Cinderella Gila

Cinderella Gila
So, cheer up. Will you?


__ADS_3

Begitu gerbang raksasa kediaman putra pangeran ketiga dibuka, masuklah putri tunggal Count wilayah Lozan bersama dengan kuda tunggangannya.


Melihat Ashley datang hanya dengan gaun tidur tipis, disambarnya oleh Daryl sebuah selimut yang disiapkan pelayan untuknya tadi. Dari ruang kerjanya yang berada di lantai 3, ia berlari menuju pintu utama.


Baru saja turun dari kudanya, Ashley menoleh karena telah mendengar suara pintu yang terbuka. Dilihatnya sang pemilik rumah berlari menghampirinya dengan terburu-buru.


Dipakaikanlah selimut yang tergenggam di tangan Daryl, mendekap wanita tersebut dari punggung hingga ke depan.


"Kenapa- kenapa tidak pakai baju hangat? Bagaimana kau bisa sampai sini? Mana pengawalmu?"


Bola mata pria tersebut terus melihat ke sana dan kemari, mempermasalahkan hal-hal yang tidak ingin didengar Ashley. Wanita itu sudah jauh-jauh datang ke sana namun tidak sedetik pun pandangan Daryl bertemu dengannya.


Dibungkamnya mulut yang berucap tanpa henti tersebut dengan telapak tangan Ashley, membuat Daryl secara spontan membisu dan menatap wanita di hadapannya. Tak mengatakan sepatah kata pun, Ashley hanya memperhatikan ekspresi yang pria itu kenakan saat ini.


Sorot mata lugu yang seolah bingung tersebut jauh lebih baik dibanding tatapan penuh kesedihan Daryl yang tersimpan di benak wanita itu. Diperhatikannya setiap milimeter raut wajah pria tersebut dan digambarkannya berulang kali dalam ingatan Ashley, berharap ia bisa menutup memori lamanya dengan ingatan yang baru.


Sementara itu, Daryl yang sebelumnya sempat bimbang, tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyerah. Bukan lagi menyerah untuk mendapatkan Ashley, namun menyerah untuk melawan rasa sukanya. Tak bisa ia mungkiri, melihat wanita tersebut secara langsung seperti ini sudah sangat cukup membuatnya senang.


Seolah-olah, tidak peduli kesalahan sebesar apa yang akan dilakukan Ashley kelak, ia tetap bisa memaafkannya hanya dengan bertemu seperti ini. Bahkan bila ia harus menjadi satu-satunya yang merasa demikian.


Namun ada hal lain yang mengalihkan perhatian Daryl.


Menurunkan tangan Ashley perlahan, jemarinya yang lain menyentuh rambut wanita tersebut. Rambut bagian depan yang terpotong pendek dengan tidak wajar.


"Apa kau baru saja melakukan hal berbahaya lagi?" Tanya pria itu kemudian.


Melirik ke arah tangan Daryl yang menemukan bukti tersebut, Ashley lalu menjawab,


"It's not a big deal."


Berpindah melihat ke leher wanita itu yang dulu pernah dilihat sang Marquis terbalut perban, pria tersebut pun melanjutkan,


"Waktu itu juga-"

__ADS_1


Namun pergerakan tangannya yang hendak menyentuh leher Ashley terhenti bersamaan dengan kalimat yang akan ia sampaikan. Ia kembali teringat dengan posisinya yang bukan siapa-siapa bagi wanita itu.


"Ah, maaf tidak seharusnya aku ikut campur."


Kembali melihat ekspresi yang sempat menghantui Ashley, ditekanlah kedua pipi Daryl menggunakan satu tangan oleh wanita tersebut. Memandangi ekspresi lucu dengan bibir mengerucut itu jauh lebih baik daripada yang barusan.


"Gua ga bakal balik ke sana lagi. So, cheer up. Will you?" Ujar Ashley kemudian, sebelum akhirnya kembali melepaskan tangannya dari wajah Daryl.


Meski masih mengingat intinya, namun pria tersebut sempat lupa akan kejadian beberapa jam lalu.


Setelah berhasil teringat kembali dan mengerti makna dari ucapan Ashley wajahnya seketika memerah. Spontan tersentak mundur karena terlalu tekejut, Daryl menutup mulutnya dengan punggung tangan sebelum kemudian memalingkan wajah.


Bukankah itu berarti ia sangat berarti di mata Ashley? Wanita itu bahkan jauh-jauh datang ke sana tengah malam menunggang kuda sendirian sambil mengenakan gaun tidur, hanya untuk mengatakan hal itu?


