Cinderella Gila

Cinderella Gila
Slash


__ADS_3

Keluar dari gang tersebut, Ashley dan Kalia berlari menuju jalan lain yang mengarah ke pusat kota.


Dini hari.


Jalan alternatif yang biasanya cukup ramai itu kini tidak berpenghuni. Deretan toko-toko kecil yang sudah tutup sejak sore tadi menjadi saksi pelarian mereka.


Setelah cukup lama berlari akhirnya mereka berhasil keluar dari wilayah kekuasaan orang-orang tersebut. Namun bukan berarti mereka tidak lagi dikejar.


Lebih giat dari seorang pelajar yang mendaftat ke universitas, kelima orang itu masih terus mengejar dua gadis malang tersebut. Terlebih karena adanya harapan yang mereka lihat tepat di depan mata mereka.


Jarak yang mulai memendek.


Ashley beberapa kali berupaya mengecoh mereka dengan masuk ke dalam sela bagungan ataupun mencari jalan tikus lain. Namun wilayah itu adalah tempat bermain para penjahat tersebut, mereka tahu di mana Ashley akan keluar.


Berpikir ia tidak akan sempat sampai di jalan utama sebelum tertangkap, Ashley memutuskan untuk mencari cara lain.


Diarahkannya Kalia ke jalan yang justru kembali menjauhi jalan utama. Gadis itu mengikuti instruksi Ashley tanpa pikir panjang karena ia tidak mengetahui wilayah tersebut. Ia menyerahkan semua kepercayaannya sepenuhnya kepada Ashley.


Semakin lama jarak mereka dengan para penjahat itu semakin menyempit. Tenaganya yang mulai terkuras membuat wanita itu khawatir. Ia tidak bisa membiarkan dirinya kelelahan dan tertangkap di sana tanpa perlawanan.


Di tambah lagi, Kalia sudah terlihat sangat kelelahan. Tinggal menghitung waktu sebelum gadis itu akhirnya tersandung karena tidak kuat mengangkat kakinya sendiri.


"Kiri!"


Kalia yang berada di depan langsung berbelok memasuki gang yang ia lihat di sebelah kiri jalan. Diikuti oleh Ashley, kelima orang di belakangnya yang melihat sekaligus mendengar instruksi itu degan jelas pun juga berniat berbelok masuk ke sana.


"Heggh-"


Salah seorang dari penjahat itu yang berada di paling depan tiba-tiba berhenti sebelum ia sempat memasuki gang tersebut. Sambil memegangi lehernya yang baru saja dihantam benda tumpul, ia tertabrak oleh teman-temannya yang berada di belakang.


Sambil terbatuk-batuk karena merasa tenggorokannya sangat tidak nyaman, dibantu salah satu temannya, ia kembali berdiri dan mengejar Ashley dengan dorongan balas dendam yang jauh lebih kuat. Kedua temannya yang lain sudah berada lumayan jauh di depan karena mereka berhasil menghindari 'hambatan' yang dibuat Ashley tersebut.

__ADS_1


Kalia yang memimpin jalan terus fokus berlari menelusuri gang tak bercabang tersebut.


Di saat bersamaan, Ashley yang berada di belakang Kalia berusaha menggunakan benda-benda di sekitarnya untuk menghambat kedua penjahat tersebut. Tanpa memperlambat langkah kakinya, ia mengambil dan melempar apa pun menggunakan tangannya, atau sesekali memukul sesuatu dengan tongkatnya.


Cukup dalam mereka masuk ke dalam gang tersebut, dan Kalia benar-benar hampir mencapai batasnya. Ashley juga demikian, ia merasa ia tidak bisa lagi membuang tenaganya untuk sekedar menghambat orang-orang yang mengejarnya.


Di saat itulah, Kalia dihadapkan oleh sebuah keputus-asaan. Setelah berusaha melarikan diri dengan sangat keras, ia justru disudutkan dalam situasi terjebak di jalan buntu. Kematian yang tidak pernah terbesit sama sekali di benaknya, kini telah menyambutnya dengan tangan terbuka.


Namun bukan untuknya, kematian itu sejatinya telah menanti orang-orang yang mengejar mereka.


Ashley menyeringai.


Ia langsung mengerem kakinya saat melihat mereka telah mencapai ujung gang yang cukup dalam. Berbalik sambil meletakkan tangan kanannya di atas pegangan tongkat, Ashley menantikan siapa pun yang muncul dari balik dinding di sampingnya.


