Cinderella Gila

Cinderella Gila
Dia bilang dia tahu tempatnya


__ADS_3

"Kalau begitu saya akan mengatakan kepada kepala pelayan jika nona hendak istirahat siang ini. Agar disampaikan kepada Tuan Vincent."


Ashley pun tersenyum, mendengar inisiatif Bellena yang mencarikannya alasan agar bisa menghadiri makan siang bersama.


Lalu kebingungan pelayan itu dibuatnya, melihat sebuah senyuman lembut bisa terukir di wajah wanita sesadis Ashley. Nonanya yang bersikap baik terasa sangatlah tidak wajar bagi Bellena. Namun itu bukan berarti ia ingin diperlakukan buruk atau semacamnya.


Hanya saja, sikap nonanya sangat membingungkan akhir-akhir ini. Tidak tahu apa yang terjadi, wanita tersebut tiba-tiba marah, tiba-tiba terlihat sedih, lalu senang, dan berubah menakutkan lagi, kemudian marah, setelah itu menjadi baik. Orang mana yang bisa tenang jika menyaksikan siklus tersebut secara langsung?


Jangankan Bellena, Ashley pun tidak tahu mengapa ia begitu emosional belakangan ini. Mungkin karena stres yang bertumpuk namun tidak memiliki tempat untuk melampiaskannya, atau mungkin karena kewalahan dengan semua 'kesempatan' yang tidak ia dapatkan saat berada di dunia asalnya.


Kembali menatap ke luar jendela, Ashley lalu berkata,


"Kau boleh pergi."


Undur dari kamar nonanya, Bellena pun segera pergi menemui kepala pelayan. Mengatakan Ashley baik-baik saja dan hanya ingin istirahat karena gangguan suasana hati, Bellena berhasil meyakinkan sang kepala pelayan.


Setelah itu, kembalilah ia ke kamar Ashley untuk melapor bahwa tugasnya telah selesai ia jalankan. Namun laporan beserta ketukan pintu tersebut tidak mendapatkan respon apa pun dari sang majikan.


Bellena lalu terdiam, menyadari Ashley telah pergi dan tidak lagi berada di dalam sana.


Meski biasanya ia akan senang jika tidak terikat dengan nonanya yang sangat suka membuat onar, namun kali ini Bellena merasa sedikit tidak rela.


Hanya sedikit.


Memacu kudanya dengan kencang, Ashley melewati jalanan kota Vinnas menuju wilayah penjagaan Harun. Sesampainya ia di gang tempatnya menamai Harun dulu, wanita itu langsung memperlambat laju tunggangannya.


Dihampirinya 2 orang laki-laki dan seorang wanita yang terlihat tak jauh dari tempatnya berdiri. Mendapatkan tatapan tajam yang seolah menatap tamu tak diundang, sikap mereka seketika berubah setelah mendengar perintah Ashley.


"Anter gua ke tempat Miller."

__ADS_1


Nama belakang wanita itu adalah kata kuncinya. Karena hanya pihak Ashley dan Harun yang mengetahui nama tersebut, kata 'Miller' kemudian seolah menjadi kata sandi untuk akses khusus di wilayah Harun.


Berjalan menuju sebuah bar kecil yang berada cukup dalam dari setiap ujung gang, Ashley diantar oleh ketiga orang bawahan Harun. Suara tawa yang begitu keras terdengar hingga ke luar. Terutama suara Harun yang begitu mendominasi senda gurau mereka.


Masuklah wanita pirang itu kemudian, menyita perhatian seluruh pengunjung yang ada di sana. Meski dibilang pengunjung, mereka semua adalah anak buah Harun.


Tidak menyangka Ashley akan menemuinya langsung dan bukannya mengirim Bellena, Harun menjadi sedikit waspada. Apakah ia melakukan kesalahan sampai wanita tersebut datang menghampirinya sendiri?


Setelah apa yang terjadi di area pelacuran, siapa yang masih meragukan kemampuan Ashley? Bahkan saksi mata kejadian tersebut juga berada di sana saat ini. Bersama dengan ketiga orang lainnya yang juga mengenal Ashley, Guilherme tengah berkumpul di salah satu lokasi kumpul favoritnya.


Kebetulan sekali ketua mereka ada di sana, wanita itu jadi tidak perlu menerobos area pelacuran guna menemuinya.


