Cinderella Gila

Cinderella Gila
Kau yang sedang apa!?


__ADS_3

Naluri kedua orang yang menentang Ashley mengatakan kepada mereka untuk waspada, apa pun bisa terjadi. Lalu setelah terdiam selama beberapa saat dan hanya menatap laki-laki di depannya untuk menyalurkan kebencian, Ashley mulai bicara.


"Get your f*ckin' a** here."


Laki-laki itu spontan berdiri karena merinding. Meski tidak terlalu paham cara kerja sumpah serapah wanita tersebut, ia sedikit mengerti maksud ucapannya.


Bertingkah angkuh seakan sengaja ingin menunjukan jika ia menuruti kata-kata Ashley bukan karena takut, laki-laki itu berjalan mendekat. Di dorongnya perlahan pengawal itu ke samping agar ia bisa lewat.


Berbeda dengan tuannya, pengawal itu justru semakin menekankan mata pedangnya ke leher Ashley saat merasakan bahaya. Ia kemudian dibuat terkejut saat satu-satunya laki-laki di sana itu justru berniat mendekati Ashley.


"Yang Mulia." Ucap pengawal itu memperingatkan tuannya untuk tidak mendekati wanita tersebut.


Tidak mengindahkannya, laki-laki tersebut meletakkan jari telunjuknya di dekat bibir,memberi isyarat pada pengawalnya untuk diam.


Sesuai dengan gaya berpakaian mereka yang terlihat berbeda, pengawal itu juga baru saja berbicara menggunakan bahasa yang cukup asing di telinga Ashley. Dari petunjuk-petunjuk yang telah ia dapat, wanita itu dapat menebak siapa orang yang kini berdiri di depannya tersebut.


Tidak peduli siapa orangnya, dia telah membuat Ashley kesal. Karena itu, di sanalah wanita itu menatapnya tajam bahkan mendekatkan kepalanya tidak menghiraukan logam tajam yang mengiris kulit lehernya.


"You bully her?" Tanya wanita itu serius.


Kalia semakin panik saat melihat Ashley sengaja memperdalam sayatan tersebut. Darah pun mulai mengalir perlahan, keluar dari lehernya.


Di sisi lain, laki-laki yang Ashley tanyai tersebut hanya tertawa sinis. Ditatapnya gadis yang menjadi topik pembicaraan mereka sejenak sebelum kembali mengabaikannya. Ia seolah sedang mencari kata-kata balasan yang tepat.


Akan tetapi, melihat wajah serius Ashley yang mengganggu pikirannya dan juga aliran darah yang tidak mampu menghentikan wanita tersebut, membuatnya merasa harus memberi jawaban sesegera mungkin.


"No." Jawabnya singkat setelah menyerah memperpanjang topik.


Hal yang sama pun dirasakan oleh Ashley yang tidak ingin berlama-lama melihat orang itu.


"Good. Now scram." Jawab wanita tersebut meski tahu jika laki-laki itu berbohong.


Tiba-tiba, melintaslah tangan putih kurus di depan mereka yang langsung ditangkap oleh Ashley. Tangan yang beberapa hari lalu hampir ia patahkan itu berniat menggengam pedang dua sisi yang tengah melukai Ashley.


"Lo ngapain!?" Tanya Ashley sedikit terkejut dengan tindakan Kalia.


"Kau yang sedang apa!?"

__ADS_1


Karena terus diabaikan, gadis itu berniat menarik paksa logam tajam tersebut menjauh, tanpa memikirkan jika hal itu dapat membuat jari-jarinya putus. Meski tidak sepenuhnya mengerti bahasa asing yang Ashley gunakan, namun ia sedikit mengerti gambaran besarnya karena biasa mendengar laki-laki di sana menggunakan bahasa yang sama.


Kalia merasa tidak bisa diam saja melihat Ashley terluka saat membelanya.


Untungnya, usahanya sedikit berhasil. Ashley spontan menarik kepalanya mundur saat melihat tangan Kalia. Meski pedang itu masih diarahkan ke lehernya, namun setidaknya mata pedang tersebut sudah tidak lagi menempel di kulit Ashley.


Sambil memegang tangan gadis itu untuk mengantisipasi terulangnya tindakan tersebut, Ashley kembali melihat ke arah kedua orang asing tersebut.


"And why the f*ck are you still here?" Tanya Ashley ingat ia telah menyuruh mereka pergi.


