Cinderella Gila

Cinderella Gila
Don't cry


__ADS_3

"Siapa kau? Kenapa mengikuti Nona Ashelia?"


"Hah?"


Sambil mengerutkan dahinya, laki-laki yang masih terlentang kesakitan di hadapan Alais itu justru berbalik mempertanyakan hal tersebut.


"Bukannya kau yang mengikutinya?"


Tidak berniat meladeni lawan bicaranya, Alais yang masih mencurigai pria itu pun loncat ke inti penginterogasiannya.


"Kau bagian dari mereka?"


Berbeda dengan kesatria yang memasang wajah serius tersebut, pria pirang itu sama sekali tidak terlihat mengimbangi keseriusan Alais. Ia hanya menunjukan ekspresi terganggu dan tidak benar-benar merasa terancam. Ditepisnya pedang yang teracung ke lehernya kemudian dengan tangan kosong, sambil perlahan bangkit.


"Jika mereka yang kau maksud itu Daryl, ya."


Seperti yang ia perkirakan, Alais tidak akan bertindak lebih dari sekedar mengancamnya. Benda tajam itu tidak menggoresnya sedikit pun meski ia bergerak tidak mengindahkan ancaman Alais.


Namun hal itu juga sebenarnya karena Alais menyadari pria tersebut tidak berniat menyakiti dirinya sejak awal.


Saat si pirang jelas-jelas memiliki kesempatan untuk menusuk Alais dari belakang, ia justru memilih untuk menodong kesatria itu meski akhirnya gagal.


Sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena baru saja dibanting orang asing, bangsawan tersebut melanjutkan,


"Kau lebih baik kembali, cara mengendap-endapmu sangat buruk."


Entah memang buruk, atau pria pirang itu yang terlalu peka dengan lingkungan sekitarnya. Ia bahkan sengaja memancing Alais untuk mengikutinya masuk ke tempat sepi.


Namun bukan hanya Alais yang gagal mengendap-endap di sini. Membandingkannya dengan kepekaan Ashley, mereka berdua sebenarnya sudah tertangkap basah jika wanita itu memang berniat melakukan hal itu.


"Begitukah? Kau tidak sadar? Pengawasanmu juga sudah diketahui Nona Ashelia sejak awal." Jawab Alais tidak terima diledek sepihak.


Akan tetapi, tidak seperti yang ia bayangkan, respon yang pria pirang itu tunjukan jauh dari kata terkejut.


...****************...

__ADS_1


Dari luar gedung teater, terlihat orang-orang berpakaian mahal berangsur meninggalkan tempat tersebut. Kebanyakan dari mereka, keluar berpasang-pasangan. Lalu salah satu di antaranya, adalah sepasang pria dan wanita dari dunia yang berbeda.


Berjalan perlahan menyusuri trotoar sebelum kembali ke kereta kuda mereka, dapat dilihat dengan jelas ekspresi kesal Daryl yang masih melekat erat di wajahnya. Melirik pria di sampingnya sambil tertawa, Ashley kemudian menepuk punggung pria itu dan berkata,


"Gausah kesel, itu cuma pura-pura."


"Bagaimana bisa mereka menulis naskah seperti itu?" Sahut pria itu kemudian.


Tidak puas dengan pertunjukan yang baru saja ia lihat, Daryl masih terus menggerutu mengeluarkan kekesalannya. Sedangkan Ashley, hanya bisa tersenyum di sampingnya.


Aneh memang melihat wanita itu hanya tersenyum.


Tidak bisa disalahkan, karena wanita itu pun sebenarnya juga merasa kesal dengan tokoh utama wanitanya. Bukan kesal dengan orang yang memerankan, namun dengan peran yang diperankan. Karena tidak ingin menanggapinya dengan serius dan sepenuhnya setuju dengan Daryl, maka ia hanya ikut tersenyum miris.


Bagaimana bisa, cerita itu berakhir dengan tokoh utama wanitanya langsung bunuh diri begitu mengetahui kekasihnya sudah terbunuh?


"Cinta sejati *****! Keluarganya mengorbankan diri agar dia tetap hidup tapi malah bunuh diri. Wanita ****"


Ya. Ini bukan cerita Romeo Juliet.


Ashley tertawa keras begitu mendengar komentar Daryl. Lucu baginya melihat Daryl yang selalu 'ceria' menjadi kesal dan terus mengumpat. Meski tidak mengerti bahasa apa yang digunakannya, namun Ashley tetap paham garis besarnya.


