
Setelah pandangan Ashley terhadap dunia berubah akibat novel yang ia baca, jauh di lubuk hatinya, ia masih ingin percaya jika ada orang baik di dunia yang hancur sekali pun.
Kemudian, keluarga Derius adalah orang-orang yang mampu membuat kepercayaan rapuh wanita itu tetap hidup. Akan tetapi, apa jadinya jika orang-orang yang ia pikir baik itu ternyata hanyalah sekumpulan orang bodoh?
"Ujung-ujungnya, lo semua cuma bisa nyesel trus mati konyol."
Terdapat sedikit rasa sedih yang tersirat di dalam kalimat yang diucapkan oleh ketua mafia tersebut.
Bukan karena kematian keluarga Derius tentu saja, melainkan karena kepercayaan tipis yang yang ia miliki harus kandas terantuk kenyataan.
Apa yang kau bayangkan? Wanita dingin itu bukanlah tipe orang yang akan menangisi kematian seseorang.
Terlebih lagi, nilai orang-orang itu sudah jatuh di mata Ashley. Karena kelalaian mereka, bukan hanya kepercayaan, nyawa wanita itu pun dipertaruhkan.
"Lo juga. Gimana lo ngarahin anak buah lo sampe terus-terusan kecolongan?" Lanjut Ashley berpindah menyalahkan kakak ke-dua Kalia.
Awalnya Kalia percaya, ia sangat percaya jika Ashley ada di pihaknya. Namun setelah mendengarkan perkataan wanita tersebut, bukankah itu terdengar seperti Ashley justru ingin ia terkurung? Wanita itu bahkan tahu jika Kalia sering keluar diam-diam, dan kemudian mebuat hal itu menjadi rahasia publik.
Gadis itu benar-benar dibuat bingung oleh motif dan jalan pikir Ashley yang selalu sulit untuk dibaca.
Di lain pihak, bukannya mengakui kesalahan, kedua kakak dan ayah Kalia justru merasa janggal setelah mendengar ucapan wanita itu.
Hanya kakak pertama Kalia yang mengetahui tentang peringatan yang Ashley berikan, sehingga hanya dirinya yang menyadari tentang adanya hubungan antara pelarian Kalia dengan peringatan Ashley. Akan tetapi, bagaimana wanita itu tahu tentang kakak kedua Kalia yang memimpin pasukan pertahanan keluarga mereka dan bukan si kakak pertama?
Asteron yang masih tidak mengetahui identitas Ashley, sepenuhnya menganggap wanita tersebut sebagai musuh. Musuh yang berani mempermainkan dirinya dengan menyandera putrinya. Hal yang membuatnya tidak mempedulikan inti kalimat Ashley.
Matanya menerawang melewati bahu Ashley, melihat kesatria yang berada di belakang wanita itu. Ia berniat menyuruh kesatria tersebut untuk memberi serangan kejutan dari belakang kemudian menyerahkan sisanya pada dirinya. Kalia mungkin akan sedikit terluka namun itu akan membebaskannya dari wanita tersebut.
Begitu rencananya.
Sebelum Ashley menggagalkan niat itu karena mampu menyadari fokus mata Asteron yang tidak tertuju kepadanya.
__ADS_1
"Don't try me." Ancam wanita tanpa kesabaran tersebut dengan tatapan yang dapat menusuk baja sekali pun.
Ayah tiga anak itu kembali mengurungkan niatnya saat melihat situasinya justru menjadi lebih tegang daripada sebelumnya.
"Cuma karna gua suka sama lo, ga berarti lo bisa lepas tanggung jawab."
Kalimat terus terang itu benar-benar tidak bisa membuat siapa saja terbiasa. Terutama Daryl yang menjadi semakin tidak menyukai Asteron.
Tanpa menghiraukan perasaan orang yang mendengarnya, Ashley melanjutkan,
"I didn't kill them for nothing."
"Ini bukan layanan masyarakat, jadi gua harap lo ngerti. Semua ada harganya" Lanjutnya yang kembali meninggalkan pertanyaan di benak ketiga Derius tersebut.
Membunuh mereka? Siapa? Apa yang sedang ia bicarakan?
Setelah memperhatikan dengan seksama, penampilan Kalia, Daryl dan Ashley memang cukup berantakan, terutama nona berambut pirang di sana. Tatanan rambutnya cukup berantakan dan lagi terdapat bagian yang terpotong tidak rapi.
