Cinderella Gila

Cinderella Gila
Mungkin


__ADS_3

Mengalami stres secara konstan sejak masih kecil, Daryl tumbuh dengan pengendalian emosi yang kurang baik. Bukan hanya kesulitan mengekspresikan diri, ia juga akan cenderung menyakiti orang-orang yang dipercayanya saat sedang marah atau pikirannya kacau. Meski tidak secara fisik namun sikap dan ucapanya tetap akan menyakiti seseorang.


Seperti yang terjadi saat ini.


Thalistine, adalah orang yang membantunya mengendalikan luapan emosi tersebut, membuatnya menjadi pribadi yang lebih tenang dan tidak selalu berpikiran buruk terhadap orang lain.


Lalu Ashley, adalah orang yang menunjukkan berbagai macam perasaan baru kepadanya. Yang kemudian membuat Daryl menyadari dan mempelajari cara megekspresikan perasaan itu sehingga emosinya lebih stabil.


Sebenarnya, Daryl pun kesal terhadap dirinya sendiri setiap kali ia lepas kendali. Pria tersebut sadar bahwa tidak seharusnya ia berkata seperti itu terhadap orang yang telah menerima dirinya dan sudi berada di sisinya, tak peduli siapa dan seperti apa Daryl.


Dari sana, teringatlah ia dengan wajah tak berkedip Ashley saat hampir terinjak oleh kudanya. Dengan tatapan kosong wanita tersebut tidak tampak takut sama sekali, dan lebih seperti mempertanyakan kenyataan di depan matanya. Seolah-olah Ashley tengah berkata "Kau sedang mencoba membunuhku?" kepadanya.


Disibaknya rambut Daryl keatas dengan dua tangan. Raut wajah terkejutnya menggambarkan rasa sesal pria itu atas kesalahan yang baru saja dibuatnya. Karena dilihat dari mana pun, kejadian tersebut adalah hal yang sangat berbahaya.


"Apa yang... telah kulakukan?"


Orang yang selalu ingin dilindunginya justru ia tempatkan sendiri dalam bahaya. Lalu bukannya meminta maaf ia justru fokus pada apa yang dicarinya, tidak mempedulikan bagaimana perasaan wanita itu.


Padahal Ashley telah mulai menerima kehadirannya. Wanita tersebut bahkan mengijinkan Daryl memanggil nama panggilannya. Kerja keras pria tersebut untuk mendapatkan wanita pujaannya telah ia hancurkan sendiri karena terbawa perasaan.


Dari semua senyum dan tawa Ashley yang tersimpan dalam memori Daryl, mengapa harus diakhiri dengan sebuah tatapan tak acuh yang begitu dingin?


Bergegas keluar, Daryl berniat menemui Ashley untuk meminta maaf. Wanita yang sampai mempertaruhkan nyawa lalu datang tengah malam untuknya itu pantas mendapatkan perlakuan yang sama.


Begitu membuka pintu ruang kerjanya, Daryl lalu bertatapan dengan Will yang ternyata masih menunggu di luar sambil bersandar di pintu. Sedikit merasa canggung, pria tersebut memalingkan pandangannya kemudian berkata jika ia akan segera kembali, sebelum melanjutkan langkahnya melewati Will.

__ADS_1


Ditahannya lengan pria itu oleh laki-laki pirang di sana, membuat langkah Daryl sekali lagi terhenti. Mengetahui kemana pria tersebut hendak pergi, Will pun berkata,


"Pergi setelah kewajibanmu selesai."


Bersikeras untuk tetap pergi Daryl mengatakan bahwa pekerjaannya bisa menunggu sedikit lebih lama. Namun bukan itu yang ingin didengar Will saat ini.


"Duke Grekstine tidak mempekerjakanku tanpa alasan." Selanya kemudian, memecah sikap keras kepala Daryl dan mengingatkan pria tersebut akan kerja keras ayahnya.


Tidak lagi membantah, pria dengan gelar Marquis itu pun kembali ke ruang kerjanya. Melirik ke arah Will sebelum memasuki ruangan, Daryl mengingatkan sang asisten jika ia akan pergi begitu pekerjaannya selesai.


