
Lihat, Kalia. Siapa yang menyelamatkanmu?
Siapa yang mengorbankan nyawa demi dirimu?
Ga sampe mati sih.
"Kaupikir apa yang kaulakukan pada temanku!?"
Senyuman puas perlahan merekah di bibir Ashley. Misi 'berteman' yang ia lancarkan 3 hari ini akhirnya sukses. Siapa sangka hanya sekedar berteman saja harus seekstrim ini.
Melirik ke arah gadis yang tengah membelanya, sorot mata Ashley terasa seolah mendukung setiap tindakan yang dilakukan oleh Kalia. Seakan-akan batinnya berteriak, "Ya! Benar! Itu dia! Tunjukan kalau kita adalah teman yang saling melindungi!"
Berpindah melirik ke arah tiga orang lain yang sedang teralih karena tindakan Kalia, Ashley melebarkan senyumannya sambil berbisik dalam hati,
*Lihat? Asteron, dan kalian dua figuran?
Gua sama Kalia itu sahabat sampe mati, ga ada dendam sama sekali. Jadi coret gua dari daftar tersangka, oke*?
Dengan raut wajah yang tidak ada tulus-tulusnya sama sekali itu, tidak heran jika ia terus membuat orang lain salah paham.
"Dia merencanakan hal jahat!" Teriak kakak ke-dua Kalia tiba-tiba.
Ashley sedang memikirkan hal lain, saat tanpa diduga kakak Kalia telah kembali melihat ke arahnya dan menyadari senyum jahat wanita tersebut.
Seperti biasa, Ashley langsung memasang wajah polosnya dan berpura-pura tidak tahu apa maksud laki-laki itu.
"Hah? Apa? Gua?"
Daryl yang sadar jika ekspresi wajah wanita itu barusan memang terlihat jahat hanya bisa terkekeh. Sangat menghibur baginya, melihat perubahan ekspresi Ashley saat mencoba mempermainkan orang lain.
Lain halnya dengan wanita itu, yang sebenarnya merasa kesenangannya terpaksa dihentikan. Tak bisa dimungkiri, meski biasanya hanya sekedar salah paham, namun kali ini ia memang sedang merencanakan hal buruk.
Melihat kemungkinan bahwa namanya akan tetap bersih meski Kalia terbunuh, membuatnya merasa sangat diuntungkan. Bukan lagi karena masalah tuduhan pembunuhan, namun karena Kalia masih berpotensi menjadi target Ashelia.
Saat putra ke-dua Asteron memergoki ekspresi jahatnya, wanita tanpa hati nurani itu memang tengah memikirkan cara untuk membunuh Kalia. Ia benar-benar tahu cara memutus hubungan 'sahabat sampai mati' yang baru saja dideklarasikannya.
"Nona Midgraff." Sahut putra pertama Asteron yang sekaligus menguak identitas dari wanita tidak sopan di samping Daryl.
"Saya tidak terlalu paham dengan situasinya, apa Anda keberatan memberi penjelasan?" Lanjut pria itu mencoba untuk tidak berprasangka.
__ADS_1
Berbeda dengan dirinya dan tiga orang lainnya yang sudah mengetahui identitas Ashley, perhatian Asteron dan juga para kesatria yang berada di sana justru teralih dengan fakta yang baru saja terkuak.
Tidak ada satu pun dari para kesatria itu yang pernah melihat wajah Ashelia. Jangankan mereka, Asteron yang merupakan ayah dari teman kecil Ashelia saja hanya pernah melihat wajah gadis itu sekali. Wajah yang tidak mungkin ia ingat lagi karena tertimbun memori lain.
Setelah melihat secara langsung kegilaan gadis abnormal yang ramai dibicarakan orang tersebut, para kesatria di sana hanya berharap tidak akan bertemu dengan si pembuat onar itu lagi. Sedangkan orang yang menyerang Ashley barusan, hanya bisa memasang wajah pucat sambil berharap putri Count wilayah Lozan tersebut tidak menyimpan dendam terhadapnya.
Saat mereka sibuk memikirkan kesan mereka masing-masing, percakapan antara wanita itu dengan kakak pertama Kalia masih berlanjut.
Atau mungkin langsung berakhir?
"Ya."
Ashley memberikan jawaban ambigu yang kembali memunculkan pertanyaan lain. Apakah itu 'ya' untuk setuju menjelaskan, ataukah 'ya' untuk keberatan menjelaskan?
"Tanya aja adek lo. Gua capek, mau balik." Lanjutnya memperjelas.
Urusannya sudah selesai dan ia tidak ingin terus berlama-lama di sana. Tanpa menunggu lagi, wanita itu pun melangkah maju berniat kembali ke kediamannya yang memang masih sejalan.