Selain itu, meski sempat terusap, namun di wajah wanita itu masih terdapat bekas darah pada bagian garis rahangnya. Begitu pula di permukaan perban yang membalut lehernya dan kerah renda kemejanya.
Sebenarnya, apa yang terjadi?
Niat Ashley menyandera Kalia adalah untuk menunjukan siapa yang memegang kendali. Mengetahui kesatria tidak berguna yang datang terlambat berani menatapnya dengan tatapan mengancam, sangatlah mengganggu pikirannnya.
Ditambah lagi, ia menjadi lebih mudah mendapatkan perhatian dari ketiga orang yang lahir dengan keangkuhan dalam darah mereka tersebut.
Merasa cukup, setelah memberi penjelasan rancu yang hanya terus memunculkan pertanyaan itu, Ashley pun melepaskan Kalia. Tidak perlu baginya membuktikan apakah ada orang dalam di keluarga Derius yang menginginkan kematian Kalia, karena pada akhirnya mereka semua mati demi gadis manja tersebut.
Saat terbebasnya Kalia itulah, yang kemudian dijadikan momen paling pas untuk menyerang balik.
Dengan tombak yang terbilang pendek, seseorang dari sisi kanan belakang Ashley menghunuskan senjatanya ke arah leher wanita itu. Entah ia memang ingin menyerang, atau hanya sekedar berniat membatasi pergerakan Ashley agar tidak maju dan kembali menyandera Kalia.
__ADS_1
Tanpa merubah posisi kakinya, wanita itu hanya mencondongkan tubuhnya ke kiri, bersamaan dengan Daryl yang menarik lengan kirinya. Memang kelihatan seperti Daryl yang menolongnya, namun dengan kaki yang masih dalam posisi tetap dan kaki kiri yang tertekuk, mereka tahu jika Ashley telah melihat serangan tersebut dan berhasil menghindar.
Ditangkapnya mata tombak tersebut dengan memipihkan jari tangan Ashley. Sedikit memutar tubuhnya, wanita itu melayangkan kakinya yang kemudian ia sejajarkan lurus dengan gagang kayu pangjang tersebut.
Dengan tekanan sekuat mungkin menggunakan kaki kanannya, kayu tersebut patah. Kemudian, dibalikkannya ujung tombak tersebut ke arah pemiliknya dan langsung ia dorongkan dengan menggunakan tangan kanannya.
Mata tombak itu melaju dengan cepat melewati leher tuannya, membuat semua orang membeku melihat hal yang tidak pernah mereka sangka-sangka.
Tombak itu bukannya menembus leher kesatria tersebut, namun hanya menyayat kulitnya.
Meleset? Bukan, lebih seperti pamer. Menunjukan keahlian seseorang dengan kedok 'mengampuni nyawa'. Tersayat lebih dalam dari itu, dan kesatria tersebut bisa mati karena jalur darahnya terpotong.
Kesombongan yang hendak laki-laki itu tunjukan kepada Ashley justru berbalik kepadanya.
Setelah diturunkannya tombak yang mengancam nyawa tersebut, Ashley melemparkannya kembali kepada pemiliknya. Tidak ada niatan dalam hatinya untuk memperpanjang pertikaian dengan pihak keluarga pangeran ke-dua.
Dalam hati kesatria itu, ia bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita tersebut. Di kerajaan yang tidak memberikan hak bagi seorang wanita untuk menempuh pendidikan dan juga seni bertarung, siapakah wanita yang menyalahi kodrat tersebut?
Meski reputasi Ashley melonjak akhir-akhir ini, masih banyak orang yang tidak mengetahuinya. Bukan karena mereka menjauhkan diri dari gosip, namun karena Ashelia si pemalu tidak pernah menunjukan wajahnya.
Gadis yang sedari tadi hanya diam di sana, akhirnya mulai melakukan sesuatu setelah melihat kejadian tersebut. Ia tidak sempat menghentikannya karena Ashley sudah melakukan perlawanan sebelum ia sempat merespon.
Dengan kedua tangan yang mengepal di samping, Kalia berjalan mendekati kesatria yang terluka itu dengan wajah sangat marah.
Berhenti tepat di depan laki-laki itu, telapak tangan gadis tersebut langsung melayang ke pipinya dengan sangat keras.
"Kaupikir apa yang kaulakukan pada temanku!?"
Sebuah kalimat dengan kata kunci yang sudah Ashley tunggu-tunggu selama ini.
Melirik ke arah Kalia dari sudut mata wanita itu, senyuman mulai mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Ah. Misi berhasil.
.................. Bersambung ..................