
Kembali ke kediaman keluarga Midgraff setelah gagalnya operasi 'berteman' mereka, diadakanlah rapat evaluasi untuk membahas hal tersebut.
Duduk di kursi kerjanya, Ashley menatap tajam bawahannya yang berdiri di depan meja. Seperti seseorang yang terancam kehilangan pekerjaannya, Bellena tidak berani menatap mata Ashley. Kemudian, atasan galak itu bersandar pada kursinya sambil menyilangkan tangan.
"Kenapa ga bilang?" Tanya Ashley mengacu pada permasalahan yang terjadi di antara Ashelia dan Kalia.
"A-Anda tidak memberi tahu saya tentang rencana Anda, jadi saya-"
Ucapannya terhenti saat melirik ke depan dan mendapati wanita di seberang meja itu terlihat marah dengan jawaban yang ia berikan.
"Jadi salah gua?" Tanya Ashley menekankan poin yang akan disampaikan pelayannya.
Merinding setelah melihat nonanya, Bellena langsung membungkukkan badannya dan meminta maaf dengan suara lantang.
"Salah saya, Nona! Maafkan kelalaian saya!"
Hanya membalas permohonan maaf yang dipaksakan itu dengan helaan napas, Ashley kemudian meminta Bellena menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Karena masih kesal dengan kegagalan yang mengingatkannya pada hukuman Anthony, Ashley meminta Bellena menjelaskannya dengan singkat. Lalu sesuai keinginan nonanya, gadis itu pun menjelaskannya dengan sangat singkat.
Terlalu singkat. Hingga tidak dapat dimengerti.
"Teman, Tuan Ristoff, marah, musuh."
Ditatapnya gadis itu sejenak, setelah berakhirnya penjelasan yang ia berikan. Tidak ada penjelasan lain atau apa pun yang ia tambahkan meski Ashley menunggunya selama beberapa detik. Menandakan memang hanya itu yang hendak ia sampaikan.
Diambilnya pisau pembuka surat yang kebetulan berada di atas mejanya. Disentuhnya mata pisau yang sedikit tumpul itu perlahan hingga ke bagian ujung.
"Lama ga ketemu gua, lo jadi agak berani sekarang."
Pendeteksi bahaya Bellena langsung menangkap sinyal bahaya dengan level yang tinggi. Dalam sekejap, ia tidak lagi terlihat dari balik meja. Bukan melarikan diri atau berteleportasi, gadis itu tengah bersujud di lantai hingga tidak terlihat dari balik meja.
"Hamba tidak akan berani, Dewi!"
Ashley bangkit dari kursinya dan menatap ke bawah, tempat di mana pelayan pribadinya bersujud. Dilemparnya pisau surat yang ada di tangannya ke arah gadis itu.
Bellena tersentak mundur, spontan mengangkat kepalanya saat mendengar suara sesuatu jatuh ke lantai tepat di atas kepalanya. Pisau pembuka surat yang tadinya dibawa oleh nonanya, kini tertancap di lantai kayu yang dipoles halus tersebut.
Ashley kemudian meletakan kedua tangannya di tengah meja dan mencondongkan badannya ke depan. Dengan raut wajah layaknya seorang antagonis dalam cerita-cerita dongeng, wanita itu menyampaikan pesan sekaligus perintah mutlak yang harus diingat oleh pelayannya tersebut.
__ADS_1
"Singkat, padet, jelas."
"Ngerti?"
Dengan cepat Bellena menganggukkan kepalanya, mengerti poin yang ditekankan oleh nona yang penuh kasih tersebut.
Ashley pun menegapkan badannya dan meminta gadis berwajah pucat itu berdiri. Ia telah kembali duduk di kursinya saat Bellena sudah sepenuhnya berdiri.
Masih merasa takut, Bellena terus menundukan kepalanya tidak berani menatap mata wanita itu, mata yang terus mengintimidasinya menunggu penjelasan yang lebih memuaskan.
Dijelaskanlah permasalahan yang menyebabkan Kalia sangat membenci Ashelia.
Sejak kecil, kedua gadis itu sudah saling mengenal. Karena sering bertemu di acara berkumpul ibu mereka, Ashelia dan Kalia pun menjadi teman dekat.
Kemudian setelah kematian ibu Kalia, Ashelia lebih sering datang untuk menemani sahabatnya. Hingga akhirnya bertemulah ia dengan Daryl untuk pertama kalinya saat berusia 15 tahun.
Karena wanita tidak diberi hak pendidikan, ia hanya bisa bertemu dengan kedua kakak Kalia saat libur sekolah. Sama halnya dengan Daryl yang saat itu sedang mengunjungi kediaman pamannya.
