
Saat Will beperan menjadi benteng, Eva berdiri di garis belakang tanpa gangguan. Sambil melemparkan tatapan meremehkan sekaligus mengintimidasi khas Ashley, ia mempengaruhi mental lawan bertarung pria tersebut.
Sikap Eva yang begitu tenang, dan kedudukannya yang seolah berada di atas dua orang 'ahli pedang' di sana, membuat Eva terlihat sangat misterius.
Tidak ada yang mengetahui bagaimana wanita itu tertangkap. Bahkan setelah disekap pun, Eva masih begitu tenang dan penurut. Bagai harimau yang mengasihani segerombolan kelinci. Alasan yang menyebabkan para penjaga tidak berani menerobos pertahanan Will seorang diri.
Hal tersebut sangat membatu si Pria Pirang dalam mempertahankan areanya.
Ketika berlari ke belakang tidaklah memungkinkan karena kehadiran Eva, berlari keluar juga mustahil dilakukan. Meski kedua tangan Ashley telah penuh dengan urusan para penjaga, pengurus gudang yang bukan petarung tetap tidak berani menyelinap keluar.
Dalam pertarungan pedang tanpa ampun yang ditunjukkan Ashley, siapa yang berani mendekat ke sana? Bahkan dari kejauhan terlihat begitu jelas Ashley sangat menikmati perbuatan kejinya.
Beberapa menit pun berlalu dengan begitu lambat. Tiap detik yang mereka lewati dengan penuh ketegangan itu terasa seperti berjam-jam. Dengan nyawa sebagai taruhannya, kedua belah pihak berusaha merenggut inti kehidupan masing-masing.
Bukan hanya fisik, mental mereka pun sangat diuji dalam pertarungan tersebut. Tidak terkecuali mereka, yang tidak ikut andil secara langsung ke dalam medan perang.
Eva, yang hanya mampu melihat dua orang terdekatnya menjuntaikan nyawa mereka di depan wajah musuh, adalah yang paling diuji mentalnya. Kedua tangan dan kakinya terkekang oleh ketidak-berdayaan untuk membantu mereka. Lehernya pun terikat oleh sesuatu yang biasa disebut 'beban'.
Eva merasa, bahwa dirinyalah yang telah menyeret kedua orang berambut pirang itu ke sana. Karena dirinya pula, Ashley harus menanggung banyaknya rasa sakit saat sesi interogasi.
Namun kini, ketika ia hadir bersama mereka, ia tetap tidak mampu memberikan bantuan.
Saat benda-benda tajam menyayat kulit mereka, saat rambut panjang tak terikat Ashley menjadi incaran musuhnya, saat peluh menitik dari ujung dagu Will karena tidak sempat beristirahat, ia hanya mampu melihat.
Dan membayangkan segala macam hal buruk yang bisa menimpa mereka kapan saja.
Bagai melihat kejadian di masa lalu, atau melihat masa depan yang tak diinginkan, bayang kematian kedua orang terkasihnya menyisip di sela-sela pandangan Eva.
Tertusuk.
Tertebas.
Begitu keji dan teramat tragis, seperti yang mereka lakukan terhadap para pengurus gudang. Gambaran tersebut terus muncul dengan cara berbeda-beda namun hasil yang sama.
Semakin lama, Eva semakin kesulitan menenangkan dirinya. Jantungnya berpacu dengan cepat. Tubuhnya pun mulai gemetar, layaknya mesin yang dipaksa bekerja melewati batas. Kekhawatirannya terhadap mereka berdua justru paling berimbas pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ingin rasanya ia berlari menghampiri mereka. Namun Eva tahu, hal tersebut hanya akan memperburuk keadaan.
Apa yang bisa ia lakukan setelah itu? Memangnya apa yang akan berubah setelah ia berlari ke sana?
Beban.
Sebuah perasaan yang semakin mencekiknya seiring berjalannya waktu.
Setelah melalui semua cobaan berat dalam hidupnya, Eva telah menjadi pribadi yang kuat. Meski banyak yang bernasib sama, namun ialah yang paling kuat di antara mereka. Hal yang membuatnya tidak gentar menghadapi situasi apa pun.
Akan tetapi hal yang sebaliknya tengah ia rasakan sekarang.
Entah sudah berapa lama, sejak terakhir kalinya ia merasa begitu lemah. Tidak memiliki kekuatan yang cukup, untuk menopang harapan dan keinginannya.
Apa yang akan El lakukan jika berada di posisiku?
Tapi apakah ada? Situasi yang mampu membuatnya merasa tidak berdaya?
