Cinderella Gila

Cinderella Gila
Ashelia? Ada apa ini?


__ADS_3

Berhasil menahan dua serangan Ashley, membuat kesatria Marion percaya diri. Terlepas dari aura membunuh gadis di depannya yang cukup kuat, ia berpikir bahwa nona tunggal Midgraff itu bukanlah ancaman sama sekali baginya.


Namun, saat ia merasa bahwa ia telah berhasil menahan senjata Ashley, identitas asli dari tongkat itu terlihat.


Melihat gadis di depannya merubah genggaman tangannya, kesatria itu semakin mengeratkan pengangannya. Betapa terkejutnya ia, saat melihat Ashley dengan mudah menarik pegangan tongkat itu dan menampakkan bilah pedang di dalamnya.


"Marion!"


Hanya sekitar 2 senti bilah pedang itu terlihat, dan Ashley langsung memasukkannya kembali saat mendengar suara Vincent. Wanita itu kembali menggenggam badan tongkatnya dan aura mengancam yang ia pancarkan juga seketika menghilang.


Perhatian Vincent teralih saat melihat putrinya tengah menodongkan tongkatnya ke leher kesatria yang ia tugaskan untuk menjaga Marion.


"Ashelia? Ada apa ini?"


Ada jeda sebelum Ashley memberi jawaban kepada Vincent.


"Kesalahan saya, Pak." Jawab Ashley sambil menurunkan tongkatnya.


Kesatria itu sangat bingung melihat tindakan Ashley. Entah apa yang wanita itu pikirkan. Setelah benar-benar mengincar nyawa kesatria tersebut, ia tiba-tiba saja berhenti.


"Saya sedikit mengetesnya untuk melihat apa dia bisa dipercaya menjaga istri Anda, atau malah mencelakainya."


Mendengar pernyataan putrinya, Vincent meyakinkan gadis itu jika kesatria tersebut adalah orang yang loyal dan tidak perlu diragukan lagi. Ashley kemudian membungkukkan badannya dan meminta maaf kepada Vincent karena telah meragukan orang yang ia percaya.


Meyakini bahwa Ashley berniat melindungi istrinya, Vincent menepuk pundak gadis itu, mengisyaratkan jika ia telah menerima permintaan maaf Ashley sekaligus berterimakasih atas niat baiknya.


Niat baiknya?


Sejak awal Ashley tidak peduli dengan nyawa Marion. Ia menyerang kesatria itu, dan memang berniat membunuhnya, karena laki-laki itu berani mengacungkan pedangnya ke arah Ashley. Meski tidak jadi ia lakukan, namun di mata Ashley, hal itu adalah dosa besar yang layak mendapatkan eksekusi di tempat.


Karena suatu alasan yang tidak bisa ia abaikan, Ashley terpaksa harus mengurungkan niatnya, dan sekali lagi 'menahan diri'.


Vincent pun mengajak Marion kembali ke kamar mereka. Kepala pelayan yang baru kembali setelah mengurus kereta pun mengikuti Vincent dan beberapa pelayan lainnya. Kepala pelayan wanita pergi membantu pelayan pribadi Marion, dan kesatria Marion juga pergi untuk mengganti pakaiannya.

__ADS_1


Semua orang telah meninggalkan aula masuk, kecuali Ashley dan Bellena yang masih berdiri diam di belakangnya. Ketua mafia itu tengah melihat ke jendela yang menampakkan gelapnya malam yang diguyur hujan deras berpetir.


Ashley mengeratkan gigi dan kedua genggaman tangannya. Ia kemudian berjalan menuju pintu utama dan membukanya lebar. Air hujan jatuh mengenainya namun ia sama sekali tidak bergeming.


Saat ia hendak melangkah keluar, kilatan petir terlihat di langit dan membuat kakinya terhenti. Perasaannya sangat tidak tenang dan sesuatu dalam dirinya terus berteriak memintanya untuk menjauh.


"Ba**ngan!!!"


Tangannya gemetar memegang gagang pintu, menahan diri untuk tidak menutupnya.


Lalu, kilat kembali terlihat dan Ashley spontan menutup pintu itu.


Gagal.


Usahanya melawan rasa takutnya pun gagal. Ia mengumpat sejadi-jadinya sambil memukuli pintu di hadapannya berkali-kali. Bellena hanya diam membeku. Ia tidak pernah menyaksikan Ashley semarah ini.