Mengetahui sahabatnya menaruh rasa dengan kakak sepupunya, Kalia pun berniat membantu. Dengan segala macam cara ia ingin menjodohkan mereka berdua.
Namun bantuan yang gadis itu berikan, berakhir gagal.
Pada awalnya Kalia masih terus membujuk Ashelia sambil meminta maaf. Namun setelah beberapa kali, ia berhenti.
Ia datang lagi sekitar satu tahun setelahnya saat pemakaman ibu Ashelia. Bellena tidak tahu apa yang terjadi saat itu karena mereka hanya bicara berdua, tapi setelah itu, saat mereka bertemu lagi secara tidak sengaja, sikap Kalia telah berubah.
Ia memperlakukan Ashelia layaknya-
"-kuman yang perlu di basmi." Ucap Bellena.
Ashley tertawa dalam hati, saat mendengar orang yang dianggap teman oleh Ashelia itu mengatakan hal tersebut tanpa sedikit pun keraguan. Di lain sisi, Ashley sepenuhnya sependapat dengan Kalia mengenai pembasmian kuman tersebut.
"Dan itu berlangsung bahkan setelah Nona Ashelia kehilangan kakinya." Lanjut gadis itu.
Apa yang diceritakan oleh Bellena, sama sekali tidak tertulis di buku tersebut. Kemungkinan karena Ashelia mengganti bukunya setelah hubungannya dengan Kalia berakhir.
Ashley menutup matanya meratapi kebodohan, keegoisan, dan sifat kekanakan kedua gadis itu.
Menjodohkan teman memang terdengar baik dan menyenagkan. Namun bagi pihak ke-3 yang tidak menyukainya, hal itu sangatlah menyebalkan dan mengganggu.
__ADS_1
Terlebih lagi, Ashelia justru menyalahkan Kalia. Padahal selama itu ia juga ikut andil dalam rencana tersebut. 2 tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengusik hidup seseoarang.
Lalu ajaibnya, kini laki-laki yang pernah menolak gadis itu justru berbalik mengejarnya.
Tidak.
Ashley pun tahu siapa yang Daryl sukai.
Kesimpulannya, sekarang operasi mereka berubah menjadi operasi 'minta maaf'.
Ashley menghela napas panjang mencoba meredakan kekesalannya karena bukan hanya membalas dendam dan menyelamatkan Ashelia dari eksekusi, ia juga harus memperbaiki hubungan persahabatan gadis itu yang rusak.
Masalahnya, ketimbang berteman, Ashley lebih tidak tahu cara meminta maaf. Ia yakin hanya ucapan saja tidak akan cukup.
Terlintaslah sebuah ide yang biasa ia gunakan untuk membuat orang lain melupakan permasalahan yang sudah terjadi.
Menyuap orang tersebut atau mengancamnya.
Daripada mengancam Kalia untuk melupakan masalah mereka, Ashley lebih baik mengancamnya untuk pura-pura berteman. Dengan demikian, motif pembunuhan yang ditujukan kepada Ashley nantinya tidak akan valid lagi.
Akan tetapi, jika tuduhan motif pembunuhan yang diberikan kepadanya justru ikut berubah dan ia ketahuan pernah mengancam Kalia, maka berakhirlah sudah.
Ashley yakin, jika sekelas rakyat biasa atau bangsawan tingkat rendah, ia masih bisa mengatasinya tanpa jejak. Namun bangsawan sekelas Duke dengan otoritasnya sangatlah merepotkan. Ditambah, mereka adalah orang-orang yang siap mati demi mencari pelakunya.
Tersisalah cara yang juga digunakan oleh Asteron pagi tadi.
Namun kendalanya muncul pada 'apa' yang akan ia berikan. Ia tidak tahu apa yang Kalia suka atau apa yang ia butuhkan. Mengingat gadis itu berasal dari keluarga yang statistik keuangannya terus naik, Ashley ragu jika hadiahnya mampu memuaskan Kalia.
...****************...
Di dalam ruang kerja seorang Marquis, seorang pria tengah merapikan meja dari tumpukan berkas-berkas yang baru saja mereka selesaikan. Sedangkan seseorang yang lain tengah duduk terdiam membaca sepucuk surat yang langsung ia sambar begitu mengetahui siapa pengirimnya.
Pria itu terus menatap surat tersebut meski sebenarnya telah selesai ia baca. Surat yang ditulis dengan singkat bahkan tidak mencakup 5 kata itu seharusnya terbaca hanya dalam 1 detik.
"Plaza. Besok. Jam 9."
Wajahnya tiba-tiba memerah saat mencoba memahami makna dari tulisan tersebut.
Itu adalah kencan pertamanya dengan Ashley.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^