
Di sebuah restoran di pusat kota Vinnas, seorang gadis yang akhir-akhir ini sedang menjadi topik pembicaraan, hadir di sana. Bersama dengan pelayan pribadinya ia berjalan memasuki restoran tersebut.
Pelayan restoran yang mengetahui identitas gadis itu pun menawarkan ruangan terbaik mereka. Semua mata tertuju padanya, mengikutinya menaiki tangga meuju ruang vip yang ada di lantai dua.
Ditutupnya tirai ruangan itu, menghalangi semua pandangan yang berpusat kepada gadis tersebut.
Terdapat beberapa jendela besar berjejer di sana. Jajaran jendela itu seakan dibuat untuk memberi kesan tak berdinding, menyuguhkan pemandangan gunung Halla tempatnya menginjakan kaki pertama kali di dunia itu.
Terdapat pengait pada dua jendela yang berada di setiap ujung. Hal itu menandakan bahwa jendela tersebut dapat dibuka. Sambil menunggu pesanannya datang, Ashley berjalan menuju jendela tersebut.
Dibukanya salah satu jendela itu, membiarkan udara segar menerobos masuk. Wanita tersebut kemudian melihat ke bawah, mendapati adanya sebuah jalan kecil yang jarang di lewati orang.
Tak lama, pelayan pun datang dengan sajian makanan yang Ashley pesan. Seperti di kediamannya, restoran biasa menyajikan makanan dari pembuka hingga penutup secara bertahap. Namun atas kemauan wanita itu, mereka hanya menyajikannya sekali.
"Suruh mereka keluar." Perintah Ashley kepada Bellena yang berdiri di samping belakangnya.
Bellena langsung berbalik dan menghadap pelayan yang berjaga kalau-kalau pelanggan mereka membutuhkan sesuatu.
"Maaf, Nona Ashelia tidak nyaman jika berada satu ruangan dengan orang yang tidak Beliau kenal saat makan."
Ketiga pelayan itu pun menuruti kemauan pelanggan spesial mereka tersebut dan berjalan mundur meninggalkan ruangan sambil membungkukkan badan.
Mengetahui situasi sudah aman terkendali, Ashley bangkit dari kursinya.
"Lo tetep di sini."
Ashley kemudian menoleh dan melihat wajah Bellena yang mulai panik. Ia terkekeh karena sudah lama tidak melihat ekspresi tersebut.
Awalnya ia menoleh karena tahu Bellena pasti akan ribut dan ia tidak ingin mengundang perhatian.
"Diem. Makan aja itu."
Wanita itu kemudian memanjat keluar jendela tersebut. Bellena semakin panik melihat tindakan nonanya karena mereka sedang berada di lantai atas.
Tanpa bersuara gadis itu mencoba menahan Ashley namun ia langsung tersentak saat Ashley menoleh ke arahnya lagi.
"Gua balik setengah jam lagi."
Bertumpu pada ornamen-ornamen dinding restoran, wanita itu berjalan ke samping menjauhi jendela-jendela di bawahnya. Ia berjalan perlahan sambil menundukan badan untuk menghindari jendela ruangan-ruangan lain yang berjajar di sebelah ruangannya.
Meski Ashley yang sedang melakukan tindakan berbahaya, namun jantung Bellenalah yang berdegup sangat cepat. Ia melihat keluar jendela mengawasi setiap pijakan nonanya.
__ADS_1
Ia tidak tahu ke mana wanita itu akan pergi, namun satu kesalahan saja dapat membuatnya celaka. Setelah itu tentu saja, Bellenalah yang akan menanggung kesalahannya.
Mengetahui sifat nonanya yang tidak suka menjelaskan, ia ragu jika Ashley akan memberikan pembelaan untuknya. Terlebih lagi jika kecelakaan itu terjadi saat Ashley menjalankan rencananya.
Sambil melihat Bellena dijatuhi hukuman, Ashley akan tersenyum jahat sambil berkata,
"Makasih buat pengorbanan lo."
Satu-satunya momen yang akan membuat Ashley berterimakasih kepadanya.
Jika bayarannya sebesar itu, ia lebih baik tidak pernah mendapatkan ucapan 'terimakasih' dari nonanya.
Ujung jemari Bellena terasa dingin. Semakin jauh Ashley melangkah, semakin gugup Bellena dibuatnya.
Ruangan yang mereka pakai menghadap ke sisi samping restoran. Meski masih terdapat jendela-jendela di bawahnya, namun itu sedikit memudahkan rencana Ashley.