Tunggu, tidak mungkin hanya karena itu, kan?


Dilihatnya kembali oleh Daryl, wanita yang kini menyeringai puas di hadapannya. Masih menutup sebagian wajahnya, pria tersebut menunggu hal apa yang sebenarnya menjadi alasan Ashley datang ke sana.


Namun seolah baru saja melakukan hal yang normal, wanita itu langsung berbalik badan dan berkata,


Hah? Memang karena itu? Hanya karena itu? Kar-


"Tunggu- biar kuantar."


Wajah Daryl terasa semakin panas seiring dengan detak jantungnya yang bertambah cepat secara signifikan. Meski belum bisa menenangkan perasaannya, ia tidak bisa membiarkan Ashley kembali dengan penampilan seperti itu sendirian di tengah malam.


Di mata Daryl, hal tersebut mampu membuat Ashley dalam bahaya. Terlepas dari seberapa hebatnya kemampuan wanita tersebut, menghindari bahaya tetaplah lebih baik.


Akan tetapi, fakta mengatakan hal yang sebaliknya.


Dengan tangan yang masih menggenggam tali kekang kudanya, wanita tersebut menoleh ke belakang.


Setelah keributan besar yang dilakukan Ashley barusan, terlihat bersama dengan Daryl mungkin justru akan membahayakan nyawa pria tersebut. Bahkan bila Daryl dibekali kemampuan bertarung seperti Alais, Ashley tetap tidak akan menempatkannya dalam bahaya.

__ADS_1


Jadi kesimpulannya, kedua orang ini memiliki pikiran yang sama namun solusi yang berlawanan. Akan tetapi, mengingat betapa keras kepalanya Daryl, Ashley pun mencari jalan keluar lain.


Memasang wajah tanpa beban, wanita itu kemudian dengan entengnya berkata,


"Kalo gitu gua nginep."


"Hah? Tidak boleh!"


Sempat tertegun dengan keputusan dadakan tersebut, Daryl kemudian menolak dengan tegas hingga membuat wanita di depannya terkejut.


"Ah- maksudku- kau boleh. Tapi jangan." Lanjutnya menjelaskan karena merasa bersalah telah mengejutkan Ashley.


Berusaha menekan rasa kesalnya karena dibentak oleh Daryl, wanita itu kemudian mengambil napas dalam-dalam sebelum memutuskan untuk kembali ke kediamannya seorang diri. Yang tentu saja sekali lagi ditentang oleh pria tersebut.


Kembali berkata jika ia akan menginap, wanita itu membuat Daryl semakin kebingungan.


"Tidak bisa! Aku tidak keberatan tapi tidak bisa."


Dengan tatapan malas, Ashley tidak mengatakan apa pun dan langsung berbalik badan. Saat lengannya kembali tertahan oleh tangan Daryl, saat itulah kekesalannya tak lagi terbendung.


Dicekiknya leher pria tersebut tanpa peringatan oleh Ashley, mengejutkan para penjaga yang masih memperhatikan mereka dari kejauhan. Berbondong-bondonglah mereka berlari menghampiri Daryl guna menyelamatkannya dari penganiayaan sang kekasih.


Tak menghiraukan peringatan yang diteriakan kepadanya, Ashley menarik leher pria di depannya mendekat. Dengan tatapan dan nada suara mengintimidasi, wanita itu mengancam,


"Jangan mancing gua. Tinggal jawab ya apa ngga."


"Y-ya." Jawab Daryl kemudian, di bawah tekanan sang pujaan hati.


Mendengar jawaban yang cukup jelas meski sebenarnya masih ambigu tersebut, Ashley kemudian melepaskan cekikannya dan berjalan masuk mendahului si Pemilik.


Melihat para penjaga tersebut sudah mulai dekat, Daryl mengangkat tangannya memberi isyarat kepada mereka untuk berhenti. Tidak memberi penjelasan dan langsung masuk mengikuti Ashley, pria itu meninggalkan rasa khawatir di hati para pengikutnya.


Berpikir bahwa tuannya berada dalam hubungan yang tidak sehat, para penjaga tersebut tidak lagi mendukung hubungan kedua bangsawan itu. Namun apa yang bisa mereka lakukan jika tuannya yang tidak pernah mengerti cinta itu kini sedang berada dibawah pengaruh penyihir jahat?

__ADS_1


.................. Bersambung .................


__ADS_2