
Sikap Marion yang terbilang mudah ditakut-takuti membuat namanya bersih dari daftar hitam Ashley. Tidak mungkin orang sepertinya bisa benar-benar membuat seseorang putus asa.
Atasan Marion juga berkemungkinan sebagai target Ashelia. Namun itu juga tergantung dari rencana mereka. Jika tujuan mereka adalah menyusup dan mengambil alih keluarganya, maka itu bukan urusan Ashley melainkan masalah Vincent.
Saat Aselia meminta pertolongan, yang ia inginkan adalah pembalasan dendam bukannya perlindungan. Karena itu, jika mereka merencanakan sesuatu dan menyingkirkan Ashelia adalah bagian dari rencana tersebut, maka dapat dipastikan bahwa ialah target Ashelia.
Memungkinkan memang untuk menginterogasi Marion, namun pergerakan Ashley terbatas karena Vincent- yang ia pikir adalah ayahnya, berpihak kepada Marion juga.
Selagi menunggu perkembangan rencana Marion, ia masih perlu mencari tahu mengenai kandidat lain. Sangat memungkinkan jika target Ashelia sebenarnya justru tidak ada sangkut pautnya dengan Marion.
Bagaimana jika dimulai dengan menanyai orang yang sedang menguping?
"Kalo udah puas nguping, sini."
"Atau gua potong kuping lo."
Seseorang kemudian muncul dari balik pintu. Tanpa membiarkan detik berlalu ia langsung bersujud meminta ampun sambil menjelaskan alasannya.
Laki-laki itu memakai pakaian pelayan dan satu tangannya terikat kain karena patah tulang akibat ulah seseorang. Ashley langsung dapat mengenali siapa orang yang tengah bersujud di depannya itu.
Bukan bermaksud menguping, ia hanya tidak berani mengganggu perbincangan menegangkan Ashley. Sebagai salah satu korban wanita itu, ia benar-benar tidak berani macam-macam.
Sebuah surat datang pagi itu. Surat yang ditujukan untuk Nona Midgraff. Meski takut, ia tetap harus memberikannya kepada Ashley sambil meyakinkan diri jika tidak akan terjadi apa-apa karena ia hanya akan mengantarkan surat.
Siapa yang mengira jika kejadian buruk terjadi di mana pun Ashley berada.
Ia datang sesaat setelah Marion memasuki kamar nonanya. Karena tidak berani mengganggu ia mengurungkan diri untuk masuk ke zona merah tersebut. Namun di sisi lain, ia juga tidak bisa kembali karena surat harus diberikan sesegera mungkin.
Sambil ikut merasakan ketegangan yang terjadi di dalam, ia menunggu dengan sabar di balik tembok.
Kemudian saat mengetahui seseorang berjalan keluar, ia bersembunyi. Marion meninggalkan ruangan Ashley tanpa menyadari keberadaan laki-laki itu. Namun berbeda dengan Marion, nonanya sudah menyadari kehadirannya sejak tadi.
Ia terkejut dibuatnya, tidak mengetahui bagaimana nonanya bisa sadar akan kehadirannya. Niatnya yang ingin menunggu sedikit lebih lama dan berpura-pura seakan baru saja datang pun gagal.
"Bawa sini."
__ADS_1
Laki-laki itu pun bangkit dan memberikan suratnya. Matanya kemudian bertemu dengan Bellena yang sedang membersihkan pecahan cangkir. Mereka hanya saling menatap, layaknya dua anak kecil polos yang berada di bawah asuhan penyihir jahat.
"Gimana tangan lo." Tanya Ashley membuat fokusnya kembali pada Nona Midgraff yang tengah berdiri di depannya.
"Karena tangan kanan saya baik-baik saja, jadi Anda tidak perlu khawatir." Jawabnya sambil sedikit membungkuk.
Ashley melirik ke arahnya yang tentu tidak ia sadari karena matanya terus menatap lantai. Yang Ashley tanyakan adalah keadaan tangannya, namun laki-laki itu justru menjawab dengan fokus pekerjaannya. Seakan ingin meyakinkan jika ia akan berusaha agar urusan keluarga Midgraff tidak akan terganggu.
"Bastian nyulitin lo?" Tanya Ashley lagi sambil berjalan ke mejanya.
