
Terlihat dua orang wanita tengah berbincang sambil meniknati makan siangnya di suatu restoran mahal. Sengaja menyewa ruang tertutup, mereka tidak ingin ada yang mendengarkan pembicaraan rahasia yang mereka perbincangkan.
"Aku tidak tahu Nona Midgraff juga memiliki minat di bidang ini." Ucap salah seorang dari kedua wanita itu.
Vincent adalah penguasa sah di wilayah Lozan, yang mana seharusnya menjadikan Ashelia sebagai orang terpandang secara otomatis. Namun bagi kumpulan makhluk sombong berlabel 'bangsawan' di dunianya, Ashelia bukanlah orang yang pantas untuk dihormati.
Karenanya, meski status para bangsawan yang ditemui Ashley lebih rendah darinya, tidak ada satu pun yang berusaha bicara formal terhadap wanita itu.
Mengatakan bahwa dirinya tertarik dengan 'peluang menjanjikan' tersebut sebab Vincent tidak mewariskan bisnis apa pun kepadanya, Ashley mencoba meyakinkan wanita di hadapannya.
Terlanjur dikenal sebagi gadis tak berkompeten, tentu saja Vincent tidak akan menyerahkan bisnisnya kepada Ashelia. Maka dari itu sekarang ia hendak menunjukkan kemampuannya? Dengan bisnis ilegal? Atau sebenarnya dia sedang berusaha menyusup? Apa dia memang segila itu sampai mau mengusik Far? Kudengar jika bertemu Ashelia, jangan percaya apa yang terlihat. Apa dia sekarang juga sedang berusaha menipuku?
"Jangan terlalu banyak mikir, otak kecil lo kebakar ntar." Ujar Ashley menyela calon koleganya yang tengah sibuk berpikir.
"...kau bilang apa?"
Melirik ke arah wanita berusia 30an tersebut, Ashley melihat ekspresi marahnya meski tertunduk. Mungkin wanita itu juga sering direndahkan karena seorang 'wanita'. Lalu berusaha menunjukkan kemampuannya mencari uang, ia kemudian melakukan bisnis gelap.
Karenanya, ucapan Ashley barusan mampu membuatnya teringat dengan hinaan yang sering diterimanya di masa lalu.
"Gua cuma-"
"Kau bilang otakku kecil!?"
Menggebrak meja sambil berteriak menunjukan amarahnya, wanita itu pikir Ashelia yang jauh lebih muda darinya akan merasa takut. Namun, respon yang didapatkannya tentu sangat jelas berbeda.
Seketika setelah menggebrak meja bundar tersebut, sebuah pisau makan tertancap tanpa aba-aba di sela jemarinya.
"Ga sopan nyela omongan orang." Ucap Ashley dengan tatapan dan nada suara mengancam.
__ADS_1
Merinding wanita itu dibuatnya. Terlebih saat melihat ekspresi wajah pelaku yang hampir menusuk tangannya.
Pelayan pribadi wanita tersebut yang berada tidak jauh dari sana juga dibuat tidak bisa bergerak. Namun bukan karena Ashley, melainkan karena Bellena yang menghalaunya dengan pisau di tangan.
Berdiri bersebelahan dengan Bellena, jarak kedua pelayan tersebut sekitar 2 meter dari meja makan nona mereka.
Meletakan jari telunjuknya di bibir, Bellena memberi isyarat kepada pelayan itu untuk tidak ikut campur dengan masalah majikan mereka. Melihat pelayan itu tidak memberontak ataupun mengangguk, Bellena menganggapnya sebagai jawaban 'aku mengerti'.
Perlahan, disembunyikannya lagi pisau tersebut dibalik celemek putih Bellena. Setelah itu, barulah ia pergi mengambilkan pisau makan baru untuk nonanya.
Kembali ke tempat semula, Bellena melirik dan menunjukan senyumannya sekali lagi kepada pelayan tersebut. Masih menyembunyikan kedua tangannya, ia membuat wanita di sebelahnya bergidik, tak menyangka nona dan pelayan itu sama berbahayanya.
