
Seorang tawanan, yang berusaha melarikan diri bersama dengan tawanan lain kini justru menawan para penawannya.
Menghela napas dan terpaksa menerima keadaan, Will tidak mengerti lagi apa sebenarnya yang menjadi prioritas Ashley.
Jika ia dan Eva berada di depan sana, di dekat pintu keluar dan bukan di belakang musuh mereka, mungkin Will sudah meninggalkan wanita pirang itu bersama teman-teman barunya.
Saat para pengurus gudang yang memang tidak bekerja dalam bidang kekerasan sibuk mencari perlindungan, para penjagalah yang menjadi lawan pertama mereka. Meski terbilang telah dimudahkan, namun jumlah para penjaga tersebut tidak kurang dari 20 orang.
Biarpun Ashley bisa membaginya dengan Will, menghadapi 10 orang petarung bersenjata tetaplah sangat tidak disarankan.
Tersenyum ringan, keteguhan hati Ashley tak goyah meski dihadapkan dengan banyaknya musuh. Berhasil selamat berkali-kali dalam situsi serupa, membuat kepercayaan dirinya tak padam.
Benar memang, Ashley lebih suka menggunakan senjata api karena sangat praktis. Namun bagai pedang bermata dua, senjata itu akan sangat mengancam saat berada dalam siatuasi tidak imbang seperti saat ini. Hal yang membuat Ashley sedikit bersyukur senapan belum ditemukan di dunia Ashelia.
Melangkah menghampiri wanita pirang yang beralih profesi dari tawanan menjadi penawan, 3 orang laki-laki mengawali perlawanan para penjaga gudang.
Maju, Ashley pun tidak ingin terpojokkan oleh batas pintu yang berada 3 meter di balik punggungnya.
Sampai lebih awal, laki-laki yang berada di tengah langsung melancarkan serangannya. Disusul oleh pria di sebelah kiri yang juga tidak ingin ketinggalan.
Memperkirakan jarak dan lintasan tebas dari pedang sang lawan, Ashley mengubah arah langkah kakinya. Dengan lihai ia memutar tubuhnya ke belakang sambil sedikit mencondong ke samping.
Tak menghiraukan bilah pedang yang gagal melukainya, perhatian wanita itu langsung ia berikan kepada si penyerang kedua.
Bukannya bertahan, Ashley justru berniat melawan serangan tersebut dengan serangan. Dari arah yang berlawanan dan tujuan yang berbeda, ia menyayat jemari musuhnya dengan satu tarikan pedang ke kanan atas.
Terputus.
__ADS_1
Ruas-ruas jari yang mengendalikan gerak pedang tanpa pelindung tangan tersebut telah dibebas-tugaskan dengan paksa, membiarkan sang bilah tajam melaju hanya dengan gaya dorong yang tersisa.
Berhasil menyisip ke sisi kanan, ditepisnya kemudian oleh Ashley pedang tak bertuan tersebut dari samping, menggunakan sisi pedang miliknya.
Lalu, bersama dengan terhempasnya pedang itu, Ashley kembali beralih ke penyerang pertama yang tengah melancarkan serangan lanjutan.
Sambil melirik ke arah targetnya, ditusukkanlah pedang Ashley ke belakang melewati sisi pinggang. Tertancap menembus paha kiri lawan, ia menggoyahkan pertahanan sang penyerang pertama.
Dengan sudut dan kedalaman yang telah ia perkirakan, pedang yang tertancap itu mampu sekaligus menangkis serangan musuhnya.
Suara erangan penuh rasa sakit berpadu dengan suara gesekan pedang, yang menggelincir kasar sebelum akhirnya berhenti terantuk pelindung tangan Ashley. Jika Ashley menggunakan tongkat-pedangnya yang tak berpelindung, ia pasti sudah kehilangan beberapa jarinya.
Akan tetapi setiap senjata memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Berbeda dengan tongkat-pedangnya yang ringan, pedang yang wanita itu bawa saat ini jauh lebih berat. Hal yang cukup menghalanginya untuk bebas berakrobat ria seperti biasa.
Dicabutnya pedang Ashley kemudian, sembari mendorong pedang milik lawannya menjauh. Dalam satu tarikan tanpa jeda, garis tebasannya diarahkan sekaligus ke penyerang kedua yang tidak mampu lagi menggenggam senjata.