Slash


Dengan senyum jahat yang ia tunjukan terang-terangan, Ashley menarik pedangnya keluar menyambut laki-laki di depannya dengan begitu hangat.


Tanpa mempedulikan rasa nyeri hebat yang ia rasaka di lengannya, Ashley mengukir satu garis diagonal di tubuh penjahat tersebut. Sangat dalam hingga darah orang itu menyembur mengenai wajah dan pakaian waita tersebut.


Melihat temannya terkena tebasan telak, satu orang yang lain berusaha melakukan serangan diam-diam dengan menghunuskan pisaunya dari sela lengan temannya tepat mengarah ke dada Ashley.


Melihat pergerakan tersebut, Ashley meghindar dengan memutar tubuhnya ke samping. Sedangkan pedang di tangan kanannya sudah siap memotong lengan yang tiba-tiba muncul tersebut.


Bersamaan dengan saat Ashley menghindar, ia mengayunkan pedangnya ke bawah. Begitu pisau itu gagal menusuk wanita tersebut, pedang Ashley sudah menyentuh kulit lengannya.


Tanpa basa-basi, tanpa pikir panjang, dan tanpa ampunan.


Bersamaan dengan jatuhnya potongan tangan tersebut, kaki Ashley telah menempel di dada korban pertama yang masih tertopang oleh orang di belakangnya. Ditendangnya kedua orang itu menjauh sebelum darah yang lain menyembur mengenainya.


Duduk tertindih temannya yang sekarat, laki-laki itu berteriak merasakan rasa sakit hebat yang terlambat menyapanya.

__ADS_1


Merinding.


Ketiga temannya yang baru saja sampai dibuat Ashley merinding.


Berpikir mereka masih bisa menang dan harus membalas dendam, majulah dua orang yang sudah siap dengan pisau dan pedang di tangan. Entah kapan ia mengambil pedang itu, mengingat tidak ada yang membawa pedang sebelumnya.


Salah satu dari mereka bertiga menghampiri temannya yang terluka. Ia mencoba menghentikan pendarahan mereka berdua, namun sudah terlambat bagi si korban pertama. Ia masih hidup tapi sudah tidak ada harapan lagi. Ia telah kehilangan banyak darah dan mustahil menghentikan pendarahan dari luka sebesar itu.


Sempat ataupun tidak, laki-laki yang baru saja sampai itu langsung menggendong temannya yang sekarat. Bersama dengan korban ke-dua, mereka pergi mencari pertolongan.


Ashley tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan mereka bertiga pergi karena dua orang yang lain tengah menghadangnya dengan aura membunuh yang sangat terasa.


Majulah laki-laki yang memakai pedang. Diayunkannya pedang tersebut mencoba merenggut nyawa wanita di depannya dengan sekali serang. Gerakannya cukup cepat hingga Ashley hampir terlambat menangkis.


Begitu kedua tangan Ashley disibukkan dengan hal lain, teman satu grupnya yang berada di belakang langsung berlari mendekat mengincar kaki wanita tersebut.


Digerakkannya kaki kiri Ashley ke depan kaki kanannya yang diincar oleh orang itu. Ia menutupi bagian atas lututnya yang menjadi sasaran dengan menggunakan betis kirinya.


Sengaja mengerahkan kekuatannya, laki-laki tersebut menyayat dengan sangat dalam agar Ashley tidak bisa lagi menggunakan kakinya. Akan tetapi, ia sedikit merasa aneh setelah melancarkan serangannya. Entah mengapa ia merasa seperti memotong benda keras, dan bukannya daging.


Setelah pisaunya terantuk sesuatu yang lebih keras di dalam kaki Ashley, ia pikir itu tulang. Namun apa ini? Kini pisaunya malah tersangkut di kaki wanita tersebut.


Tidak membiarkan laki-laki tersebut bertindak seenaknya, tepat saat pisau tersebut tersangkut di kakinya, Ashley kembali mengayunkan pedangnya berniat memotong tangan orang itu.


Mengetahui serangan balasan Ashley, laki-laki tersebut langsung melepaskan pisaunya dan melangkah menjauh.


Melihat peluang saat pertahanan Ashley melemah, laki-laki yang memakai pedang langsung menambah tekanan pedangnya. Mereka benar-benar memanfaatkan momen saat Ashley tengah fokus dengan salah satu dari mereka.


Karena berada dalam posisi yang kurang stabil, Ashley tidak dapat menghentikan serangan tersebut. Logam tajam itu mengarah tepat menuju lehernya.


..................... Bersambung .....................

__ADS_1


__ADS_2