Cinderella Gila

Cinderella Gila
Can we talk now?


__ADS_3

"Cek"


Tidak berani menolak ataupun melaksanakan perintah tersebut, Bellena hanya mematung. Dilihatnya mata Ashley yang semakin lama semakin membuatnya merasa seperti terhisap ke dalam lubang hitam. Gelap dan menakutkan.


Mari percayakan pada kemampuan Nona.


Mencoba menetapkan hatinya, Bellena perlahan berjalan melewati Ashley menuju ujung gang.


Tunggu, bagaimana jika Nona tidak berniat menolongku?


Langkahnya langsung terhenti saat sebuah fakta menyakitkan menghantam keras menghancurkan peluang hidup Bellena. Apakah satu-satunya asuransi jiwa yang ia miliki itu hanya suka memeras kering darah dan keringat pengikutnya? Tanpa pernah berpikiran untuk menjamin keselamatan mereka?


Ditatapnya Ashley sekali lagi, yang kini terlihat mulai tidak sabar. Seolah wanita itu akan mendorong Bellena keluar jika terus menunda. Sebegitu tidak pedulinyakah ia terhadap nyawa pelayannya?


...tidak. Nona masih membutuhkan pesuruh. Dari semua orang, Nona hanya mempercayaiku.


Mencari fakta lain yang bisa ia percaya, Bellena mencoba menguatkan tekadnya kembali. Tidak pernah sebangga ini baginya, menjadi seorang pelayan. Seolah jabatan itu bahkan lebih tinggi dari seorang raja. Beginikah rasanya menjadi pengikut iblis?


Kembali berjalan, gadis itu perlahan muncul dari balik dinding dengan mata tertutup, tidak berani melihat kematian yang akan datang menjemputnya.


Dilihatnya tingkah lucu pelayannya, oleh sang 'iblis'. Ia jelas-jelas menyuruh gadis itu untuk 'melihat' situasi, namun Bellena justru menutup matanya.


Tidak masalah, karena yang ingin dites oleh Ashley adalah reflek musuhnya. Hal yang kemudian bisa memberi wanita itu kesempatan untuk berbalik mengejutkan targetnya.


Pria itu terkesan memihak Bellena sebelumnya, jadi Ashley sengaja menjadikan pelayan pribadinya sebagai umpan. Jika orang itu spontan menyerang, ia pasti akan berusaha berhenti setelah melihat Bellena.


Akan tetapi, tetap tidak ada suara yang menandakan pergerakan kurir tersebut. Apakah pria itu juga bisa mengantisipasi hal ini tanpa bersuara sedikit pun?


Berdiri dengan selamat tanpa merasakan adanya reaksi sedikit pun, Bellena hendak membuka mata, sebelum tiba-tiba lehernya terkunci oleh lengan seseorang dari belakang. Tidak jadi membuka mata, gadis itu dibuat takut setengah mati.


Hanya beberapa detik saja, kuncian lengan tersebut sudah terlepas lagi. Mengira Ashley telah menyelamatkannya, Bellena akhirnya membuka mata dan menoleh ke belakang.


Bukannya si kurir, ia justru mendapati nonanya berdiri sambil melihat ke beberapa titik, dengan pisau di tangan.


Apakah wanita ini baru saja menyandera pelayannya sendiri?

__ADS_1


Tidak mempedulikan mental bawahannya, Ashley sibuk mencari keberadaan pria tersebut. Tidak ingin percaya bahwa orang itu hanya penduduk biasa, ia masih mencurigainya tengah bersembunyi di suatu tempat.


Sangat sepi. Sama seperti saat mereka pertama datang, tidak ada orang lain di sana selain dirinya dan bawahannya. Kurir tersebut seolah lenyap begitu saja dalam kegelapan.


Perlahan melangkahkan kaki, Ashley berjalan mendekati kafe diikuti oleh Bellena. Dengan tangan kanan menggenggam erat tongkat andalanya dan tangan kiri berbekal sebuah pisau ia maju sekangkah demi selangkah.


Tetap tidak terjadi apa-apa.


Bahkan sampai mereka tiba di depan pintu kafe, Ashley tidak merasakan atau mendengar apa pun.


Menggerakan kepalanya, Ashley memerintahkan Bellena untuk mengecek kunci yang berada di bawah keset selagi dirinya berjaga mengawasi sekeliling. Bergegas melaksanakan perintah nonanya, dibukalah keset tersebut oleh Bellena, menampakkan fakta yang telah mereka harap-harapkan.


