
Membangunkan para pekerjanya yang tengah beristirahat, Daryl membuat kehebohan karena ingin kamar Ashley siap pada saat itu juga. Saat menyiapkan kamar biasanya hanya membutuhkan 1 orang. kini ia mengerahkan lebih dari 10 orang untuk mempercepat prosesnya.
Begitu kegiatan dadakan tengah malam tersebut usai, masuklah si pirang ke dalam ruangan tersebut. Tatanan kamar itu tidak jauh lebih megah ataupun kurang dari kamarnya yang ada di Vinnas.
Melepaskan gaun tidur yang dikenakannya, Ashley kemudian melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Memejamkan kedua matanya, wanita itu langsung terlelap begitu saja, seolah ia seperti pulang ke rumahnya sendiri.
5 jam berlalu, dan Ashley sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya ketika ia tertidur.
Saat kesadarannya perlahan kembali, matanya seketika terbuka lebar. Fenomena kehilangan kesadaraan saat tidur tersebut, tetap sulit diterima oleh wanita itu. Membayangkam bahaya apa yang kemungkinan bisa terjadi bila kebiasaan tersebut berlanjut, membuat Ashley kesal pada dirinya sendiri.
Bukan pertama kalinya, hal ini juga pernah terjadi dulu, saat bersama dengan Daryl setelah menyelamatkan Kalia.
Mungkin karena tubuh yang dipakainya terlalu lelah, berbeda dengan tubuh aslinya yang sudah dilatih tahan banting sejak kecil.
Begitu pikirnya.
Kembali menjalani rutinitas paginya guna menguatkan tubuh Ashelia, wanita itu memulai harinya di mana pun dengan berolahraga. Sedangkan Daryl memulai harinya dengan berdiri di depan kamar Ashley seperti orang mencurigakan.
Ia tengah mempertimbangkan apakah ia boleh menemui wanita tersebut pagi-pagi begini? Layaknya seorang anak kecil yang sangat senang saat teman favoritnya menginap, Daryl begitu tidak sabar ingin bertemu dengan Ashley.
Datanglah kemudian, seorang pelayan yang membawa sebaskom air hangat untuk tamu kehormatan mereka membasuh wajah. Namun melihat tuannya tengah berdiri di depan pintu, ia pun mengurungkan niatnya dan berbalik pergi, hendak memberi waktu privasi kepada pasangan tersebut.
Dipanggilnya pelayan wanita itu kembali oleh Daryl dengan suara lirih, menggagalkan inisiatif sang pelayan. Berjalan perlahan agar tidak bersuara karena terpengaruh tuannya, pelayan tersebut kini ikut berdiri di depan pintu.
Meminta sebaskom air dan handuk beserta penampan yang dibawa pelayan itu, Daryl berniat menggunakannya sebagai alasan untuk menemui Ashley.
Diketuknya pintu tersebut kemudian, yang disusul oleh suara wanita dari dalam mengijinkannya masuk. Perlahan, dibukalah pintu tersebut oleh Daryl dengan wajah cerah.
Namun belum sempat melangkahkan kaki, pria itu langsung berbalik dengan cepat sambil menutup pintu. Tidak tertutup sepenuhnya, Daryl sengaja membiarkannya sedikit terbuka agar tidak menimbulkan suara dan membuat Ashley curiga.
__ADS_1
Tumpahan air yang disebabkan oleh gerakan tiba-tiba tersebut membasahi lantai dan pakaian Daryl, membuat pelayan yang menyaksikan hal itu menjadi bingung sekaligus terkejut. Rasa terkejut yang sama juga dirasakan pria tersebut, hanya alasannya saja yang berbeda.
Sesaat setelah membuka pintu tadi, didapatinya Ashley tengah menggantung kakinya pada kanopi tempat tidur dan melakukan inverted sit-ups. Namun bukan gaya akrobatik wanita itu yang mampu mengejutkan Daryl, melainkan karena Ashley hanya mengenakan pakaian dalam.
Saat sebagian dirinya berteriak dan mengutuk dirinya sendiri karena merasa bersalah telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat, sebagian yang lain merasa terancam sebab Ashley bisa saja membunuhnya. Akan tetapi, dari kedua hal tersebut, ada suara dalam benak Daryl yang terus diteriakan dengan semakin lantang seiring berjalannya waktu.
Aku ingin menikahinya!