Akan berbeda ceritanya jika dinding itu menghadap jalan utama. Jika demikian ia terpaksa harus menggunakan rencana lain.
Kini sampailah ia pada ujung ornamen yang melintang panjang di bawah jendelanya, namun masih tersisa satu jendela dari lantai bawah yang harus ia lewati. Ia berbalik lalu turun perlahan.
Ia berniat turun melalui sela jarak antara jendela satu yang lain. setelah itu barulah ia lompat saat jaraknya sudah dekat dengan tanah.
"F*ck."
genggamannya pun terlepas.
Ashley langsung dengan sigap merentangkan kakinya ke depan dan belakang, berusaha mengerem menggunakan ornamen di samping jendela lantai satu. Berbeda dengan kaki kanannya, kaki kiri Ashley yang terbuat dari kayu membuatnya sulit untuk mengerem. Tangannya kemudian berusaha meraih sesuatu agar ia tidak terjatuh.
Ia pun terhenti di tengah-tengah sela jendela dengan tinggi sekitar 4 meter tersebut. Jarak antar lantainya memang lumayan tinggi.
Bellena hampir saja pingsan. Nafasnya berhenti seketika saat melihat Ashley hampir terjatuh. Ia juga hampir terjatuh karena ingin memastikan posisi nonanya saat itu. Melihat nonanya baik-baik saja, ia langsung menarik badannya mundur.
Kakinya terasa lemas, sambil berpegangan pada ambang jendela, ia menunggu nonanya benar-benar selamat sampai bawah.
Tangan Ashley yang kini memegang ornamen di sisi jendela itu membantunya menata posisi, sebelum akhirnya melanjutkan untuk turun perlahan.
Sesampainya di bawah ia langsung mengambil tongkat yang ia selipkan di sisi kanannya dan benjalan menuju tempat yang hendak ia tuju.
Seorang laki-laki yang tengah menikmati hidangannya di dalam restoran, tepatnya di dekat jendela Ashley melintas, dibuat terkejut dengan keanehan yang ia lihat.
Bagaimana tidak? Ashley tidak terlihat melewati jendela yang lain namun tiba-tiba ia muncul dari balik tembok dan melewati jendela terakhir.
__ADS_1
Wanita yang duduk di depannya membelakangi jendela pun menoleh ke belakang saat melihat wajah terkejut pria itu.
"Ada apa?" Tanyanya yang dibuat bingung namun juga sedikit kesal.
"Kau percaya teleportasi?" Ucapnya tiba-tiba.
...****************...
Di sebuah gang buntu di balik gedung toko pakaian yang tidak jauh dari restoran tersebut, seorang gadis dengan setelan khasnya tengah menunggu seseorang.
Ia sesekali memutar pergelangan tangannya yang terasa tidak nyaman akhibat kejadian yang ia alami beberapa saat lalu.
Hampir setengah jam ia menunggu di sana, sebelum akhirnya ia mendengar suara langkah kaki menuju ke arahnya. Seseorang dengan tudung kepala muncul dari balik tembok.
Dibukalah tudung itu, menampakkan wajah yang familiar di mata wanita tersebut.
"Oh. Gua kira lo gagal." Sapa wanita itu.
"Ada sedikit masalah yang harus kuurus terlebih dahulu."
"Lebih berharga daripada 1.200 koin emas?" Sindir Ashley yang sudah dibuat menunggu lama.
Laki-laki itu tertawa mendengar ucapan Ashley. Jumlah uang yang wanita itu tawarkan memang bukan main, bahkan untuk pekerjaan yang terbilang mudah baginya.
"Tidak sebesar itu. Hanya saja, aku tidak bisa menikmati imbalanku jika masalah itu belum selesai."
"Tapi Nona,"
Orang itu berjalan mendekat sambil memperhatikan Ashley dari bawah ke atas.
"Aku tidak melihat kau membawa uangnya. Ada uang ada barang, kau tahu, kan?"
Ashley hanya tersenyum dan menendang sebuah paving yang terlihat menonjol keluar. Dari balik paving yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, terkubur sekantung emas yang ia taruh sebelum pergi ke restoran.
Mata laki-laki itu bersinar saat melihanya dan senyum mengembang di bibirnya. Ditutupnya kemudian lubang itu dengan kaki kanan Ashley.
Sambil tersenyum ia bertanya,
"Jadi, apa yang lo dapet?"
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1