Bastian? Pelayan itu tidak tahu siapa yang nonanya maksud. Namun mengingat kejadian lalu, orang yang terhubung dengannya adalah kepala pelayan. Dengan perkiraan tersebut, ia menjawab,
"Tidak, beliau justru banyak meringankan pekerjaan saya."
Sambil membuka laci untuk mengambil pisau suratnya, Ashley menggerakan tangannya mengisyaratkan jika laki-laki itu sudah boleh pergi.
Pelayan itu kemudian menundukan badannya sambil berjalan mundur beberapa langkah sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan. Perasaannya menjadi sangat lega karena tidak terjadi apa pun di sana.
Disobeknya salah satu sisi surat tersebut. Aroma bunga meruak saat ia menarik kertas yang diselipkan di dalamnya. Ashley terdiam sejenak sebelum ia mengendus surat tersebut.
"Dikasi parfum?"
"Iya, Nona. Untuk menghilangkan aroma kayunya dan juga sebagai ciri khas seseorang." Jawab Bellena yang baru saja selesai.
"Hmm. Sounds more like flirting to me ."
Ia kemudian membaca isi surat yang tertulis pada kertas tersebut, kertas dengan motif timbul yang seperti dilukis secara manual.
Tidak lama kemudian, ia membuangnya begitu saja bagai kertas tak berharga. Bellena yang sudah melihat stempel siapa yang tercantum di sana pun terkejut. Ia buru-buru mengambilnya dan meletakannya kembali di atas meja.
Ingin ia mengatakan untuk jangan bersikap seperti itu namun ia sadar diri dan hanya menelan ludahnya.
Di bacanya surat itu sejenak. Sebuah undangan ulang tahun yang khusus ditujukan kepada Ashelia dari putri Kalia, putri dari pangeran kedua.
Ashley tentu tidak mengetahui hal tersebut. Tahu pun, ia mungkin tidak akan peduli. Ia hanya sedang memikirkan hal apa yang akan ia lakukan setelah ini untuk mendapatkan petunjuk tentang para kandidat lain.
__ADS_1
Tanpa tanda-tanda apa pun, tiba-tiba perut di sisi kirinya terasa sangat sakit. Ia tersentak ke belakang karena kaget dan membuat Bellena langsung memusatkan perhatiannya kepada Ashley.
Mata wanita itu terbelalak merasa bingung dengan apa yang terjadi. Perutnya terasa seperti tertusuk sesuatu dan bagian dalamnya terasa terbakar.
Perasaan itu sangat tidak asing baginya. Saat ia mencoba mengingatnya, ingatan yang sangat dekat itu terasa begitu jauh.
Kepalanya tidak terasa sakit namun ia merasa seperti berputar. Rasanya seperti terangkat dan terapung-apung di luar angkasa.
Rasa nyeri itu kemudian menyebar ke seluruh perutnya. Ditekannya kuat perut di bawah rusuknya. Ia terkejut saat merasakan adanya cairan pada bagian itu karena sebelumnya tidak ada.
Ia melihat ke bawah dan tangannya sudah dipenuhi darah, seakan ia sudah lama menekan luka di perutnya. Masih terus menekan bagian itu, ia dibingungkan dengan apa yang sedang ia saksikan.
Apakah ia sedang berpimpi? Kesadarannya terasa masih melayang-layang entah di mana.
"ar... os..."
Samar-samar ia seperti mendengar suara seseorang. Kepalanya terasa begitu ringan namun juga berat hingga sulit untuk melihat ke sekelilingnya.
Kemudian dua telapak tangan menangkup wajahnya dan mengarahkannya ke sumber suara itu. Masih dengan pandangan bergoyang Ashley menatap orang di depannya.
Wajah itu begitu familiar di mata Ashley. Saat itu ia terlihat begitu panik dan marah. Mulutnya terlihat terus meneriakan sesuatu.
Seiring dengan kembalinya kesadaran Ashley, suara itu terdengar semakin jelas.
"Bos!"
"Jangan tutup mata Anda!"
Ah, Kenny.
Tangan kanan kepercayaannya kini tepat berada di depannya.
Ashley melihat ke sekelilingnya. Gedung-gedung tinggi bergaya modern menjulang di sana sini. Suara tembakan yang tidak kenal waktu, teriakan orang-orang yang berusaha memberi informasi satu sama lain, dan rasa sakit tak pandang bulu di bagian perutnya, membuatnya tersadar sepenuhnya.
Ia telah kembali.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^