
Kepercayaan.
Sama halnya seperti Will yang awalnya berpikir bahwa lebih baik ialah yang membawa pedang daripada Ashley, wanita pirang itu juga berpikir bahwa Eva tidak perlu benar-benar menggunakan pedangnya.
Biar aku saja.
Terlalu kasar jika dikatakan tidak mempercayai satu sama lain, karena dasar dari pemikiran mereka adalah untuk melindungi. Namun alasan tersebut juga tidak mampu menepis fakta yang ada.
Dengan keyakinan dan rencana mereka masing-masing, baik Ashley maupun Will, menempatkan semua beban di pundak mereka sendiri. Persepsi individualis yang tumbuh karena adanya sikap protektif.
Tidak merasa melakukan sesuatu yang salah, keduanya dibutakan oleh keinginan mereka sendiri. Alhasil, orang yang ingin mereka lindungi justru menjadi orang yang tidak pernah mereka perhatikan. Perasaan dan sudut pandang orang yang ingin mereka lindungi, juatru menjadi hal pertama yang mereka abaikan.
Karenanya, keteguhan hati Eva tidak terbaca oleh Ashley, meski tergambar dengan jelas saat ia menggenggam pedang pemberian si Pirang.
Dalam diam Eva mengukuhkan diri. Bukan lagi sebagai beban, namun sebagai teman seperjuangan. Untuk bisa melindungi kedua orang di sana, orang yang tidak bisa bertarung seperti dirinya, setidaknya membutuhkan sebuah senjata.
Di lain pihak, melihat pedang yang ia incar justru jatuh ke tangan wanita yang tidak mengetahui seni berpedang, Will menghela napas.
Tidak berniat menentang, ia yang juga mengetahui alasan Ashley memberikan pedang tersebut kepada Eva, memilih keputusan yang sama. Hanya saja, menyadari perannya yang juga bertambah menjadi 'umpan', membuat Will mau tidak mau harus merubah pola pikirnya.
Ia harus mulai mengandalkan kedua wanita di sana dibanding mencoba melindungi mereka sepenuhnya.
Dengan kemampuan yang Ashley miliki, mudah bagi pria itu untuk mempercayainya. Selama Ashley tidak bertindak terlalu ekstrim ia rasa semua akan baik-baik saja.
Sedangkan untuk Eva, pengecohan yang direncanakan Ashley tidak akan bertahan selamanya. Cepat atau lambat, musuh mereka akan menyadari ada yang aneh ketika melihat Eva tidak ikut bertarung. Karenanya, wanita itu harus bisa mengayunkan pedangnya saat benar-benar dibutuhkan.
Jika semua berjalan sesuai perkiraan, Eva akan baik-baik saja karena Ashley akan melindunginya selagi Will menjadi sasaran utama.
Sangat berbahaya sebenarnya, mengingat pria tersebut harus melawan segerombolan orang bersenjata dengan tangan kosong. Akan tetapi, sikap Ashley yang sama sekali tak gentar, membuat satu-satunya laki-laki dalam kelompok mereka berani mengerahkan semua yang ia punya.
Tidak perlu mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, ia hanya perlu berjuang sekuat tenaga saat jalan sudah terlihat di depan mata. Karena terkadang, terlalu banyak berpikir hanya akan membelenggu diri sendiri.
Setibanya di tempat para musuh mereka berkumpul, Will harus mampu merebut senjata lawan jika tidak ingin bertarung dengan tangan kosong hingga akhir.
__ADS_1
Sayangnya,
Berbeda dengan Will, Ashley, dengan segala kesombongan yang ia miliki, masih berniat untuk melakukannya sendiri. Ia masih berniat untuk tidak membiarkan siapa pun mendekati Eva, seolah tidak ingin kedua tangan saudari baru-nya itu kotor.
Usia yang lebih dewasa bukan pertanda bahwa seseorang akan lebih bijak. Sedangkan orang yang bijak juga tidak bisa lepas dari kesalahan.
Karena 'biasanya' bukan berarti 'selalu'.
Saat Ashley berpikiran untuk melindungi Eva dengan terus membebankan segala hal pada dirinya sendiri, sejatinya, ia hanya memperdalam kekhawatiran orang-orang yang peduli kepadanya. Orang yang bukan hanya ingin melihat punggungnya, namun juga ingin berdiri sejajar di sampingnya.
Sikap keras kepala itulah, yang nantinya akan mengantarkan Ashley pada konsekuensi yang tidak dapat dibayar hanya dengan sebuah penyesalan.
...****************...
Beberapa saat berjalan, dengan kesiapan untuk menghadapi serangan kapan saja, ketiganya jutru tidak dipertemukan oleh satu orang pun lawan.
