Cinderella Gila

Cinderella Gila
How dare you say that


__ADS_3

Saat tengah berjalan kembali menuju tempat di mana kereta kudanya menunggu, Ashley menanyakan sesuatu yang tidak disebutkan untuk siapa pertanyaan itu diberikan.


"Dapet semua info yang lo butuhin?"


Melihat Bellena yang tidak berani bertanya dan hanya menatap 'rekannya' dengan tatapan tidak tenang, pengawal baru Ashley pun menjawab,


"Maaf Nona, Saya tidak mencapai pemahaman Nona. Jika Anda berkenan menjelaskan apa yang telah saya lewatkan."


Kata-kata kesatria itu memang selalu sopan dan meninggikan posisi nonanya, tapi justru hal itulah yang semakin membuat Ashley curiga. Pasalnya tidak ada satu pun yang besikap demikian terhadap Ashelia. Bahkan setelah Ashley mendisiplinkan bawahannya pun, hanya rasa takut yang tertanam di dalam diri mereka dan bukannya rasa hormat.


Melirik ke belakang tanpa benar-benar melihat pria tersebut, Ashley pun kembali bersuara.


"Don't play dumb. Think I know jacksh*t 'bout this?"


"Gua ga masalah kalian mau ngamatin tiap pergerakan gua. Bahkan kalo tongkat gua lo ambil sekali pun, kalian masih ga akan bisa nyingkirin gua."

__ADS_1


Mendengar ucapan Ashley, Bellena seketika melangkah menjauhi pria di sampingnya dan berpindah mendekati nonanya. Wajah gadis itu dengan jelas menunjukan bahwa ia kini menganggap kesatria tersebut sebagai musuhnya.


Apa sebenarnya yang terjadi? Menyingkirkan? Apakah ada orang yang mengincar nyawa nonanya? Kesatria itu kemudian mulai menemukan alasan dari peruhaban drastis Ashelia.


Jika bukan karena alasan yang kuat, seseorang tidak akan mungkin tiba-tiba berubah. Lalu, hal yang mendasari perubahan itu adalah karena nyawa Ashelia terancam?


Siapa? Sejak kapan? Apakah Tuan Vincent mengetahui hal ini?


Tidak aneh lagi baginya melihat Ashley begitu tidak menerima keberadaannya. Meski ia memang ditugaskan untuk melindungi wanita itu, namun di mata nonanya, ia hanya berada di sana semata-mata untuk mencari informasi. Hal yang diasumsikan untuk membaca kebiasaan dan menemukan kelemahan Ashley.


Jika Ashley bahkan mencurigai dirinya, bukankah itu berarti orang yang mengincar nyawa wanita tersebut adalah...


"...Tuan Vincent?"


Mendengar pria itu menyebut nama Vincent, Ashley menghentikan langkahnya. Begitu pula Bellena yang kemudian dibuat terkejut saat melihat ekspresi wanita itu.

__ADS_1


"Kenapa Tuan ingin menyakiti Nona?" Lanjutnya lirih.


Tersentak karena menyadari ia baru saja mengucapkan hal yang ia pikirkan, kesatria itu mengangkat kepalanya hendak meminta maaf atas hal lancang yang berani ia lontarkan. Namun permintaan maaf pria tersebut harus tertunda.


Seketika saat ia mengangkat kepalanya, wajah Ashley sudah berada tepat di depannya.


Bersamaan dengan suara jatuhnya tongkat Ashley, wanita itu mencengkram baju pengawalnya sambil mendorong kuat leher pria tersebut menggunakan lengan. Jatuh ke jalan karena tidak ada dinding yang menahan mereka, Ashley masih juga tidak melepaskannya.


Dengan rambut pirang yang teruntai mengelilingi wajah kesatria itu, sebuah pedang yang digenggam terbalik telah mengiris kulit di bawah rahangnya. Kepalan tangan Ashley menghantam jalan dengan cukup keras karena ia menggunakan pedangnya seperti sebuah pisau.


Ditatapnya wajah wanita itu oleh pria tersebut dari bawah. Dapat terlihat dengan jelas amarah yang begitu besar dari dalam mata Ashley. Namun bukan hanya amarah, dibaliknya, ia juga dapat merasakan kesedihan yang tersembunyi di sana.


"How dare you say that." Ucap Ashley geram.


"Lo pikir lo bisa ngaruhin gua? Mau itu lo, Marion, atau siapa pun, kalo berani ngadu domba gua, nyawa lo bayarannya. Paham? Bilang itu ke atasan lo."

__ADS_1


.................. Bersambung .................


__ADS_2