Melihat seorang pria dengan wajah kesal dan tidak berhenti mengumpat, bersama dengan seorang wanita berwajah sadis yang mengenakan setelan baju laki-laki, membuat gadis kecil itu bahkan tidak berani menawarkan dagangannya. Pasangan itu benar-benar terlihat seperti orang jahat.


Sempat tersentak saat Ashley melirik ke arahnya, kini ia harus lebih menahan rasa takutnya karena kedua orang tersebut berhenti di depannya.


Sejenak melirik bunga-bunga yang diperdagangkan gadis itu, Ashley kemudian bertanya,


"Berapa semuanya?"


Mendengar pertanyaan Ashley, gadis itu pun melihat seluruh bunga yang ia jual. Ia yang terbiasa menjual bunga 1 sampai 3 tangkai per orang, tiba-tiba harus menghitung harga seluruh bunganya yang tersisa.


Melihat gadis itu kesulitan menghitung, Ashley pun mengambil 5 koin emas yang tersimpan di saku bajunya. Karena ia pergi dengan Daryl, Ashley sengaja hanya membawa 5 koin untuk berjaga-jaga dan menyerahkan semua pengeluaran kepada pria itu.


Ditunjukkannya koin itu kemudian, yang langsung membuat gadis kecil tersebut terkejut.

__ADS_1


"Segini cukup?"


"Hah? I-itu sangat banyak."


"Itu juga banyak." Jawab Ashley kembali sambil melihat keranjang bunga di samping gadis itu.


Mengikuti arah pandangan Ashley, gadis itu kemudian menjadi sedikit ragu. Ia memang sengaja menjual lebih banyak hari ini karena mendengar teater akan menyuguhkan drama terkenal. Namun ia juga tidak yakin jika ia akan menghasilkan uang sebanyak itu.


Mendengar jawaban gadis itu yang masih tetap merasa Ashley memberinya terlalu banyak, wanita itu pun memberi solusi lain.


"Kalo gitu lakuin sesuatu buat gua."


"Kirimin semuanya ke pemain di sana," Ucap Ashley sambil menunjuk ke arah gedung teater yang tidak jauh dari mereka.


"Yang rambutnya pirang, peran tukang kebun."


Ia adalah tokoh sampingan yang tidak banyak disinggung. Tokoh yang perjuangan hidupnya dapat dirasakan oleh Ashley yang bahkan ada di dunia yang berbeda. Tokoh yang sangat menghargai hidupnya namun berani berkorban demi wanita yang bahkan tidak melihat ke arahnya.


Sambil tersenyum Ashley kemudian memasukan uang tersebut ke dalam kantung baju gadis tersebut.


"Jangan dikeluarin kalo belom sampe rumah." Lanjutnya menyarankan, yang langsung dimengerti oleh anak itu.


Bergegas mengangkat dua keranjang bunganya, gadis itu menampakan senyuman manis polosnya dan berkata akan melakukan permintaan Ashley tanpa kesalahan. Wajah takutnya kini telah berubah menjadi wajah bahagia yang sudah sewajarnya dimiliki setiap anak.


Diambilnya setangkai bunga berwarna kuning oleh Ashley sebelum gadis itu pergi dengan tawa ceria sambil mengucapkan terima kasih.


Daryl, yang masih tidak mampu mengalihkan pandangannya dari wajah bersinar anak tersebut, tiba-tiba melihat setangkai bunga yang di sodorkan ke hadapannya.


"Don't cry."


Ucap wanita di sampingnya dengan senyuman tipis dan sorot mata tulus yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Meski pertunjukan yang dilihat Ashley hanya sebuah sandiwara yang tidak nyata, sama halnya dengan Daryl, mereka tetap 'hidup' di dunia mereka sendiri. Karena Ashley tidak bisa memberikan bantuan secara langsung, setidaknya, ia ingin memberikan penghargaan tersebut terhadap orang yang memerankannya.


Begitu pula Daryl, yang memiliki sejuta emosi. Tokoh paling hidup yang terus mengusik ketenangannya, namun juga selalu membuatnya terhibur. Bunga itu adalah apresiasi darinya.

__ADS_1


"...I'm not crying." Jawab Daryl yang justru tiba-tiba berlinang air mata.


.................. Bersambung .................


__ADS_2