Tak berubah ataupun berbekas. Layaknya memukul tembok, pintu kayu itu sangatlah keras. Namun tidak ada perasaan lain selain amarah yang Ashley rasakan saat itu.


"Apa lagi sekarang?" Tanya Vincent mendengar suara dari lantai bawah.


Vincent pun memahami kekesalan Ashley dan mengabaikan kegaduhan yang wanita itu perbuat.


Suara hantamannya terdengar begitu keras. Orang-orang yang mendengarnya dapat merasakan betapa kesalnya wanita itu. Namun kekesalan Ashley kemudian disalah-artikan oleh mereka.


Seorang anak yang masih begitu peduli dengan ibu tirinya meski ia sering disiksa. Seorang anak yang begitu kesal karena tidak dapat membalas perbuatan orang yang telah mencelakai ibu tirinya. Mereka pun mulai memandang Ashley sebagai orang yang sebenarnya baik.


Bellena yang juga tidak mengetahui kejadian Ashley tersambar petir, tidak begitu paham dengan alasan nonanya marah. Karena Ashley juga sudah memperkirakan kegagalan para pembunuh bayaran itu, Bellena jadi semakin bingung dengan apa yang membuat wanita itu begitu marah.


Tentu Bellena khawatir, karena tidak memahami Ashley, sama saja dengan berjalan dengan hewan buas tanpa tahu kapan mereka lapar.


...****************...


Selesai mengganti pakaian, kesatria Marion pun pergi menemui Vincent untuk melaporkan apa yang terjadi dalam perjalanan mereka tadi.

__ADS_1


Saat mereka melewati lembah yang terkenal akan para banditnya, lebih dari 10 orang menyerang mereka dari arah hutan dan lereng.


Daripada bandit, jumlah mereka lebih seperti bagian dari organinasi. Namun itu juga salah karena kerjasama mereka sangatlah buruk. Ia dapat mengatasi mereka dengan mudah karena kebanyakan bekerja secara individu dan malah saling mengorbankan satu sama lain.


Saat tengah disibukan dengan yang lain, ia merasa jika seorang penyerang jarak jauh mereka menghilang. Benar, orang itu sudah berlari mendekati kereta.


Saat orang itu hampir membunuh pelayan pribadi Marion yang sudah bertukar baju dengan Marion, kesatria itu sampai tepat waktu dan berhasil menyelamatkan mereka.


Mendengar penjelasan kesatria itu, Vincent pun merasa aneh. Ia juga merasa bahwa sergapan tidak terkoordinasi itu hanya didasari oleh keserakahan. Sama halnya dengan kesatria itu, Vincent juga menduga bahwa faksi baratlah yang berusaha mencelakai Marion.


Count wilayah lozan itu hanya diam. Namun kesatria yang sudah lama bekerja di bawahnya tersebut, bisa merasakan tekanan yang tidak sengaja terpancar karena amarahnya.


Karena tidak ada hal lain yang ingin ia sampaikan, kesatria itu pun pamit undur diri. Setelah mendapat ijin dan sekaligus ucapan terimakasih dari tuannya, ia berbalik.


Vincent yang baru saja hendak kembali melanjutkan pekerjaannya, teralih saat mendengar suara hantaman di depannya.


Kesatria itu menabrak dinding di samping pintu keluar yang jelas tidak bisa berpindah tempat.


Vincent hanya menatapnya bingung. Begitu pula kesatria tersebut, yang merasa 100% berjalan ke arah pintu.


Ia kemudian teringat dengan sesuatu. Tendangan yang Ashley lancarkan sebelumnya, memang diarahkan ke telinganya. Meski tertangkis, tapi benturannya masih keras.


Hanya Ashley dan dirinyalah yang mengetahui fakta jika ia hendak menarik pedangnya untuk melawan wanita itu, dan, hanya mereka berdua yang tahu jika Ashley tidak bermaksud mengetes tapi memang ingin membunuhnya.


Di saat yang sama, di kamar Ashley, wanita itu sudah mulai tenang.


Hujan tidak lagi sederas tadi, kilatan petir juga sudah tidak lagi tampak.


'Mungkin itu yang disebut suasana hati berubah sesuai cuaca?' Batin Bellena.


Ashley hanya diam menatap langit-langit sebelum akhirnya menghela nafas dan berkata,


"ATM gua udah nunggu pasti."

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2