Cinderella Gila

Cinderella Gila
Sebuah mawar yang tak hanya berduri namun juga beracun


__ADS_3

Dengan pandangan mata kosong, wanita tua yang duduk di hadapan Daryl seolah nenerawang jauh ke belakang Ashley. Seakan-akan ia tengah melihat ke dalam dunia lain.


Tubuhnya semakin gemetar saat Ashley berjalan semakin dekat. Di matanya, wanita cantik berambut pirang tersebut terlihat seperti seorang pembunuh masal.


Ratusan bahkan mungkin ribuan jiwa yang terenggut oleh Ashley bersemayam di balik punggungnya. Dengan tubuh bermandikan darah wanita itu menanggung dendam, penyesalan, kesedihan, sekaligus amarah para korbanya.


Di leher Ashley terdapat sebuah rantai besar yang mengekangnya. Kemudian ujung dari rantai tersebut terhubung ke langit. Begitu jauh hingga tak terlihat lagi. Sebuah bukti bahwa ia bukanlah seseorang yang berasal dari dunia tersebut.


Seseorang yang diutus langsung oleh Tuhan.


"Tuhan ampuni kami!"


Bukan sekedar gelandangan, wanita tua tersebut adalah seorang abdi setia dari kuil setempat. Ia juga diberkahi dengan sesuatu yang tidak umum dimiliki manusia. Sesuatu yang mampu melihat siapa Ashley sebenarnya.


Bukan hanya sosok pembantai keji, di matanya ia juga dapat melihat kepulan asap hitam yang mengelilingi Ashley menyebar di sekitar area yang telah wanita pirang tersebut lewati. Kabut kelam itu bahkan mampu menyelimuti siang dan membuatnya gelap layaknya malam. Sebuah pertanda akan datangnya sesuatu yang buruk.


Menyatukan seluruh kesan yang didapatnya dari Ashley, wanita tua di sana akan percaya jika Ashley adalah seorang malaikat pencabut nyawa.


Lehernya kemudian terasa tecekik. Semakin dekat jarak Ashley, semakin kuat pula cekikan tersebut. Lalu saat kesadarannya memudar, wanita tersebut mulai mengucapkan sesuatu menggunakan bahasa yang ia sendiri pun tidak paham.

__ADS_1


Dengungan mulai terdengar di telinga Ashley setelah beberapa saat mendengarkan bahasa asing tersebut. Seiring dengan semakin tingginya suara dengungan itu, ucapan wanita tua di hadapannya menjadi semakin jelas.


...mala petaka...


...karma...


...yang kau renggut dari teman dan keluarga mereka.


Dengan tanganmu sendiri kau menyeret jiwa-jiwa lemah ke dalam kegelapan. Sebuah mawar yang tak hanya berduri namun juga beracun.


Mendengar ujaran kebencian yang terlontar dengan kalimat lembut tersebut membuat Ashley sedikit aneh. Banyak orang yang membenci dan menyumpahinya dengan kata-kata kasar. Baik itu kata-kata terakhir dari para korbannya, maupun umpatan sanak saudara dan sahabat korban.


Namun kini ia merasa seperti sedang diceramahi seorang pendeta, atau mungkin lebih tepatnya 'dimaki'.


Tanpa diberi tahu pun Ashley sangat sadar dengan apa yang telah ia perbuat selama ini. Jika setiap hal buruk yang terjadi kepadanya adalah karma, maka biarlah itu terjadi. Toh ia bukan tipe orang yang akan menyalahkan takdir. Kesal dan marah pun, ia tetap akan menjalaninya.


Namun itu bukan berarti ia tidak memiliki penyesalan. Hal yang membuatnya kemudian menyalahkan diri sendiri daripada takdir. Sebuah ketidak mampuan dan rasa tak berdaya yang terus menghantuinya meski ia telah menjadi sosok yang tak terkalahkan. Kenangan yang tidak boleh ia lupakan tak peduli sesakit apa pun itu.


Oh sang pembawa kehancuran.

__ADS_1


Lalu, topik yang begitu sensitif tersebut disinggung oleh orang asing di belakangnya, seorang wanita tua yang sedari tadi berceloteh tidak jelas seperti orang kerasukan.


Kemalangan akan menimpa orang-orang di sekitarmu.


Langkah Ashley terhenti seketika, membuat Daryl menoleh ke samping dan menyadari perubahan ekspresi Ashley. Pria yang tidak paham dengan ucapan wanita tua di belakangnya tersebut, tidak tahu mengapa Ashley terlihat kesal.


3 jiwa yang kau kasihi akan menemui ajal mereka karenamu.


Masih tidak ingin menganggap serius omong kosong itu, Ashley kembali melangkah pergi. Meski begitu, tak dapat dimungkiri jika ekspresi wajahnya tidak bisa berbohong. Ia jelas-jelas terlihat semakin marah.


Suara parau dari wanita tua tersebut pun semakin lama semakin keras. Layaknya orang yang telah putus asa karena tak didengar, wanita tua itu mulai berteriak.


Dan dengan tanganmu sendiri, salah satunya akan terbunuh!


Kau akan membunuhnya sendiri dengan tang-


Kepalan tangan Ashley menyela ucapan si Peramal. Para penonton yang mulai meninggalkan pertunjukan dadakan itu pun kembali menoleh ke sumber suara.


Hanya dengan satu pukulan hidung wanita tua tersebut hancur, namun tak sehancur perasaan Ashley. Memori kematian rekan-rekannya muncul satu persatu dalam benak wanita beringas di sana, membuat kelima inderanya seakan tak berfungsi lagi.

__ADS_1


"Lo yang mati di tangan gua!"


.................. Bersambung .................


__ADS_2