Kembali merasa aneh karena Ashleylah yang merupakan penyusup di sana, laki-laki itu tertawa heran.


Diungkapkanlah identitasnya sebagai tunangan Kalia. Orang yang lebih berhak berada di sana daripada Ashley. Orang yang sedang membahas urusan pribadi bersama calon istrinya.


Tidak lupa, ia juga menyebutkan posisinya sebagai putra ke tujuh dari putra mahkota di kerajaan asalnya. Yang tentu saja sudah diketahui oleh Ashley.


Tanpa menunjukan sedikit pun ekspresi terkejut, wanita itu masih terus menatapnya, seolah menunggu mereka untuk meninggalkan ruangan tersebut.


Menyerah menghadapi gangguan wanita gila tersebut, mereka pun memilih untuk pergi.


"Well, I have nothing else to say anyway."


"Apa sebenarnya maumu!?"


Mendengar teriakan Kalia saat dua orang asing keluar dari ruangan itu membuat Bellena kembali menutupnya. Untuk sesaat orang-orang dapat melihat pertengkaran kedua gadis di dalam yang di dominasi oleh Kalia.


"Kenapa bertingkah seperti kau sedang membelaku!?"


Gadis itu menarik bagian depan mantel Ashley untuk mendapatkan perhatiannya dan melepaskan semua kekesalan di dalam dadanya yang meluap keluar.


Kalia benar-benar tidak paham dengan sikap Ashley yang terus berubah antara mempermalukannya dan juga bertingkah seperti teman.


"Teman? Bukankah kau sendiri yang bilang tidak butuh hal seperti itu?"


"Kau sendiri yang bilang tidak ingin melihatku lagi!" Teriaknya penuh kekesalan.


Melihat gadis di hadapannya menjadi sangat emosional membuat Ashley terdiam. Setidaknya ia ingin mendengar apa yang sebenarnya gadis itu rasakan agar ia tahu apa yang harus dilakukan nanti.

__ADS_1


Kalia kemudian sedikit menundukan kepalanya.


"Aku tahu rasanya kehilangan ibu karna itu aku datang!"


"Kupikir semua sudah membaik, tapi tidak."


Nada suaranya terus berubah-ubah sesuai dengan perasaannya yang bergejolak seperti air mendirih.


"Aku datang untukmu tapi kau merasa aku hanya memperburuk suasana?"


"Terus berkata orang sepertiku, orang sepertiku!! Aku bahkan tidak tahu orang seperti apa aku di matamu!"


Ditatapnya gadis yang tertunduk dan mulai meneteskan air mata itu. Ashley tidak begitu mengerti mengenai masalah pertemanan. Namun ia bisa merasakan kekecewaan di antara suara gemetar Kalia yang terasa sangat dalam.


"Kau pikir aku merusak hidupmu? Kau pikir hanya kau yang ditolak!? Daryl juga membenciku sampai sekarang!"


Mengangkat kepalanya, Kalia pun melanjutkan,


"Dan karena kau, aku dilarang pergi ke mana pun kecuali kafe kemarin!"


"Aku dilarang datang ke undangan siapa pun dan pengeluaranku dipotong untuk mengganti 3000 koin yang kau minta tanpa rasa malu!"


Ashley seketika menunjukan tatapan malasnya. Ucapan Kalia barusan benar-benar merusak momen menyedihkan tersebut.


Ashley ingin sekali berkata jika itu merupakan salahnya sendiri namun wanita itu terkadang juga memiliki kepekaan. Ia tahu hal itu hanya akan memperdalam kebencian Kalia.


Setelah sejenak melihat luka di leher Ashley, Kalia terdiam. Pendarahannya sudah berhenti dan darahnya pun mulai mengering.


"Itu salahmu sendiri." Ucapnya kemudian.


"Aku akhirnya mendapat waktu untuk bertemu Pangeran Joseph tapi kau mengacaukannya." Lanjutnya protes.


Ashley tidak tahu apakah Kalia benar-benar menyukai Joseph atau hanya berusaha menjaga harga dirinya, yang ia tahu, Joseph tidak merasa demikian.


"Membantu? Kau hanya memperburuk keadaan." Ucap Kalia membalik ucapan yang pernah diucapkan Ashelia kepadanya.


"Berhenti berusaha karna aku tidak akan pernah ingin berhubungan baik denganmu."

__ADS_1


..................... Bersambung .....................


__ADS_2