
Menatap ke arah laki-laki dengan wajah lugu di hadapannya, Ashley pun berkata,
"Don't you think it's time to stop pretending now?"
Masih memasang senyumannya yang tak lekang oleh waktu, kurir itu hanya terdiam menatap balik. Melihat keseriusan dalam mata Ashley, ia kemudian menundukkan kepalanya.
Takut? Bukan.
Terdengar suara cekikik lirih bersamaan dengan gemetarnya pundak kurir tersebut. Terkekeh sambil kembali mengangkat kepalanya, ia terkesan dengan Ashley yang dapat menyadari kepribadian palsu yang ia tunjukkan. Hal yang selama ini berhasil menipu semua orang.
Bukan hanya itu, gadis yang tumbuh di kerajaan yang dikenal tidak memberi pendidikan kepada seorang wanita tersebut, juga secara mengejutkan, mampu menggunakan bahasa asal pria itu.
Akan tetapi, bukan itu yang harus ia pikirkan sekarang. Seperti yang diucapkan Ashley, ini bukan saatnya main-main. Karena informasi yang diberikan pemilik tempat itu cukup berguna, nyawanya pun terancam.
Layaknya sebuah kontes, mereka harus berlomba memberi jawaban yang memuaskan.
__ADS_1
Masih bertingkah seolah Ashley tidak akan membunuhnya, si Kurir kemudian berdiri dan bergerak bebas. Sambil meregangkan otot-ototnya, ia berkata,
"Jika kau ingin menelusuri satu-persatu dari bawah, bawahan Far akan menangkapmu sebelum kau bisa melihatnya."
"Orang yang mengumpulkan uang itu juga belum tentu bisa menemui Far."
"Tapi aku bisa membawamu ke salah satu yang bisa." Lanjutnya meyakinkan Ashley bahwa ia lebih berguna.
Diliriklah wanita tua yang masih bersimpuh di bawah mereka berdua. Bukan hanya dikagetkan dengan perubahan sikap yang begitu drastis dari kurir tersebut, tapi ia juga terpojok karena jawaban yang pria itu berikan. Apakah orang tersebut sebenarnya salah satu pengawas Far?
Melihat sorot mata Ashley yang seolah bertanya apakah dirinya mempunyai jawaban yang lebih baik, membuat nenek itu semakin merasa putus asa. Menunduk menyerahkan diri karena tidak memiliki pilihan lagi selain kematian, wanita tua tersebut tidak mengatakan apa pun.
"Lo tau, di tempat gua, kalo ada yang ketangkep ngedar beginian tanpa ijin dari gua,"
Mengangkat tangannya, Ashley kemudian menggenggam rahang wanita tua itu dengan kuat dan melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Gua kasi hadiah."
Menekan ujung jarinya, Ashley mebuka paksa mulut pemilik tempat tersebut. Lalu, dimasukkanlah semua obat yang dirampasnya ke dalam sana.
Meronta mencoba melepaskan diri, nenek itu tidak mampu mengimbangi kekuatan Ashley. Membiarkan wajahnya tercakar, Ashley tetap tidak berhenti hingga wanita tua tersebut menelan semua obat yang ia hadiahkan.
Alais yang sebenarnya tidak tega melihat hal itu, hanya bisa meyakinkan dirinya sendiri jika pemilik tempat ini memang pantas mendapatkannya. Sedangkan Bellena, sudah tidak tahu lagi apa yang sedang ia saksikan. Ia hanya terduduk di dekat pintu dengan tatapan kosong.
Mengetahui teman barunya juga sama-sama penipu, pikiran gadis itu menjadi kacau. Bukan karena merasa dikhianati, namun karena ia sadar bahwa dunia ini begitu menakutkan.
Kemudian, setelah beberapa saat berlalu, reaksi dari pasien Ashley pun mulai terlihat.
Bukan sebuah pemandangan yang indah, namun mereka masih terus melihat ke arah nenek yang bertingkah seperti orang kerasukan tersebut. Lalu, ketika mulai menunjukan tanda-tanda kejang, dilepaskanlah genggaman tangan Ashley, membiarkan wanita tua itu menari dengan gaya tersetrum sesuka hatinya.
Tidak berniat lanjut menonton tarian yang akan berakhir dengan busa tersebut, Ashley pun berdiri dan menoleh ke arah si Kurir.
__ADS_1
"You better not lying."
.................. Bersambung .................