
Saat pria berjenggot tipis yang baru saja memukuli Ashley berjalan ke belakang dan bersandar pada pilar, ketiga rekannya mulai mendekati wanita itu dengan dikendalikan oleh nafsu mereka. Ada yang salah dengan otak mereka. Tubuh wanita yang sudah penuh luka dan memar di sana sini saja masih ingin mereka sentuh.
Setelah begitu dekat dan Ashley tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan, terulurlah tangan orang yang berada di paling depan mengarah ke dada wanita tersebut. Teralih saat mendengar suara kayu yang terantuk dinding, laki-laki itu berhenti dan menyadari kaki kiri Ashley tengah melayang menuju kepalanya.
Berniat menangkap kaki palsu tersebut menggunakan tangan kirinya, orang itu dibuat sedikit bingung oleh pergerakan kayu yang justru terlihat hampir lepas tersebut. Setelah kaki itu menampakkan bilah tajam yang tersembunyi di dalamnya, barulah ia menyesal tidak menghindar sejak awal.
Mengawasi dari kejauhan si jenggot dikejutkan oleh sebuah kayu besar yang terlempar ke arahnya. Hampir tertawa karena mengira kaki palsu Ashley terlepas saat hendak melakukan perlawanan, ia justru dikejutkan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hal yang sempat ia lewatkan saat menghindari kayu tersebut.
Bukan kaki Ashley, melainkan nyawa rekannyalah yang terlepas.
Menggenggam erat rantai yang mengekang kedua tangannya, Ashley menggunakan besi itu sebagai penahan saat ia mengangkat tubuh dan kakinya. Sedikit memutar pinggulnya ke samping, ia lalu melancarkan tendangan ke sisi kanan dan kirinya.
Tentu orang yang berada di sebelah kiri Ashley mendapatkan dampak yang lebih mematikan.
Menguatkan genggaman tangan kanannya, Ashley mengangkat tubuhnya lebih tinggi lagi. Agak condong ke kanan, ia mempersempit jarak antara dirinya dengan laki-laki yang baru saja ia tendang.
Dilemparkannya kemudian kaki kiri Ashley ke kepala pria di sana, membalas rasa iri dari kedua rekan orang itu yang telah tertebas lebih awal. Dapat dilihat di sini bahwa wanita tersebut sebenarnya adalah pribadi yang cukup adil.
Menyaksikan ketangkasan Ashley yang bahkan dengan mudah mengangkat tubuhnya hingga setinggi leher laki-laki dewasa, si Jenggot pun tidak berani mendekat. Ia pikir wanita itu hanya sekedar 'bisa memakai senjata', namun nyatanya lebih.
Laki-laki tersebut juga tidak mengira Ashley masih menyimpan senjata, padahal sedari tadi wanita tersebut diam saja saat ia pukuli.
Menjadi satu-satunya yang selamat, ia tidak ingin mengambil keputusan bodoh dengan merasa bisa melumpuhkan Ashley sendirian. Berlari meninggalkan ruangan tersebut guna melapor pada atasannya, ia membiarkan pintunya terbuka karena yakin wanita itu tidak akan bisa melarikan diri.
Membalik badannya menghadap ke dinding, Ashley kembali menguatkan genggamannya pada rantai tersebut. Memanjat dinding itu hingga cukup tinggi untuk meraih besi yang mengaitkan rantainya di dinding, Ashley mencoba untuk menariknya.
__ADS_1
Tertanam cukup dalam dan kokoh, wanita tersebut dibuat kesulitan untuk mencabut besi itu. Tak heran, mengingat besi tersebut haruslah kuat untuk menahan tubuh laki-laki dewasa yang mencoba memberontak. Bukan hanya Ashley yang pernah terkurung di sana.
Digerakkannya besi yang berbentuk seperti baut gantung itu ke atas dan ke bawah, ke kanan dan ke kiri, terus bergantian. Perlahan mulai bisa digerakan, adalah pertanda bahwa dinding batu yang menguncinya mulai hancur.
Mendengar suara langkah kaki dari kejauhan, Ashley semakin mempercepat gerakannya. Ia terus memutar pengait tersebut sambil menariknya keluar.
Mendengar suara terjatuh yang lumayan keras dari arah ruang tahanan Ashley, mereka pun bergas menuju tempat tersebut.
Melihat pintunya terbuka, pimpinan si Jenggot itu terlihat tidak senang. Namun ia jauh lebih tidak senang saat melirik ke dalam ruangan tersebut. Ketiga jasad anak buahnya yang terbunuh dengan cara mengenaskan tergeletak di lantai bersama dengan puing dan serpihan dinding batu yang rusak. Namun Ashley beserta rantai yang mengikatnya tidak lagi terlihat di sana.