Atas instruksi Ashley, Bellena memang ditugaskan mengawasi pelayan wanita tersebut. Ashley memberinya sebuah pisau yang bisa ia gunakan jika perlu.
Mencontoh hal yang tidak patut dicontoh dari nonanya, Bellena menggunakan pisau tersebut untuk mempercepat proses penyelesaian masalahnya. Akan tetapi, mental gadis itu sejatinya masih belum cukup siap.
Ia terus menyembunyikan tangannya di balik kain putih tersebut sebenarnya untuk menutupi tangannya yang tidak berhenti gemetaran. Senyuman abadi yang tergambar di wajahnya juga sebenarnya karena rasa gugup yang terus ia rasakan.
Memerintahkan calon koleganya untuk kembali duduk, Ashley pun melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda.
"Gua cuma mau tau apa yang dilakuin Far, orang yang bisa ngalahin Vincent."
"Dari pada orang yang bahkan ga nyadarin keberadaan gua, bukannya Far lebih cocok jadi bapa gua?"
Mempertimbangkan lawan bicaranya, Ashley sedikit merubah alasannya. Hanya ia dan Bellenalah yang mengetahui kebenaran dari ucapannya barusan.
Lalu sesuai perkiraan, wanita di hadapannya dibuat sedikit terbawa suasana.
Dia benar-benar gila. Meski mengetahui Far membenci wanita, ia malah berpikiran untuk menjadi putrinya.
__ADS_1
Namun perasaan itu dapat dipahami oleh lawan bicara Ashley dengan baik. Rasa kesal dan amarah akibat tidak dianggap, yang kemudian bertumpuk dan mendorong seseorang untuk melakukan hal gila.
Semua karena orang tersebut menginginkan sebuah perubahan dalam hidupnya.
Merasa sejiwa dengan Ashley, wanita itu pun memutuskan untuk mempercayainya.
Diberikanlah informasi mengenai tempat 'pelantikan' yang harus didatangi oleh Ashley agar dirinya tercatat sebagai anggota dan tidak dianggap sebagai musuh.
Namun, mendengar penjelasan mengenai apa yang akan dilakukannya setelah bergabung, Ashley justru terlihat kecewa. Wajah malasnya sama sekalu tidak bisa disamarkan.
Bukan ini yang ia inginkan.
Jika berada di posisi tersebut, ia sama saja seperti masih berada di luar benteng. Jangankan Far, orang yang mendistribusikan barang kepadanya saja tidak pernah bisa ia temui.
Beralih tujuan, Ashley kemudian bertanya bagaimana cara menjadi pengirim. Hal yang langsung membuat kedua mata wanita di depannya terbelalak.
"Kau bercanda!? Kau tahu Far membenci wanita! Kau akan terbunuh jika masuk lebih dalam!"
"Lo pikir gua puas jadi keroco? Seenggaknya gua harus hadi jendral."
Tertegun wanita itu setelah mendengar ucapan terus terang Ashley. Posisi yang ia dapatkan dengan susah payah, hanyalah sebatas keroco di mata Ashley. Sebegitu besarnyakah ambisi Ashley untuk bergabung dengan Far?
Tidak mengetahui cara menjadi pengirim, ia hanya bisa membagi informasi mengenai lokasi-lokasi pengiriman minggu ini. Meski Ashley yang datang menemuinya sebagai pendaftar, namun justru dirinya yang merasa seperti ditolak.
Lalu, karena tidak memiliki urusan lagi dengan bangsawan yang bahkan tidak ia ingat namanya tersebut, Ashley pun beranjak dari kursinya.
"Ambisi yang terlalu besar bisa menghancurkanmu." Ucap wanita itu untuk terakhir kali, memberi Ashley pesan terbijak yang ia punya.
Kembali menatapnya sejenak sebelum pergi dari ruangan tersebut, Ashley menjawab,
__ADS_1
"Ambisi yang terlalu kecil ga bakal bisa bikin lo maju."
.................. Bersambung .................