Jika saja mereka tidak datang-
Tersadar dengan apa yang baru saja ia pikirkan, Eva terdiam. Ia teringat dengan saat-saat yang membuatnya begitu sedih karena membayangkan tidak bisa lagi menemui mereka. Ia teringat dengan perasaan senang yang begitu kuat saat bertemu dengan kedua Pirang itu, meski dalam situasi yang tidak baik.
Hey, kita tidak sedang berwisata, kalian tahu?
Wajah kesal yang Ashley tunjukkan saat ia memakaikan mantel Will juga tidaklah buruk.
Nama lo Eva Miller, mulai sekarang.
Ashley bahkan memberikan marganya dengan cuma-cuma. Hal yang sampai membuat Eva rela mengorbankan nyawanya.
Ha!? Siapa yang ngijinin lo mati sebelum buktiin kegunaan lo?
Meski terdengar kasar dan menuntut, namun itulah cara Ashley menunjukkan kepeduliannya. Caranya mengatakan bahwa ia akan melindungi Eva apa pun yang terjadi.
Benar. Tidak ada yang bisa membuat wanita pirang itu merasa lemah dan tidak berdaya. Karena ia begitu kuat. Dan wanita kuat itu pasti bisa menghadapi situasi ini. Begitu pula dengan Will yang berani terus maju meski tanpa berbekal senjata.
__ADS_1
Mereka berdua pasti akan baik-baik saja.
Ga perlu dipake. Cuma perlu keliatan bisa.
Eva juga telah mendapatkan perannya. Ia tidaklah dikesampingkan atau semata-mata menjadi sebuah 'tanggung jawab' yang membebani Ashley dan Will.
Saling percaya.
Meski terlihat seolah bertindak sendiri-sendiri, namun mereka telah membagi tugasnya masing-masing. Dengan peran yang mereka miliki, ketiganya tengah bekerjasama mengalahkan musuh.
Mengelabuhi musuh juga merupakan hal yang penting. Karena itu pula Will tidak terkepung oleh musuh dari segala penjuru.
Bukan hanya mempercayai kemampuan kedua rekannya untuk menumbangkan banyak lawan, namun Eva juga harus mempercayai kemampuannya sendiri.
Tidak lagi merasa terkekang, Eva kembali memperkuat aktingnya. Keraguan yang hampir menyelimuti wanita tersebut kini telah sirna. Matanya menatap tajam setiap individu yang berusaha menerobos dinding pertahanan Will, memperingatkan musuh mereka untuk mundur jika tidak ingin menyesal.
Bukan hanya Ashley dan Will yang bertarung di sana. Eva pun harus bertarung melawan dirinya sendiri.
Saat kedua Pirang itu masih memerlukan waktu untuk menyelesaikan pertarungan mereka, Evalah yang pertama kali mendapatkan kemenangan.
Akan tetapi nyawa tidak cuma dimiliki oleh mereka bertiga. Seluruh personel pengurus gudang juga memiliki kehidupan mereka masing-masing. Setiap individu yang mengisi aula tersebut tengah mempertaruhkan nyawa mereka.
Menyaksikan nyawa rekannya terenggut, tentu meninggalkan pilu yang mendalam bagi diri para penjaga. Karena seburuk apa pun perbuatan seseorang, mereka tetap memiliki hal yang mereka anggap berharga.
Bagaikan sebuah benda yang tak berarti, baik pihak Ashley maupun pihak gudang, saling menebaskan pedang mereka. Keduanya berusaha merampas sebuah eksistensi dari teman dan saudara lawan mereka.
Membunuh atau dibunuh.
Satu kesalahan dalam perhitungan saja, dapat berakibat sangat fatal. Dan orang yang cenderung melakukan kesalahan di saat terakhir, adalah mereka yang berpikir bahwa kemenangan telah tergenggam meski pertarungan belum benar-benar berakhir.
Hanya memiliki sepasang mata dan dua tangan, Will harus membuka lebar semua inderanya. Bukan semata-mata bergantung pada pengelihatan dan pendengarannya, ia juga harus menggunakan instingnya.
Setelah menebas satu lawannya, Will tidak memiliki kesempatan untuk memastikan kematian orang tersebut. Telah disambut oleh penantang berikutnya, ia tidak memiliki pilihan lain selain berpaling.
Saat itulah ia membuat kesalahan. Kesalahan yang menyebabkan bentengnya tertembus dan membiarkan musuh mendekati sang ratu.
__ADS_1
Eva!
...............Bersambung...............