Ia terus mencoba mengabaikan suara tersebut karena pikiran itu muncul dari perspektif seorang laki-laki. Mau setidak berkompeten apa pun Ashelia, laki-laki yang melihat fisik gadis itu pasti setuju jika ia memiliki paras dan tubuh yang menawan.
Tidak ingin Ashley mengetahui apa yang baru saja terjadi, Daryl meminta si Pelayan untuk tidak mengatakan jika dirinya berada di sana. Lalu, sebelum akhirnya melangkah pergi, pria tersebut juga berpesan untuk memanggilkan dokter.
Meski hanya sekilas, ia bisa melihat memar yang cukup besar di rusuk kanan Ashley. Jika Ashley bertanya, Daryl bisa berpura-pura mendengar hal itu dari si Pelayan.
Namun langkahnya kembali terhenti saat menyadari hal lain. Karena itu adalah luka memar dan lagi berada di bagian rusuk, maka dokter yang dipanggilnya pasti akan 'melihat' dan 'menyentuh' Ashley saat mengaplikasikan salepnya.
Mengoreksi perintahnya barusan, kini Daryl hanya menyuruh pelayan tersebut untuk meminta salep memar kepada sang dokter. Sebelum tiba-tiba,
Terperenjat pria itu dibuatnya, mendengar suara wanita yang hendak ia hindari tiba-tiba berada di belakangnya. Pelayan di samping Ashley pun tidak kalah dibuat terkejut saat melihat penampilan wanita tersebut.
Ditutupinya oleh si Pelayan, tubuh Ashley dengan memggunakan tubuhnya, saat Daryl sama sekali tidak berani menoleh ke belakang.
Mengulang kembali pertanyaannya yang sempat terabaikan karena kedua orang di sana tidak fokus, Daryl menjawab ia akan membelikan pakaian yang baru.
Mengingat Ashley selalu menggunakan pakaian laki-laki, pria itu kemudian menjadi agak ragu dengan ucapannya sendiri. Akan sulit mencari ukuran yang pas, namun itu tetap jauh lebih baik daripada mengenakan pakaian 'bekas'.
"Baju lo terlalu berharga buat gua pake?" Jawab Ashley setelahnya, meledek niat baik Daryl.
"Bukan begitu maksud- ...ku." Sahut pria tersebut yang spontan menghadap ke arah Ashley dan kembali memalingkan wajah.
__ADS_1
Lalu, layaknya seorang anak kecil yang memancing emosi temannya, wanita itu kemudian berkata,
"It's okay~ It's okay~ Gua pake baju kemaren aja," sambil berbalik dan masuk ke dalam.
"Kau boleh! -pakai bajuku." Jawab Daryl terpancing.
Tidak sopan memberi pakaian yang telah dipakai, namun lebih tidak sopan lagi mengenakan pakaian tidur ke luar rumah. Ia tidak ingin orang lain melihat pesona Ashley saat mengenakan gaun tidurnya.
"Oke." Sahut wanita itu dengan senyuman yang hanya bisa dilihat si Pelayan.
Selesai membersihkan diri dan bersiap-siap, keluarlah wanita tersebut dari kamarnya. Meski pakaian Daryl terlihat kebesaran untuknya, namun secara ajaib penampilan Ashley masih terlihat memukau.
Ditatapnya wanita tersebut, yang kini berdiri di hadapan sang pemilik rumah. Melihat pakaiannya dikenakan oleh wanita yang ia sukai memberi kesan tersendiri di lubuk hati pria itu.
Aku ingin menikahinya.
Matanya seketika terbelalak saat menyadari pikiran tidak murni melintas dalam benaknya meski hanya sesaat. Bukan seperti itu, bukan hal seperti itu yang ingin ia pikirkan tentang Ashley. Ia ingin terus menjaga wanita tersebut tetap bersih tanpa adanya sedikit pun niatan buruk.
"Masi ga rela baju lo gua pake?" Tanya Ashley membawa kesadaran Daryl kembali.
"Sudah kubilang bukan itu- Ah, ini."
Ucapannya tiba-tiba terputus saat teringat akan sesuatu yang ada di dalam sakunya. Menyodorkan secepuk benda transparan yang terlihat seperti krim, Daryl pun berkata,
"Nona Midgraff-"
"Ash."
Sekali lagi, ucapanya pria tersebut kembali terputus. Namun kali ini Ashleylah yang menyelanya.
__ADS_1
"Panggil Ash aja."
.................. Bersambung .................