Menoleh ke atas hendak melapor, Ashley sudah terlebih dulu melihat 'laporan' tersebut dengan mata kepalanya sendiri.


Kuncinya lenyap.


Itu berarti pria tersebut benar adalah si kurir dan ia telah masuk ke dalam perangkap yang mereka siapkan.


Menyeringai. Senyum jahat Ashley terlepas dengan bebas tanpa halangan. Hal yang membuat Bellena entah mengapa juga ikut tersenyum.


Meletakan telunjuknya di bibir, Ashley perlahan melangkah mendekati pintu. Bellena pun menutup mulutnya sambil mengangguk. Ia kemudian berdiri dan memberi jalan kepada nonanya.


Masuklah mereka perlahan, hendak memberi kejutan kepada pria yang juga baru saja masuk. Terdapat sebuah lonceng pada bagian atas pintu tersebut, membuat Ashley harus membukanya dengan sangat pelan.


Sesaat setelah pintu terbuka, terdengar suara ribut dari lantai atas. Kerusuhan yang jelas ditimbulkan dari pertemuan atara dua orang pria di dalam ruangan kosong yang gelap.


Tidak perlu mengendap-endap lagi, Ashley dan Bellena langsung masuk dan menutup pintu tersebut.


Mengetahui ada yang masuk, kurir itu pun mencoba melarikan diri. Dengan semua jendela berterali di sana, ia tidak memiliki jalan lain selain melewati pintu belakang.


Mendengar seseorang berlari dari lantai atas, Ashley pun berdiri di depan tangga, menyambut kedatangan tamu spesialnya.


"Hai, bisa bicara bentar?" Tanya Ashley ramah.


Beruntung banginya itu adalah tangga lorong, sehingga kurir tersebut tidak bisa memotong jalan.

__ADS_1


Namun hal yang sama juga dirasakan pria tersebut. Beruntung orang yang menghalangi jalannya adalah seorang wanita, sehingga ia tidak perlu memikirkan jalan lain.


Satu hal yang ia tak tahu,


Tanpa menunjukan tanda akan berhenti pria itu berlari menghampiri Ashley dengan kekuatan penuh. Saat telah berada di depan wanita yang hanya diam menunggu tersebut, tangannya terulur, berniat mendorongnya ke samping sekuat tenaga.


Sedikit mengangkat lengan kanannya, Ashley membiarkan tangan kanan pria itu masuk, sebelum kemudian menjepit dan melilitkan lengannya seperti ular. Memanfaatkan daya dorong musuhnya, ia mendorong pria tersebut ke samping memutari dirinya.


Jatuh dalam posisi tengkurap dengan satu lengan terkuci, wajah dan dada kurir itu menghantam meja dan kursi kafe secara langsung, sebelum akhirnya mendarat di lantai.


berbeda dengan Alais,


Berlutut menindih pria tersebut, Ashley membuat targetnya tidak bisa melarikan diri. Lalu tanpa basa-basi sama sekali, sambil menekan kepala si kurir, wanita pirang itu mematahkan pundaknya.


Ashley sangat tidak berperikemanusiaan.


Jeritan penuh rasa sakit pun terdengar hingga keluar. Suara mengerikan yang membuat Bellena tidak berani berpindah dari pos penjagaannya di pintu belakang.


"Can we talk now?"


Dengan ekspresi wajah tak berdosa, Ashley kembali menanyakan hal tersebut. Namun rasa sakit yang laki-laki itu rasakan sangatlah tidak tertahankan, hingga membuatnya panik dan tidak bisa fokus, apalagi diajak bicara.


Melihat isakan tangis tiada henti orang tersebut, sejujurnya Ashley merasa kecewa. Sebagai orang yang berani memasuki dunia gelap, seharusnya ia lebih tangguh dan bukannya menunjukan sikap menyedihkan seperti ini.


Jika semua bawahan Far seperti ini, maka itu hanya akan membuat Ashley jauh lebih kecewa.


Mengambil dan langsung menancapkan pisaunya tepat di depan wajah kurir tersebut, Ashley berhasil mengembalikan kesadaran orang itu. Ditariknya kemudian rambut si kurir hingga ia terdongak kesakitan.


Sambil mendekatkan wajahnya, Ashley pun berkata,


"Bawa gua ke tempat bos lo, bisa?"


Namun tidak seperti yang ia rencanakan. Sekali lagi, wanita itu harus dihadapkan pada sebuah jembatan putus dengan siluet seorang pria yang tertawa menghinanya dari sisi lain tebing


"Baj***an."

__ADS_1


.................. Bersambung .................


__ADS_2