Ditanyakanlah kemudian apakah salah satu di antara mereka ada yang mengetahui lokasi gudang penyimpanan barang lelang. Melihat mereka saling memandang dan menggelengkan kepala, Ashley lalu melirik ke arah Harun. Diperintahkannya laki-laki itu untuk mencari tahu lewat para bawahannya oleh Ashley kemudian.


Melihat sikap Harun yang berubah dewasa setelah melihat wanita pirang tersebut, keempat temannya merasa heran dan tak percaya. Hal yang sama membingungkannya juga mereka rasakan saat melihat sikap Ashley yang seolah memerintah laki-laki tersebut layaknya seorang atasan.


Tak mempedulikan sorot mata aneh yang diterimanya, Ashley kemudian menatap ke arah Guilherme.


Menghela napas, pria itu kemudian menjawab,


"Aku sangat berterimakasih karena kau telah mengusir mereka, tapi kali ini aku benar-benar tak tahu."


"Kau tidak perlu membahayakan dirimu seperti itu, Eva pasti baik-baik saja." Lanjut Guilherme masih mencoba membujuk Ashley untuk berhenti.


"Mana ada."


Bukan hanya Ashley, mereka semua tahu nasib apa yang akan menimpa Eva setelah ini. Kelimanya hanya terdiam menatap ke titik yang berbeda-beda.


Mereka juga mengenal Eva, karenanya mereka pasti sangat ingin menolong wanita itu jauh di dalam lubuk hati mereka. Namun layaknya sebuah peraturan tak tertulis, siapa pun yang berani mengusik Far harus berani menanggung resikonya sendiri. Terlalu banyak nyawa yang harus mereka pertaruhkan untuk satu orang jika ingin menolong Eva.

__ADS_1


"Bos, dia bilang dia tahu tempatnya." Sela salah seorang bawahan Harun yang memecah suasana suram di sana.


Seorang laki-laki pendiam berambut cepak datang bersamanya. Saat Ashley melihat ke arah pria itu, ia hanya mengangguk seakan mengkonfirmasi perkataan temannya.


Meski ekspresi wajahnya tetap datar tak berubah, namun sebenarnya Ashley merasa seperti telah menemukan cahaya dalam kegelapan.


Memutuskan untuk pergi saat itu juga, Ashley pun bergegas keluar setelah menyuruhnya untuk menunjukkan jalan. Pergilah mereka berdua kemudian, tanpa ragu ataupun menunda waktu lebih lama lagi.


Sambil melihat Ashley yang perlahan menghilang, Guilherme bertanya kepada Harun,


"Kau juga berhutang nyawa kepadanya?"


Mengiyakan pertanyaan tersebut, Harun membuat bosnya itu tersenyum kecil.


Meski sama-sama berhutang nyawa, namun kondisinya sedikit berbeda. Saat Guilherme berhutang karena ditolong, Harun berhutang karena diancam. Hal yang kemudian membuat kedua orang itu sedikit salah memahami siatuasi satu sama lain.


...****************...


Setelah sekitar setengah jam berjalan, akhirnya sampailah mereka di area yang begitu sepi meski matahari bersinar terang. Suara tapak kaki kuda mereka menjadi satu-satunya suara yang menghiasi kesunyian tersebut.


Berhenti pada salah satu bangunan dengan pintu masuk yang menjorok ke dalam tanah, Ashley kemudian turun guna menginspeksi area pintu masuknya.


Mengintip ke arah tangga yang berujung pada pintu masuk di bawah tanah, Ashley tidak melihat satu pun penjaga di sana. Apakah karena siang? Atau karena mereka pergi setelah mendengar seseorang datang?


Hendak menoleh menanyakan apakah ia benar berada di tempat yang tepat, Ashley justru dikejutkan oleh sebuah benda tumpul yang menghantam kepalanya dengan keras.


Karena tidak langsung tumbang, ditendangnya wanita tersebut kemudian ke arah tangga yang berada tepat di depannya. Berguling dari atas tangga hingga ke depan pintu gudang, Ashley terbentur beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.


Tidak langsung pingsan semudah itu, wanita itu mencoba bangkit sambil menatap tajam si Cepak yang berani memukulnya diam-diam. Namun pintu di sampingnya tiba-tiba terbuka, disusul oleh benda tumpul lainnya yang memukul pelipis Ashley tanpa peringatan.

__ADS_1


Kali ini, pukulan yang tak kalah sadisnya tersebut mampu membawa pergi kesadaran wanita pirang yang tergeletak lemas di sana.


.................. Bersambung .................


__ADS_2