Cinderella Gila

Cinderella Gila
Anda menang?


__ADS_3

Di tengah kota Vinnas, kereta kuda keluarga Midgraff baru saja berhenti di depan sebuah kasino.


Setelah menyebarnya gosip mengenai sifat hedonisme Marion, banyak orang yang sengaja menetap lebih lama untuk melihatnya. Mereka memenuhi beberapa restoran dan tempat-tempat beristirahat terdekat.


Sekedar untuk membuktikan jika wanita itu memang tidak pantas untuk Vincent.


Saat Ashley melangkahkan kakinya keluar, seseorang langsung melemparkan sesuatu ke arahnya. Si pembuka pintu yang melihatnya, dengan sigap melangkah ke sisi kiri Ashley dan menggunakan punggungnya untuk melindungi wanita itu.


Melihat orang yang keluar dari sana bukanlah Marion, membuat orang-orang yang sengaja datang untuk mencari bukti menjadi terkejut. Kini mereka tahu siapa anggota keluarga Midgraff yang selalu datang ke sana.


Ashley membalik punggung si pembuka pintu dan melihat apa yang hendak dilemparkan kepadanya. Ada cairan bening kental bercampur dengan warna kuning yang menempel di punggung laki-laki itu. Di dekat kakinya juga terdapat pecahan cangkang telur yang telah hancur.


"5 koin emas, dan gua lupain kejadian ini." Ucap Ashley tanpa melihat orang yang melemparkan telur itu.


"Kompensasi seragam lo."


Setelah menepuk pundak si pembuka pintu, Ashley masuk ke dalam. Orang yang melemparkan telur itu jelas tidak terima, melupakan tindakan yang ia lakukan juga terhitung bentuk penyerangan.


5 koin emas memang terdengar sedikit jika membandingannya dengan pengeluaran Ashley. Namun rakyat biasa terbiasa menggunakan koin perak daripada koin emas. Sedangkan 1 koin emas, setara dengan 200 koin perak.


Membandingkan harga pakaian mereka yang rata-rata sekitar 200 sampai 300 koin perak, tentu membuat mereka protes.


Meski begitu, inti kalimat Ashley adalah wanita itu akan memaafkan perbuatan orang tersebut jika membayar 5 koin emas, sebagai imbalan untuk jasa si pembuka pintu melindunginya.


Beruntung hanya telur, bagaimana jika itu adalah pisau atau peluru.


Dengan menggunakan orang lain, Ashley memberi imbalan kepada bawahannya yang telah mencoba melindunginya.


Namun sebenarnya, orang itu pun tidak benar-benar ingin melindunginya. Ia hanya tidak ingin melakukan kesalahan apa pun saat sedang bersama Ashley, karena itu bisa berarti malapetaka.


Sama halnya dengan Bellena, laki-laki itu pun mencoba meyakinkan si pelempar telur untuk lebih memilih membayar agar Ashley memaafkannya.


"Nona Midgraff?"


Tidak jauh dari mereka, pria berambut pirang yang tidak bisa masuk karena tidak membawa topeng, berdiri di dekat pintu masuk hotel. Sama seperti yang lain, ia juga dikejutkan oleh kemunculan Ashelia di depan publik.


Dengan ini, ia berhasil mengkonfirmasi ucapan bawahan Daryl yang berkata jika Ashelia bisa menggunakan kakinya lagi.


Mengingat Daryl berada di dalam, ia pun berniat menanyakannya saat laki-laki itu kembali nanti.


...****************...

__ADS_1


Puas dengan kemampuan bermainnya yang membaik, Daryl kembali dengan senyuman di wajahnya.


Bukannya kembali ke kamarnya dan istirahat, ia justru pergi ke ruang kerjanya. Ada beberapa berkas yang herus ia selesaikan secepatnya agar bisa pergi ke kasino lagi besok.


Begitu membuka pintu ruang kerjanya, ia melihat asistennya masih berada di sana.


"Kau bekerja sejak tadi?"


"Ya. Ada beberapa yang harus diselesaikan hari ini agar Anda bisa pergi lagi besok."


Daryl merasa beruntung memiliki orang seperti Will di sisinya. Ia kemudian masuk dan duduk di kursinya, melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Anda menang?"


"Ya. Beberapa kali."Jawab Daryl dengan nada sombong sebelum akhirnya sadar.


"Tunggu, kau mengikutiku?"


