua geng tersebut adalah hal yang mudah, namun hasilnya pasti tidak akan sesempurna ini jika Alais ikut campur.
Kepercayaan Alais terhadap kebaikan wanita tersebut tidak sepenuhnya salah. Karena meski terus menyangkal, hanya masalah waktu saja sampai si Bengis itu akhirnya mengakui jika ia memang peduli.
Sempat terpikir oleh Alais sebelumnya, apakah mungkin ia terlalu terburu-buru mengucap sumpah setianya saat kebanyakan kesatria bahkan enggan melakukan hal tersebut.
Akan tetapi, sama seperti saat di mana ia memutuskan siapa yang akan ia layani kala itu, kini ia juga merasakan keyakinan yang kuat. Jika hari itu ia tidak mengatakannya, maka kali ini ia pasti akan mengucap sumpah tersebut.
Membuka pintu kediamannya namun tidak mendengar suara langkah kaki yang mengikutinya, Ashley kemudian menoleh ke belakang. Melihat kesatria tersebut masih membungkuk dan tidak bergerak barang 1 inci pun, Ashley lalu bertanya,
"Ngapain? Orangnya di dalem."
"Ah, iya." Kembali mengangkat kepalanya, Alais kemudian berjalan masuk mengikuti nonanya.
Berpisah di persimpangan tangga dan lorong utama, Ashley bertanya apakah Alais tahu ke mana ia harus mencari sang dokter.
Tidak tinggal di sana hanya dalam kurun waktu beberapa hari, kesatria itu tentu tahu ke mana ia harus pergi. Menjawab dengan anggukkan, Alais membuat wanita yang sebenarnya tidak ingin mengantarnya tersebut merasa sedikit teringankan bebannya.
__ADS_1
Namun ada satu hal yang mengganjal di mata Ashley.
Orang yang terbiasa tersenyum karena alasan yang tidak baik itu sangat terganggu saat melihat ada orang yang terus tersenyum ke arahnya. Meski senyuman itu terlihat tulus, hal tersebut juga sama mengganggunya bagi Ashley.
Ia tidak suka saat seseorang menganggapnya sebagai orang yang baik, karena hal tersebut sudah pasti dapat mempengaruhi kepemimpinannya yang berlandasan pada rasa takut.
"Gausah senyum-senyum." Perintahnya dingin tidak ingin tahu apa alasan di balik senyuman Alais.
Seketika, terhapuslah senyuman itu dari pandangan Ashley. Sambil berdiri tegap, kesatria tersebut memasang wajah serius seperti yang diinginkan nonanya.
Kembali melangkahkan kakinya, wanita itu kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Selamat istirahat, Nona." Ucap Alais mengakhiri perjumpaan mereka.
Tanpa menoleh, Ashley juga menyuruhnya istirahat setelah mendapatkan perawatan dari sang dokter.
"Baik. Sampai jumpa besok." Jawab pria itu kemudian.
Berhenti dan menoleh ke belakang, Ashley mendapati pria tersebut masih membungkuk ke arahnya. Dalam hati wanita itu pun bertanya, apakah kesatria itu paham arti kata istirahat?
Tidak berniat memperumit hal sepele, Ashley pun kembali melanjutkan langkahnya. Ia tahu Alais memang sedikit keras kepala, dan lagi, itu juga tidak merugikannya. Tidak ada alasan baginya untuk memaksa.
Namun kalimat 'sampai jumpa besok' tersebut tidak pernah terlaksana.
Tidak ada yang mengira, jika kalimat tersebut akan menjadi kalimat terakhir yang Ashley dengar dari kesatrianya, dan wajah serius Alais adalah ekspresi terakhir yang ia lihat hingga akhir hayatnya. Seandainya ia tahu apa yang akan terjadi, mungkin wanita itu akan memaksa Alais untuk tinggal bersamanya. Atau mungkin sejak awal ia tidak akan pernah menerima sumpah kesatria tersebut.
__ADS_1
Saat semua terlihat mulai membaik, sejatinya, itu adalah awal dari sebuah takdir menyakitkan yang telah menanti Ashley sejak ia pertama kali memasuki dunia Ashelia.
.................. Bersambung .................