Menoleh ke samping, atasan si Jenggot memerintah sebagian bawahannya untuk mencari Ashley. Lalu sebagian yang lain ia perintahkan untuk membersihkan ruangan tersebut.
Tidak memiliki cukup waktu untuk melarikan diri, Ashley sebenarnya masih berada di dalam ruangan itu. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyerang, wanita tersebut bersembunyi di balik pintu. Menggenggam pengait besi di tangan kanannya, ia berniat menggunakan bagian ujungnya sebagai senjata.
Belum sempat bertindak, leher si Jenggot tiba-tiba terlilit sebuah rantai besi. Menyerang seasaat setelah 'petugas kebersihan' itu masuk, Ashley berhasil membuat serangan kejutan.
Menarik kuat rantai tersebut, Ashley menunjukkan kasih sayangnya kepada si Jenggot, pria yang telah dinanti kepulangannya oleh 3 rekannya yang pergi terlebih dahulu.
Seseorang kemudian mendatangi Ashley dari samping. Terlalu fokus untuk menangkap si Tahanan yang lepas, ia tak menyadari bahwa sebelah kaki Ashley terbuat dari pedang. Terbelahlah tubuh laki-laki itu oleh tendangan pertahanan Ashley. Meski tidak sampai terputus, ia tetap dikirim ke akhirat tak terkecuali.
Sebagai satu-satunya orang yang membawa pedang, atasan mereka hampir menarik keluar pedangnya, sebelum kemudian ia kurungkan niat tersebut dan melepaskan tangannya dari gagang pedang itu. Layaknya seorang pengamat, ia mundur beberapa langkah dan mengamati Ashley menghadapi para bawahannya.
Tendang kiri, tendang kanan. Masih tak melepaskan cekikannya, ia juga menendangkan kaki kirinya tinggi di sela tangan si Jenggot guna menyerang orang yang ada di depan.
Membalik badan dan membanting tubuh laki-laki yang masih tak diijinkam bernapas tersebut ke lantai, Ashley mencegah pergerakan seseorang yang berniat menyerangnya dari belakang. Ditusukkanlah kemudian, besi yang ia bawa ke leher pria malang tersebut dan mengakhiri penderitaannya.
__ADS_1
Sambil membungkuk melepaskan rantainya dari jasad tersebut, Ashley menendangkan kaki kanannya ke belakang dengan cara diputar. Hanya memberinya sedikit penghambatan, dilanjutkanlah tendangan setengah putaran itu menggunakan kaki kirinya dengan ketinggian yang lebih rendah.
Memutar tubuhnya penuh karena kombinasi dua tendangan tersebut, Ashley otomatis kembali ke posisi tegap. Melakukan posisi kayang lalu melemparkan kakinya kebelakang satu persatu, wanita tersebut membuat musuh yang mendekatinya dari bagian depan dan belakang terluka.
Terlihat begitu lincah dan lentur, Ashley lebih seperti menari dibandingkan bertarung.
Meski mampubterus membuat jarak dengan para lawannya, hal itu tidak akan berlangsung lama melihat Ashley yang sudah mulai kelelahan.
Saat ia melilitkan rantainya ke leher seseorang dan menariknya, leher Ashley juga terkunci oleh seseorang. Setelah menancapkan besinya ke leher orang yang baru saja ditariknya, wanita itu hendak melilitkan rantainya ke leher orang yang mencekiknya dari belakang.
Akan tetapi, seseorang menahan rantai tersebut. Menendang orang tersebut, Ashley kemudian mendapat serangan dari sisi yang lain.
Tiada habisnya dan terus seperti itu, mereka mencoba membalikkan keadaan. Mendapat sedikit peluang saat ia mulai kehabisan oksigen, Ashley menggunakan ujung besinya dan ia tanamkan ke sisi tubuh pria di belakangnya.
Namun seakan tidak cukup orang tersebut masih mengikat kuat leher Ashley dengan lengannya.
Berkali-kali di tusukkan, terus-menerus tiada henti karena wanita tersebut mulai kehilangan kesadaran, kini hanya masalah siapa yang bisa bertahan lebih lama.
Terlepas dari cekikan tersebut di saat-saat terakhir, Ashley berhasil menjadi pemenang dari adu ketahanan tersebut. Namun itu tidak cukup untuk memberinya kemenangan atas pertarungannya di sana. Terlalu lemah karena kekurangan oksigen, Ashley menjadi sasaran empuk bagi para musuhnya.
Setelah melepas kaki palsunya yang menjadi ancaman utama, ia dihajar beramai-ramai tanpa ampun karena telah membunuh rekan-rekan mereka.
Hingga akhirnya, ia tak mampu lagi mempertahankan kesadarannya dan sekali lagi menyerahkan nasibnya pada takdir.
.................. Bersambung .................
__ADS_1