Setelah berhasil memutus tali kehidupan pria tersebut, Ashley tidak memberi jeda untuk bernapas. Mangayunkan pedangnya lagi ke arah yang berlawanan, ia mengakhiri penderitaan sang penyerang pertama.
Tidak sama seperti ajang pencarian bakat dengan aturan satu lawan satu, pertarungan yang sesungguhnya tidak memiliki aturan. Para penjaga yang ada di sana tentu tidak ingin melewatkan kesempatan untuk membunuh Ashley. Mereka tidak akan diam menunggu saat wanita itu masih sibuk dengan laki-laki lain.
Sulit memang menjadi primadona dalam medan perang.
Berada dalam situasi yang dirugikan karena jumlah, Ashley mempertahankan posisinya agar para penjaga tersebut tetap berada di depan. Akan rumit nanti, jika mereka berhasil mengelilingi si Pirang.
Dengan memanfaatkan pergerakan dan posisi tubuh lawan berpedangnya, Ashley juga mampu membatasi pergerakan penjaga yang lain. Mau tidak mau, mereka harus lebih giat mencari celah agar tidak melukai sesama rekan penjaga.
Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi di bagian 'belakang', posisi di mana kedua tawanan yang lain berada. Saat Ashley melindungi punggungnya agar tidak terkepung, Will harus melindungi wanita yang menjadi alasan mereka datang ke gudang tersebut.
__ADS_1
Biarlah dua sejoli di belakang sana merasakan suasana romansa penuh ketegangan. Terlebih lagi, ada yang mengatakan jika seseorang akan menjadi jauh lebih dekat setelah melewati masa krisis bersama.
Sempat melihat keadaan mereka untuk sesaat, Ashley pikir Eva akan baik-baik saja dalam perlindungan Will. Karena tidak disangka, pria yang lebih sering memegang kertas tersebut ternyata cukup hebat.
Bukan tanpa alasan ayah Daryl mempercayakan putranya kepada Will.
Haruskah Ashley menyerahkan sisanya kepada pria itu? Demi sekedar menguji kemampuan Will? Lalu mengajak Eva melarikan diri? Saat ialah yang memulai kekacauan di sana?
Ashley tersenyum di tengah pertarungannya saat memikirkan hal tersebut. Alasan yang membuat wanita itu sejenak teralih dan hampir kehilangan tangan kirinya.
Sejujurnya Ashley merasa jika itu bukanlah ide yang buruk, meski dirinya sendiri pun yakin jika Eva tidak akan setuju meninggalkan Will. Hanya saja, ia tidak ingin Will berakhir mendapatkan semua popularitasnya.
Bukan semata-mata tentang harga diri atau memperoleh ketenaran. Alasan dibalik tindakan Ashley adalah guna menyampaikan peringatan tidak langsung, baik kepada Far maupun musuhnya di masa mendatang.
Sebuah pesan singkat sekaligus aturan tak tertulis yang berkata untuk tidak macam-macam dengan orang-orang Ashley. Wanita itu ingin menunjukkan secara jelas, bahwa siapa pun yang berani menyentuh bawahannya akan menghadapi pembataian tanpa tersisa.
Keraguan sempat mengusiknya saat memikirkan Eva yang harus terjebak di antara 'pembantaian' tersebut. Akan tetapi, mengingat ia telah menempatkan Eva di bawah naungannya, membuat Ashley merasa harus melakukannya.
Demi melindungi wanita tersebut dan semua bawahannya di kemudian hari, ia merasa harus benar-benar menegaskan hal tersebut.
Bahkan jika itu berarti menempatkan Eva pada situasi sulit dan harus bergantung kepada perlindungan Will.
Alhasil, rencananya pun sedikit berubah. Atau mungkin lebih tepatnya banyak berubah. Walau demikian, hasilnya tidak terlalu buruk karena keadaan mereka terbilang cukup aman terkendali.
Setidaknya untuk saat ini.
Tidak ada yang tahu masa depan apa yang menanti mereka.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu, karma apa yang telah dihadiahkan kepada mereka.
............... Bersambung ...............