Ditahannya tangan kiri Ashley oleh Daryl kemudian, sebelum pria itu melihat ke arah kakak Kalia sambil berkata,
"Pinjamkan kudamu jika kau tau apa itu sopan santun."
"Tidak perlu kau katakan pun aku memang berniat mengantar Nona Midgraff." Jawab pria yang lebih tua darinya itu.
"Hah? Apa yang baru saja dikatakan pria beristri ini?" Ucapnya yang langsung membuat semua orang menatap calon penerus Duke Derius tersebut.
Tanpa mengetahui tentang peringatan yang Ashley berikan kepada laki-laki itu, orang-orang di sana hanya tahu tentang Ashley yang pernah menggodanya tempo hari.
Paham atas tatapan kecurigaan yang ia terima, pria yang terlihat sedikit panik itu berusaha menjelaskan. Akan tetapi, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, adik sepupunya kembali menyela.
"Aku yang akan mengantarkannya." Ucap Daryl dengan wajah serius, seolah menunjukan garis batas yang tidak boleh dilanggar siapa pun.
Ditatapnya kembali wanita yang masih ia genggam tangannya tersebut. Dengan wajah yang langsung berubah lembut ia bertanya,
"Perlu kugendong?"
Ashley hanya menatapnya dingin tanpa mengatakan apa-apa. Membaca bagaimana sifat wanita di depannya, jelas Ashley akan menolak tawarannya. Dengan senyuman yang masih melekat, pria itu pun melanjutkan,
"Tunggu di sini, agar kakimu tidak tambah sakit."
__ADS_1
Pergilah ia menghampiri kakak sepupunya yang masih tertegun melihat perubahan sikap Daryl.
Ashley sedikit terkejut mendengar peekataan pria itu. Rasa sakit di kakinya memang mulai mengganggu, namun ia sebisa mungkin tidak menunjukannya. Apakah ia melakukan kesalahan dan membuat Daryl menyadarinya? Memang tidak ada salahnya berkata sakit jika memang sakit, tapi posisinya sebagai ketua mafia membuatnya mengemban kewajiban untuk tidak pernah menunjukan kelemahannya di depan siapa pun. Hal yang juga membuat Anthony, begitu keras terhadapnya.
Memasang wajah dingin saat berhadapan dengan keluarga Kalia, Daryl meraih tali kekang milik kuda kakaknya tanpa melirik, menyapa, atau sekedar berterimakasih. Lalu, saat membalik badannya sambil menuntun kuda tersebut kembali, wajahnya pun ikut kembali terlihat cerah.
Benar-benar pemandangan yang sangat menguji kesabaran.
Naiklah Ashley ke atas kuda tersebut dengan bantuan Daryl. Kemudian, tanpa wanita itu duga, pria tersebut juga ikut naik di belakangnya, menunggangi kuda yang sama dengan dengannya.
Menoleh ke belakang, ditatapnya pria yang masih tersenyum tanpa beban tersebut. Masih tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ashley hanya memberi Daryl sebuah tatapan mata yang sangat jelas artinya.
"Menjadi calon su-"
Siku kiri Ashley langsung dilancarkan ke sisi kiri tubuh pria tersebut saat wanita itu sadar apa yang akan diucapkan Daryl. Tidak dapat menghindar, laki-laki tersebut hampir saja terjatuh karena mencoba menjawab pertanyaan batin Ashley.
Tidak ingin mempermasalahkan hal itu karena Ashley juga tidak pernah menunggang kuda sebelumnya, wanita yang lebih suka bertindak daripada bicara itu pun kembali menghadap ke depan dan berkata,
"Jalan."
Sebuah kata singkat yang sekaligus mengonfirmasi bahwa pria itu telah mendapatkan ijin darinya untuk berada di sana.
Saat nona tersebut akhirnya dapat mengakhiri hari yang melelahkan itu, seorang yang lain justru tidak berani kembali karena kehilangan orang yang seharusnya ia kawal.
"Tuan Greg!"
Panggilnya saat melihat seseorang yang familiar baginya. Seseorang yang juga bekerja sebagai kesatria di keluarga Midgraff.
"Apa yang Anda lakukan di sini?"
Tidak menjawab pertanyaan laki-laki yang memanggilnya tersebut, pria dengan penampilan biasa dan tanpa pedang itu justru balik bertanya.
"Ada apa?"
Kembali teringat dengan permasalahannya, laki-laki berseragam itu pun langsung terlihat panik dan berteriak,
"Nona Ashelia menghilang!"
Mendengar berita tersebut, kesatria pengawal Marion itu sempat tersenyum sesaat. Namun langsung ia hapus sebelum rekan satu bidangnya menyadari hal tersebut.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanyanya kemudian.
.................. Bersambung .................