"Nona Midgraff. Saya lihat ia pergi ke sana secara terang-terangan." Jawab Will mengabaikan pertanyaan Daryl sambil menatap etalase kaca di samping meja tuannya.


Mengikuti mata asistennya, Daryl pun melirik ke arah sepatu putih yang masih tersimpan di sana.


Daryl berpikir sejenak. Ia memang pernah melihat kereta keluarga Midgraff di sana satu kali, tapi setelah itu ia tidak pernah melihatnya lagi.


Mungkin karena tujuannya adalah Ashley, ia tidak menyadari keberadaan Ashelia. Mengingat ia selalu bisa menemukan Ashley dengan mudah meski dalam keramaian, ia tidak pernah memperhatikan pengunjung lain.


Meski begitu ada satu hal yang ingin ia pastikan, keterkaitan antara Ashley dengan Ashelia yang memiliki beberapa kesamaan.


"Kau lihat bajunya seperti apa?"


"Beliau memakai mantel, saya tidak bisa melihat pakaiannya."


Karena mantel akan di titipkan saat pengecekan senjata, ia tidak bisa memastikan jika Ashley adalah Ashelia.


"...tidak, aku tidak melihatnya."


...****************...


Bekerja hingga dini hari, tapi masih harus bangun pagi dan melanjukan pekerjaanya. Sarapan diantarkan ke ruang kerjanya karena sering menolak sarapan.


Ia akan istirahat sebentar untuk makan siang sebelum kembali bekerja lagi dan berhenti saat sore hari untuk bersiap pergi.

__ADS_1


Itulah rutinitas pejabat kerajaan yang dipandang sebagai pengangguran oleh Ashley.


Namun hari ini, kepergiannya bukan untuk menemui Ashley. Melainkan memenuhi panggilan seorang Duke, yang adalah pangeran ke-3 kerajaan Durman.


Sejak setelah surat panggilan dadakan itu sampai tadi pagi, suasana hati Daryl menjadi buruk. Ia seperti kembali ke dirinya sebelum bertemu Ashley.


Bukan hanya karena tidak bisa menemui Ashley hari ini, namun sejak dulu ia memang tidak menyukai ayahnya.


Akhir-akhir ini memang perseteruan antara faksi timur dan barat sedang memanas karena pengaruh Klaus- si tokoh utama novel, begitu besar terhadap perubahan dunia itu.


Faksi timur adalah faksi pangeran kedua dan putri pertama yang juga mendapatkan keuntungan dari pengaruh Klaus. Sedangkan faksi barat adalah mereka yang menentang kehadiran Klaus.


Pangeran ketiga juga merupakan bagian dari faksi timur, begitu pula putranya, Daryl. Namun karena ia juga akan mendapatkan kerugian dari pengaruh Klaus,


"Aku beralih ke faksi barat." Ucapnya sesaat setelah Daryl menghadapnya.


Putranya tidak mengatakan apa pun. Ia tidak mendukung ataupun menolak keputusan ayahnya tersebut. Ia sedang menunggu inti pembicaraan mereka yang sampai memanggilnya datang tiba-tiba.


"Kau boleh tetap berada di sana. Kau juga bebas untuk terus membenci faksi barat."


Ucapannya terdengar baik, tapi Daryl pun meyakini hal itu sangat tidak mungkin.


"Kita akan menjadi musuh sekarang."


"Hanya luarnya." Jawab Daryl tidak sabar dengan basa basi ayahnya.


Laki-laki yang duduk di depannya menyeringai.


"Kita tidak bisa bertemu dengan leluasa lagi, tapi aku ingin kau memberiku informasi tentang perkembangan mereka. Tidak perlu rutin, tapi jangan lewatkan hal penting apa pun."


"Kau bersedia melakukannya?"


"Apa Anda pernah memberi saya pilihan?" Sindir Daryl yang memang harus melakukannya tidak peduli suka atau tidak.


Pangeran ketiga itu tertawa mendengar respon dari putranya. Ia sadar betul jika putranya sangat membencinya, namun tidak ada orang lain yang lebih ia percaya daripada Daryl. Sebenci apapun Daryl kepadanya, putranya akan terus berpihak kepadanya.


Dengan memanfaatkan kebencian Daryl terhadap faksi barat, dan juga kebencian putranya terhadap dirinya, ia yakin faksi timur masih akan mempercayai Daryl dan menganggap ia telah dikhianati oleh ayahnya.


"Kau bisa kembali."


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2