Merasa ada yang aneh dengan situasi aman tersebut, Ashley dan Will meyakini jika musuhnya pasti tengah menunggu kehadiran mereka.
Namun hal itu juga salah.
Alunan musik lirih terdengar, tersenyapkan oleh suara tawa dan senda gurau dari ujung lorong. Didominasi suara laki-laki, tawa beberapa wanita pun terdengar sesekali di sela-selanya.
Pada aula terakhir yang harus mereka lewati untuk mencapai pintu keluar, sekitar 30 orang memenuhi tempat itu. Dengan beberapa pilar menjulang dan satu tangga menuju lantai atas, ruangan luas tersebut menjadi tempat paling strategis untuk berkumpul.
3 orang wanita menyuguhkan tari ranggas di tengah ruangan, mengunci perhatian para pria yang seolah tengah mengintai mangsa mereka. Sedangkan beberapa wanita lain sibuk bermain dengan para lelaki yang sudah tak mampu lagi menahan diri. Pemandangan yang umum dijumpai di rumah-rumah bordil.
Hanya saja, yang ini lebih terbuka, seperti kelab-kelab ilegal di dunia Ashley.
Moral memang adalah hal terakhir yang dipertanyakan di dunia Ashelia, meski sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tempat Ashley berasal. Saat sebagian rekan mereka baru saja terbunuh, para pengurus gudang tersebut justru berpesta melepas penat.
Tekanan, kecemasan, rasa takut, dan amarah sempat memenuhi ruangan tersebut. Kedatangan Ashley, dan juga betapa besarnya pengaruh Far telah merenggut kebebasan mereka dalam mengambil keputusan.
Lalu, guna menenangkan kekacauan tersebut, sang pemimpin sengaja mengalihkan pikiran mereka dengan cara tercepat. Sayangnya, pelarian kedua Ashley tidak terpikirkan olehnya.
__ADS_1
Dalam keadaan tidak terkendali karena kehilangan rasionalitas, jelas saja teriakan rekannya sendiri tidak terdengar oleh mereka. Bahkan saat Ashley telah berada di antara orang-orang itu, tidak ada yang menyadarinya.
Tidak, kecuali satu orang.
Orang yang kini tengah ia rangkul dengan begitu bersahabat. Orang yang yang mengantarkan Ashley ke gudang tersebut. Dan orang yang juga telah membuat wanita pirang itu tertangkap.
Si Pengkhianat.
"Knock, knock." Ucap Ashley sambil mengetukkan kaki kayunya ke lantai.
Who's there?
"It's Death."
Berteriak sembari melepaskan diri saat ia mengetahui siapa yang datang menjemputnya, pria kurus tersebut nampak begitu menyedihkan.
Bukan tanpa rasa sakit. Begitu Ashley merasakan adanya pergerakan, ia spontan mengayunkan pedang di tangannya. Dengan begitu cepat, wanita tersebut berhasil mencegah targetnya melarikan diri dengan memotong salah satu kaki sang pengkhianat.
Teriakan terkejutnya pun berubah menjadi teriakan penuh teror, menyelamatkan wajah laki-laki itu dari sikap pengecutnya meski dengan cara yang paling menyakitkan.
Tidak lagi 'tak terlihat', kini Ashley telah menjadi pusat perhatian.
Melihat kejadian mengerikan di depan mata mereka, para wanita 'lembut' di sana pun mulai diselimuti kepanikan. Hal yang sama juga dirasakan beberapa pengelola gudang.
Suara teriakan bernada tinggi seketika memenuhi aula. Bersamaan dengan para wanita tersebut, tak sedikit pengurus gudang yang juga berniat melarikan diri.
Berlari mendahului mereka semua, si Penggila Kekerasan kemudian berhenti dan menghadang satu-satunya pintu keluar aula. Dengan menodongkan pedangnya, ia tidak membiarkan siapa pun pergi tanpa seijin darinya.
Tidak seinci pun bergeser memberi jalan, atau sekedar menurunkan pedangnya, Ashley mempersilahkan para wanita yang belum sempat mendapatkan bayaran itu pergi dari sana. Bergegas melarikan diri, satu-persatu dari mereka pun pergi melewati sisi kiri dan kanan Ashley.
Menatap sisa orang yang ada, sejujurnya, Ashley mengharapkan kehadiran Alais di sana. Jika kesatria itu ada bersamanya, mungkin situasi di hadapan Ashley akan terselesaikan jauh lebih cepat.
Sunggingan kecil di salah satu ujung bibir wanita pirang itu pun terlihat. Ia tak menyangka jika kini dirinya mulai terikat dengan orang-orang di dunia Ashelia.
__ADS_1
Ironis memang, mengingat ia berniat meninggalkan mereka pada akhirnya.
...............Bersambung...............