Sebagai orang yang diberi amanat untuk menjaga Daryl oleh pangeran ketiga, Will harus bersikap tegas. Pekerjaannya sebagai, asisten, teman, kakak, sekaligus wali Daryl terkadang begitu melelahkan. Karenanya, ia sangat terbantu saat 'keadaan' Daryl mulai membaik.


Sejujurnya, ia sangat tidak rela Ashley mempermainkan pria yang baru saja mengenal cinta tersebut. Namun ia juga tidak bisa menepis fakta bahwa Ashleylah yang membuat Daryl membaik.


Sementara itu, wanita jahat yang sangat ia waspadai tersebut tengah merenung menatap ke luar jendela.


Dengan kesadarannya yang mengetahui bahwa Daryl sangat menyukainya, Ashley tanpa sadar beranggapan bahwa pria tersebut telah menjadi miliknya. Akan tetapi, bagaimana seseorang bisa menjadi milikmu saat kau tidak tahu apa-apa tentangnya?


Betapa arogannya ia, berpikir bahwa Daryl adalah miliknya seorang lalu marah saat ada yang mengambilnya. Padahal tidak pernah sekali pun ia merasa ingin tahu siapa Daryl. Atau mungkin karena ia dengan sombongnya merasa tahu segalanya tentang pria itu.


Hingga akhirnya Ashley menyadari, jika ia belum pernah memasuki pintu dunia Daryl barang satu langkah pun.


Bahkan bila pria tersebut menjadi pemeran utama dalam novel yang dibacanya, hal itu tidak bisa menjamin Ashley akan mengetahui siapa Daryl. Mengandalkan pemahaman serta penilaian kepribadian yang ia miliki saja masih meninggalkan banyak celah ketidaktahuan.


Jangankan bertunangan, siapa teman Daryl saja Ashley tak tahu. Siapa nama orang tuanya, kapan dan kenapa ibunya meninggal, apa yang ia sukai, apa yang tidak ia sukai, berapa umurnya, kapan tanggal lahirnya, tidak ada satu pun yang diketahui Ashley. Bahkan hal mendasar seperti nama pria itu saja ia tidak ingat.

__ADS_1


Bagaimana bisa wanita tersebut mengeklaim Daryl sebagai miliknya?


Ia bahkan sampai menyalahkan Eva yang selalu menyambutnya dengan ceria.


Suara Eva saat memanggil Ashley kemudian menggema di dalam benaknya. Senyumnya, tawanya, sikap penurutnya, semua mulai bermunculan satu-persatu di pikiran wanita itu. Hal yang sangat tidak layak diterima oleh wanita egois tersebut.


Wajah Alais pun ikut terngiang disela memorinya. Meski awalnya sangat mengganggu, namun pria dengan senyuman tulus hangat itu telah menjadi pengawal yang sangat baik.


Di mana pun laki-laki itu berada saat ini, Ashley harap ia selamat dan baik-baik saja. Karena jika itu Alais, maka pembunuh bayaran pun akan kesulitan menyakitinya.


Melirik ke arah pipa rokok milik Eva yang tergeletak di atas mejanya, Ashley lalu memanggil Bellena yang berdiri tidak jauh darinya.


Menundukkan badan dari tempatnya berdiri, gadis itu membuka lebar-lebar kedua telinganya, siap menerima dan menjalankan perintah yang diberikan nonanya. Ia hanya berharap printah Ashley kali ini bukan hal yang sulit.


Namun daripada perintah, ucapan Ashley justru lebih tersengar seperti sebuah pesan.


"Kalo gua belom balik sebelom makan malem, pergi ke tempat Harun. Lo aman di sana."


"Mungkin." Tambahnya.


Tidak ingin hal yang terjadi pada Alais juga menimpa Bellena, Ashley berniat menitipkan gadis itu kepada Harun dan kelompoknya saat ia pergi mencari Eva.


Paham jika Ashley akan melakukan sesuatu yang berbahaya, Bellena tidak berani mengajukan diri untuk ikut bersamanya. Di saat-saat seperti ini, gadis itu benar-benar mengharapkan kehadiran Alais untuk mengawasi nonanya.


Karena seperti yang ia khawatirkan, Ashley tidak kembali tepat waktu.

__ADS_1


.................. Bersambung .................


__ADS_2